Moskow (ANTARA News) - Rusia kepada Amerika Serikat, Kamis, menyatakan mendukung kehadiran PBB di Suriah. Jika PBB keluar dari negara Timur Tengah akan berdampak buruk parah mengingat negara Islam itu di ambang perang saudara.

Dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Wendy Sherman, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Gennady Gatilov, menekankan keperluan mempertahankan kehadiran PBB di Suriah. Departemen Luar Negeri Rusia menyatakan itu.

Amerika Serikat mengatakan, pengamat PBB tak bersenjata seharusnya tidak tetap berada di Suriah melampaui batas waktu 19 Agustus. Tetapi Washington bersedia mempertimbangkan kehadiran alternatf PBB di negara itu untuk menangani konflik 17-bulan yang mematikan.

Satu serangan udara Suriah menewaskan 30 orang di kota yang dikuasai pemberontak, Rabu, kata seorang dokter setempat. Juga terjadi penculikan massal terkait orang Suriah di negara tetangga, Lebanon, yang menguak pelebaran konflik sektarian di kawasan.

Warga negara Turki dan Arab Saudi, pendukung utama pemberontakan muslim Sunni, termasuk di antara mereka yang diculik kelompok Syiah Lebanon, diminta negara-negara Teluk untuk mendesak penduduk meninggalkan Lebanon.

Hal ini juga menggarisbawahi bagaimana konflik Suriah tersebar ke wilayah sepanjang garis sektarian pada saat negara-negara kuat dunia tetap menemui jalan buntu menghadapi krisis itu.

Dokter Mohammad Lakhini mengatakan di satu rumah sakit di Azaz, di utara dekat perbatasan Turki, sejumlah orang terluka dalam serangan yang dilakukan oleh angkatan udara al-Assad.

Observatorium oposisi Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan puluhan tewas. Salah satu aktivis di kota itu mengatakan sedikitnya 30 mayat telah ditemukan dan tim penyelamat sedang mencari yang lain.

(H-AK/B002)