Sabtu, 26 Juli 2014

Hatta: RAPBN 2013 untuk perkuat perekonomian domestik

Jumat, 17 Agustus 2012 22:51 WIB | 4.692 Views
Hatta: RAPBN 2013 untuk perkuat perekonomian domestik
Menko Perekonomian Indonesia Hatta Rajasa (ANTARA)
Jakarta (ANTARA News) - Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan RAPBN 2013 sebagai instrumen kebijakan fiskal memiliki fungsi untuk memperkuat perekonomian domestik serta makna strategis dalam memecahkan berbagai masalah dan tantangan perlambatan perekonomian dunia.

"RAPBN 2013 juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam menampung langkah-langkah antisipatif untuk mengatasi krisis," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat.

Hatta memaparkan kondisi perekonomian tahun depan yang diperkirakan akan lebih baik apabila dibandingkan 2012 yaitu dengan adanya potensi pertumbuhan ekonomi global 2013 yang diperkirakan meningkat ke level 3,9 persen.

"Peningkatan pertumbuhan didorong oleh peningkatan pertumbuhan negara maju dan berkembang yaitu masing-masing sebesar 1,9 persen dan 5,9 persen," ujarnya.

Peningkatan tersebut, lanjut Hatta, juga diiringi perbaikan aktivitas perdagangan dunia yang diprediksi tumbuh sebesar 5,1 persen dibandingkan tahun 2012 yang hanya diperkirakan mencapai 3,8 persen.

Namun, pemulihan global tersebut masih dibayangi tekanan ekonomi karena tingginya utang pemerintah di kawasan Eropa yang dapat menjadi hambatan bagi upaya stimulus yang dibutuhkan negara-negara di kawasan tersebut.

"Kegiatan investasi dan arus modal diperkirakan belum dapat pulih sepenuhnya sebagai dampak diturunkannya peringkat kredit beberapa negara Eropa pada 2012," tutur Hatta.

Kemudian, menurut Hatta, ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan yang disertai faktor-faktor spekulasi dan geopolitik telah menyebabkan lonjakan harga minyak mentah dunia ke tingkat yang sangat tinggi.

"Dalam beberapa tahun terakhir, harga komoditas minyak mentah dunia telah menunjukkan fluktuasi yang cukup besar," ujarnya.

Untuk itu, dalam menghadapi situasi tersebut, pemerintah menetapkan 11 prioritas nasional dalam rencana kerja yang menekankan pentingnya penguatan daya saing dan daya tahan perekonomian domestik untuk mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat.

Priotitas tersebut adalah reformasi birokrasi dan tata kelola, pendidikan, kesehatan, penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan, infrastruktur, iklim investasi dan usaha, energi, lingkungan hidup dan pengelolaan bencana, daerah tertinggal, terdepan, terluar dan pasca konflik serta kebudayaan, kreativitas dan inovasi teknologi.

"Disamping itu, terdapat tiga prioritas lainnya dalam bidang politik, hukum, dan keamanan, bidang perekonomian dan bidang kesejahteraan rakyat," papar Hatta.

Pemerintah dalam sasaran pembangunan nasional 2013 juga menekankan empat isu strategis yaitu pertama adanya peningkatan daya saing melalui peningkatan iklim investasi dan usaha, percepatan pembangunan infrastruktur, peningkatan pembangunan industri di berbagai koridor ekonomi dan penciptaan kesempatan kerja.

"Dalam tahun 2013, sasaran kita menurunkan tingkat pengangguran terbuka menjadi sekitar 5,8 persen-6,1 persen," ujarnya.

Isu strategis kedua adalah peningkatan daya tahan ekonomi, antara lain melalui peningkatan ketahanan pangan menuju pencapaian surplus beras 10 juta ton pada 2014 serta peningkatan rasio elektrifikasi dan konversi energi.

Isu strategis ketiga, peningkatan dan perluasan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan pembangunan sumber daya manusia dan percepatan pengurangan kemiskinan.

"Sasaran kita untuk 2013 adalah menurunkan tingkat kemiskinan menjadi skeitar 9,5 persen-10,5 persen," ucapnya.

Kemudian, isu strategis terakhir, lanjut Hatta, adalah pemantapan keamanan nasional dan stabilitas sosial politik melalui persiapan pemilu 2014, perbaikan kinerja birokrasi dan pemberantasan korupsi serta percepatan pembangunan minimum "essential force" Tentara Nasional Indonesia.

Dengan mempertimbangkan besarnya tantangan, Hatta menambahkan, pemerintah akan tetap mendorong stimulus fiskal yang terukur dalam upaya memacu pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Selain itu, sebagai upaya untuk menjaga kesehatan dan kesinambungan fiskal, pemerintah dalam RAPBN 2013 akan menempuh strategi mengendalikan defisit anggaran pada tingkat yang aman dan menurunkan rasio utang terhadap PDB dalam batas yang "manageable".

"Sasaran tersebut akan dicapai melalui upaya-upaya untuk mengembangkan secara optimal sumber-sumber pendapatan negara dengan tetap menjaga iklim usaha, menjaga disiplin anggaran dan melaksanakan kebijakan pinjaman pemerintah yang prudent," kata Hatta.

Sedangkan upaya untuk mendorong peran APBN sebagai stimulus pembangunan akan dilakukan dengan meningkatkan kualitas belanja negara melalui langkah-langkah efisiensi berbagai jenis belanja yang kurang produktif, menghilangkan sumber kebocoran, memperlancar penyerapan anggaran serta meningkatkan anggaran infrastruktur untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

Untuk itu, dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi global dan domestik terkini, kerangka ekonomi makro yang sekaligus menjadi asumsi dasar basis perhitungan besaran RAPBN 2013 adalah pertumbuhan ekonomi 6,8 persen, laju inflasi 4,9 persen, suku bungan SPN 3 bulan 5 persen dan nilai tukar rupiah Rp9.300 per dolar AS.

Kemudian, harga minyak mentah Indonesia 100 dolar AS per barel, "lifting" minyak dan gas bumi Indonesia sebesar 2.260 ribu barel setara minyak yang meliputi "lifting" minyak bumi 900 ribu barel per hari dan "lifting" gas bumi yang mulai dimunculkan sebagai asumsi dasar baru sebesar 1.360 ribu barel setara minyak per hari.

Sementara dalam postur RAPBN 2013 diputuskan Pendapatan Negara direncanakan sebesar Rp1.507,7 triliun yang terdiri atas penerimaan perpajakan Rp1.178,9 triliun, penerimaan negara bukan pajak Rp324,3 triliun dan penerimaan hibah Rp4,5 triliun.

Dengan penerimaan perpajakan tersebut, maka rasio penerimaan perpajakan pusat terhadap PDB atau tax ratio meningkat dari 11,9 persen dalam APBN-P 2012 menjadi 12,7 persen pada tahun 2013.

Sedangkan, Belanja Negara direncanakan sebesar Rp1.657,9 triliun yang terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp1.139 triliun dan transfer ke daerah Rp518,9 triliun.

Dengan perkiraan tersebut, maka defisit anggaran dalam RAPBN 2013 direncanakan sebesar Rp150,2 triliun atau 1,62 persen terhadap PDB yang berarti turun dari target dalam APBN-Perubahan 2012 sebesar 2,23 terhadap PDB.

Sementara, pembiayaan anggaran RAPBN 2013 direncanakan berasal dari sumber-sumber pembiayaan dalam negeri Rp169,6 triliun dan pembiayaan luar negeri (neto) negatif Rp19,4 triliun.

Dengan langkah tersebut, rasio utang pemerintah terhadap PDB diperkirakan menjadi sekitar 23 persen pada akhir 2013 yang lebih rendah dibandingkan dengan rasio utang pemerintah negara-negara berkembang lainnya.
(T.S034/C004)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga