Kamis, 21 Agustus 2014

Peninggalan Belanda di Batanghari terbengkalai

Sabtu, 18 Agustus 2012 12:22 WIB | 3.443 Views
Peninggalan Belanda di Batanghari terbengkalai
Perawatan secara berkala terhadap suatu bangunan bersejarah, hal ini yang diperlukan pada peninggalan Belanda di Pasar Tembesi Lama Kabupaten Batanghari (ANTARA/ Wahyu Putro A)
Jambi (ANTARA News) - Kota tua berisi bangunan bersejarah seperti benteng, markas tentara, kantor pos, dan sel penjara Belanda di kelurahan Pasar Tembesi Lama kabupaten Batanghari terbengkalai.

``Kelurahan ini dulunya adalah kota tua yang didirikan Belanda, cikal bakal kota Tembesi yang sekarang berada di Jalan Lintas Sumatera Jalur Tengah (Jalinteng), hampir semua bangunan tua di sini dulunya dibangun penjajah Belanda dan sebenarnya menjadi bangunan peninggalan sejarah penting bagi kabupaten Batanghari dan provinsi Jambi,`` kata salah seorang saksi sejarah, Bustomi alias Bujang di Jambi, Sabtu.

Dikatakannya, di antara bangunan bersejarah tersebut ada benteng, markas tentara kompeni Belanda, kantor pos, dermaga, los pasar tua, rumah-rumah dan sel penjara yang kesemuanya kondisinya kini tidak terjaga dan terawat dengan baik lagi.

``Kondisi ini terjadi semenjak kota kecil ini ditinggal penduduknya yang berpindah atau eksodus ke lokasi kota yang baru di kembangkan pemerintah daerah di Jalinteng yang kondisinya memang lebih ramai seiring perkembangan zaman dan beralihnya jalur transportasi masyarakat dari sungai ke jalan raya,`` kata Bujang.

Kondisi peralihan itu terjadi semenjak awal tahun 1980-an saat a kota Tembesi yang kini menjadi kota transit penting di Batanghari dibangun dan penduduk pasar Tembesi Lama melakukan eksodus ke lokasi baru tersebut.

``Bukti bangunan-bangunan tua di kota lama ini sebagai benda sejarah perjuangan bangsa yang penting adalah telah dibangunnya tugu perjuangan di kota lama yang kini berstatus kelurahan tersebut, namun tugu setinggi 4  5 meter berupa konstruksi tiga batang bambu runcing itu pun saat ini kondisinya sudah tidak terawat dan mulai rusak,`` ujar Bujang yang kini menetap di kota Jambi.

Lebih jauh disampaikannya salah satu banguna terpenting di kota tua tersebut adalah bangunan kantor pos, yang di halamannya tempat didirikan tugu perjuangan, dimana di bangunan itu dulu pada tahun 1949 wakil presiden pertama RI Mohamad Hatta dalam lawatannya ke Kerinci sempat singgah dan menginap di kantor pos tersebut sebelum melanjutkan perjalanan lawatannya.

Kondisi memprihatinkan sangat kentara pada benteng peninggalan belanda yang dulu berupa markas tentara yang di sekelilingnya dipagari kawat duri, kini telah berubah menjadi rumah hunian atau tempat indekos warga.

``Begitu juga dengan bangunan sel penjara yang sangat bersejarah karena pada masa berkuasanya Belanda adalah tempat mengurung warga pribumi dan pada masa perang kemerdekaan direbut TRI dan menjadi penjara bagi tentara Belanda dan tentara Gurkha dari sekutu, ada banyak korban eksekusi mati di penjara ini dulunya,`` ungkapnya.

Kini banguna sel penjara yang ditempati satu keluarga tersebut menjadi pangkalan minyak tanah sebagai usaha warga yang menempati, sementara belasan sel-sel di atas rumah panggung papan berukuran 1,5 m X 2 m tersebut hanya dikunci dan ditutup rapat karena warga yang menunggu bangunan tersebut mengaku sering diganggu oleh aura mistis.

``Selain itu bangunan utama sel tersebut kini juga menjadi sekreatariat salah satu LSM,`` ujar Bujang.

Sementara bangunan lain seperti los-los pasar yang sebenarnya dibangun rapi, kini menjadi los tak teraawat yang digunakan sebagian warga yang kini mendiami kota tersebut.

``Dulu Belanda memilih kota ini karena letaknya yang sangat strategis dimana dia berada di mulut pertemuan dua sungai utama Batanghari yakni dari sungai batanghari dan Batang Merangin, sementara sungai pada zaman dulu adalah jalur transportasi utama masyarakat Jambi sebelum pada tahun 60-an mulai dibukanya jalan darat, dari sini Belanda bisa leluasa memantau arus lalulintas keluar masuk warga dari arah Jambi ke daerah huluan atau sebaliknya,`` katanya.


(ANT-144)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga