Sabtu, 1 November 2014

Teknologi Beyonic tingkatkan produksi pertanian

| 6.081 Views
id teknology beyonic, lahan produktif, lahan subur, lahan pertanian, sawah
Teknologi Beyonic tingkatkan produksi pertanian
(DItjen SDA Kemen PU)
Jakarta (ANTARA News) - Selama ini, upaya peningkatan kapasitas produksi pertanian masih mengandalkan pupuk sintesis dan pestisida kimia sebagai komponen utama.

Penggunaan pupuk tersebut bukan tanpa masalah. Tengok saja, penggunaannya yang berlebihan berpotensi merusak ekosistem dan kualitas tanah.

Imbasnya adalah kemerosotan kapasitas produksi pertanian yang berdampak luas bagi ketahanan pangan nasional.

Penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperlihatkan bahwa penggunaan senyawa kimia (terutama pestisida) secara berlebihan mengakibatkan kepunahan beberapa serangga penyerbuk tanaman sehingga produksi tidak optimal.

Sebagai solusi permasalahan tersebut, LIPI mengembangkan teknologi beyonic, yaitu teknologi berbasis mikroba lokal pada pupuk organik.

Teknologi beyonic adalah salah satu jalan keluar untuk mengatasi penurunan kualitas lahan akibat penggunaan pupuk sintesis dan pestisida kimia.

Teknologi tersebut meminimalisasi pemakaian senyawa kimia sintesis sehingga kualitas lahan tetap terjaga.

Mikroba lokal

Prof. Dr. Endang Sukara, Wakil Kepala LIPI menjelaskan, teknologi beyonic ialah suatu teknologi yang dikembangkan berbasis dan bertumpu pada karakter mikroba (lokal) koleksi LIPI.

Mikroba lokal tersebut diramu dalam bentuk konsorsium sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.

Mikroba lokal, disebut mikroba indigenous merupakan mikroba yang sudah hidup ratusan tahun dalam ekosistem Indonesia, yang beradaptasi baik dengan ekosistemnya.

Lebih lanjut, Beyonic merupakan teknologi berbasis pemanfaatan mikroorganisme guna meningkatkan produksi pertanian, memulihkan ekosistem akibat eksploitasi alam (pertambangan), menurunkan toksitas limbah beracun dan meningkatkan kesehatan tanaman.

Beyonic yang merupakan singkatan dari beyond bio-organic, adalah teknologi yang menjadikan pupuk organik sebagai pupuk penyubur tanaman sekaligus menjadi pupuk yang bisa dimanfaatkan untuk memulihkan kualitas lahan bekas penggalian tambang.

Teknik yang dipakai dalam teknologi ini adalah dengan memperbanyak mikroba lokal sehingga bisa diimbuhkan pada pupuk organik.

Jenisnya seperti mikroba pelarut fosfat untuk membantu kelarutan posta organik dan fosfat yang tidak mudah larut dan mikroba penambat nitrogen yaitu mikroba yang mampu menambat nitrogen bebas.

Disamping itu, diberikan pula mikroba penghasil hormon pertumbuhan dan metabolit sekunder yang menghambat pertumbuhan penyakit tanaman.

Ditambahkan pula mikroba pemicu produksi unsur besi serta mikroba yang mampu melakukan biotransformasi logam berat sehingga menurunkan toksisitas (racun) pada lahan.

Teknologi yang digunakan untuk memperbanyak mikroba tersebut adalah fermentor dan teknologi inokulasi mikroba.

Mikroba lokal adalah mikroba yang telah diketahui validitas jenisnya dan disimpan di dalam kultur koleksi. Di antaranya, adalah Azospirillium, Azotobacter, Rhizobium, Mikroriza dan mikroba tanah yang menghasilkan senyawa metabolit sekunder untuk kesehatan tanaman, seperti Bacillus.

Penggunaan teknologi beyonic ini diharapkan bisa membantu petani meminimalisasi penggunaan senyawa kimia sehingga kualitas lahan terjaga yang berujung pada peningkatan kapasitas produksi.

Selain Beyonic, ada beberapa pupuk produksi LIPI telah beredar di pasaran, seperti: Seri BioPoska, Kompenit@ (produksi Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor), Biomat (produksi UPT Balai Litbang Biomaterial), Biorhizin, Kedelai Plus, BioVam (produksi Pusat Penelitian Bioteknologi), Biosmik, Azofor, katalek dan StarTmik (produksi Pusat Penelitian Biologi).

(Advertorial/Humas BKPI-LIPI)

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Top News
Baca Juga