Selasa, 23 Desember 2014

10 detik berguncang, satu nyawa melayang

| 6.440 Views
id gempa kulawi dan gumbasa, sulawesi tengah, pengungsi, korban meninggal
Sabtu (18/8) sore, ratusan warga perbatasan Kecamatan Kulawi dan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawsi Tengah, sedang menyiapkan buka puasa terakhir serta bergegas menyambut Idul Fitri 1433 Hijriah.

Tiba-tiba, pada pukul 17.41 WITA, bumi berguncang keras. Rumah-rumahpun bergoyang. Tuhan sedang menunjukkan kekuasaannya dengan mengguncang bumi berkekuatan 6,2 pada skala Richter.

Guncangan sekitar 10 detik itu membuat panik warga Kecamatan Kulawi dan sekitarnya.

Gempa bumi berkedalaman 10 kilometer juga dirasakan di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Parigi Moutong, meski jaraknya lebih dari 100 kilometer.

Meski, hanya diguncang selama 10 detik, ternyata kabar pilu terdengar adanya seorang bocah berusia sembilan tahun meninggal dunia terkena reruntuhan rumah.

Ronal, bocah asal Desa Pakuli mengalami luka parah di bagian kepala dan dinyatakan meninggal beberapa saat kemudian.

Kesedihan semakin terasa mengingat saat itu, sebagian besar warga sedang bersiap menyambut Idul Fitri.

Kecamatan Kulawi dan Gumbasa adalah daerah terparah akibat gempa bumi tektonik itu.

Sejumlah desa di kedua kecamatan itu dilaporkan masih terisolasi karena reruntuhan bangunan dan longsoran tanah yang menutupi jalan.

Sebelum gempa bumi terjadi, hujan melanda Kabupaten Sigi sehingga membuat tanah menjadi gembur dan mudah longsor.

Sigi adalah adalah daerah terparah yang mengalami kerusakan akibat gempa. Sebanyak 30 rumah dilaporkan rusak berat dan sekitar 70 rumah rusak ringan.

Selain seorang meninggal dunia, tiga korban yang juga masih tergolong anak-anak mengalami cidera serius dan harus dirawat di RSUD Undata Palu yang jaraknya sekitar 70 kilometer dari tempat kejadian.

Selain itu, terdapat puluhan orang yang mengalami luka ringan dan sudah mendapat pertolongan oleh tim medis.

Warga yang cidera itu sebagian besar terkena reruntuhan rumah. Rumah milik warga pada umumnya terbuat dari kayu sehingga mudah rubuh jika diguncang gempa.


Mengungsi

Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi Resmin Rase mengatakan, saat ini terdapat ratusan orang yang mengungsi di sebuah tanah lapang.

Di lapangan tersebut dibangun sejumlah tenda untuk para korban yang selamat.

Saat ini kondisi di daerah bencana dilaporkan gelap gulita karena jaringan listrik di daerah itu juga terputus akibat gempa.

Resmin mengatakan, pihaknya segera membuka akses jalan yang tertutup longsor dan runtuhan bangunan agar bisa segera menyalurkan bantuan.

Dia berharap masyarakat tidak berlarut dalam kesedihan mengingat esok hari adalah Hari Raya Idul Fitri.

Warga perbatasan Kecamatan Kulawi dan Kecamatan Gumbasa tidak semuanya muslim, banyak juga warga yang beragama Kristen.

Di saat terjadi bencana alam seperti itu mereka akan bahu-membahu mengatasi masalah agar cepat selesai.

Resmin mengakui, sebagian besar warga masih trauma karena setelah gempa utama terjadi beberapa kali gempa susulan yang membuat warga khawatir.

Sementara itu, di Kota Palu yang berjarak sekitar 70 kilometer dari pusat gempa bumi, ribuan warga Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah ini bersuka ria menyambut datangnya Idul Fitri, 1 Syawal 1433 Hijriah.

Pawai keliling menggunakan kendaraan menyusuri jalan-jalan utama di Kota Palu sambil mengucapkan takbir, tahlil dan tahmid. Letusan kembang api yang memancarkan cahaya di langit juga menambah semarak malam Lebaran.

Kondisi itu jelas berbeda dengan apa yang terjadi di Kecamatan Gumbasa dan Kecamatan Kulawi.

Pemandangan di lokasi bencana gelap gulita tanpa kilatan cahaya kembang api. Letusan kembang api mungkin mengganti tangisan korban bencana yang kehilangan anggota keluarga atau tempat tinggal.

Sholat Idul Fitri belumlah dimulai, sang khotib juga belum naik di atas mimbar. Kesempatan untuk memberikan zakat fitrah masih terbuka lebar untuk membantu sesama. (R026/K007)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga