Kuala Lumpur (ANTARA News) - Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada Minggu mengatakan, pihaknya memperpenjang hukuman sementara yang dijatuhkan pada mantan kandidat presiden FIFA, Mohamed bin Hammam, selama 20 hari.

Hal ini terjadi ketika pria Qatar itu masih menjalani larangan beraktivitas yang terkait sepak bola selama tiga bulan oleh komite etika FIFA pada 16 Juli, yang menunda proses penyelidikan terhadap keuangan AFC.

Bin Hammam, yang sebelumnya telah digantikan setelah sembilan tahun menjabat sebagai presiden AFC, pada awal bulan ini mendapat sanksi 30 hari oleh AFC, menyusul audit eksternal terhadap pembukuan sepanjang dirinya menjabat posisi tersebut.

Pria Qatar ini mendapat hukuman seumur hidup dari sepak bola pada tahun lalu, setelah dinyatakan bersalah karena melakukan penyuapan, oleh panel komite etika FIFA, saat ia melakukan kampanye untuk menduduki jabatan presiden di badan sepak bola dunia tersebut.

Hukuman bin Hammam dicabut oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) pada 19 Juli, setelah bandingnya diterima dengan dasar kekurangan bukti.

AFC mengatakan dalam pernyataannya pada Minggu, bahwa komite disiplin memutuskan pada 15 Agustus untuk memperpanjang hukuman sementara terhadap bin Hammam, yang dituduh menawarkan uang tunai dalam upayanya melengserkan presiden FIFA, Sepp Blatter.

Bin Hammam menepis tuduhan bahwa dirinya melakukan hal yang curang, dengan menyebutkan bahwa uang yang diberikannya saat melakukan kampanye pemungutan suara merupakan hadiah.

Pria 63 tahun ini, yang menjadi ujung tombak pada keberhasilan Qatar memenangi hak menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, menyebutkan bahwa tuduhan dan hukuman yang dijatuhkan kepadanya oleh FIFA bermotif politis.

Kasus bin Hammam mendapat sorotan karena memperlihatkan terjadinya korupsi di olahraga global ini, dan membuat banyak pihak menyuarakan tuntutan agar FIFA melakukan reformasi struktur pemerintahan. (RF/Z002)