Kabul (ANTARA News) - Afghanistan tidak akan meledak menjadi perang saudara setelah penarikan pasukan tempur Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam dua tahun atau Taliban kembali berkuasa, kata diplomat tinggi NATO pada Senin.

Keberangkatan sebagian besar pasukan Amerika Serikat dan NATO pada akhir 2014 memicu perkiraan suram atas pasukan "perang saudara", yang didukung Pakistan dan India.

Tapi, perwakilan tinggi warga NATO, Simon Gass, menolak perkiraan itu, dengan alasan bahwa pasukan keamanan Afghanistan terlalu kuat untuk Taliban dan kekuatan kawasan tidak berminat "hari gelap" pada 1990-an itu kembali.

"Saya betul-betul tidak sepakat dengan naskah itu. Saya pikir beberapa orang tertarik dengan skenario itu, karena terlihat seperti sejarah menulis ulang dirinya," kata Gass kepada AFP dan Fox News dalam wawancara di Kabul.

"Saya pikir itu tidak akan terjadi. Salah satu alasan itu tidak akan terjadi ialah tetangga Afghanistan menyadari sejumlah besar masalah, yang akan mereka hadapi jika Afghanistan jatuh ke tingkat perang tetap dan kekacauan," katanya.

Perang saudara penuh akan menghasilkan aliran besar pengungsi keluar dari Afghanistan, katanya.

"Saya pikir tidak ada tetangga Afghanistan akan menyambut keguncangan di wilayah ini, yang akan dipicu naskah semacam itu," katanya.

Ia menyatakan pemimpin Afghanistan dari semua bagian negara itu sangat ingin menghindari pengembalian kekerasan dan pertumpahan darah pada 1990-an.

"Ada hal cukup kuat. Saya akan menggambarkan sebagai kengerian atas pemikiran kembali ke tahun gelap, 1992 dan 1993, ketika perang saudara berkecamuk dan peluru jatuh di Kabul. Tak seorang pun ingin kembali ke sana," katanya.

Meskipun ia mengakui perlawanan Taliban tetap tangguh, yang dapat melancarkan pemboman dan serangan mengganggu, ia menyatakan pejuang itu tidak bisa mengalahkan pasukan pemerintah Afghanistan dalam bentrok langsung.

"Saya tidak tahu siapa berpikir Taliban memiliki kekuatan tentara untuk mengalahkan pasukan keamanan Afghanistan," kata Gass, diplomat Inggris dan mantan duta besar untuk Iran.

"Taliban tidak lagi memiliki kemampuan kembali ke Hiluxes mereka dan mendorong kembali ke Kandahar. Itu tidak mungkin," katanya, mengacu pada bekas kubu kelompok tersebut.

Ia mengatakan bahwa untuk kembali berkuasa, Taliban harus besar.

"Jika besar, Taliban dapat dipukul. Itu masalah mendasar mereka. Anda tidak dapat membayangkan mereka berhasil melawan ANSF (pasukan keamanan Afghanistan) di medan perang," katanya.

Tapi, ia mengakui bahwa pejuang Haqqani, yang melancarkan serangan di Afghanistan timur dari perlindungan di wilayah Pakistan, tetap menjadi ancaman berbahaya, yang memerlukan bantuan Pakistan untuk melawannya, demikian AFP.
(B002/Z002)