Rabu, 27 Agustus 2014

Rusia: pemberontak Suriah dapat banyak senjata barat

Senin, 20 Agustus 2012 23:20 WIB | 7.517 Views
Moskow (ANTARA News) - Rusia pada Senin menyatakan terdapat banyak bukti bahwa pemberontak Suriah memperoleh jumlah besar senjata buatan Barat, menunjukkan Amerika Serikat dan negara Eropa membantu mengobarkan kekerasan abadi di negara terbelah itu.

Tanggapan Wakil Menteri Luar Negeri Gennady Gatilov itu menggemakan suara menyatakan negara Barat dan Arab gagal mengakhiri kemelut melalui diplomasi, seperti rencana perdamaian mantan penengah Kofi Annan.

Barat menuduh Moskow memungkinkan Presiden Suriah Bashar Assad bertindak dengan pembiaran dengan berulang kali memveto resolusi PBB untuk menekan pemerintah Suriah, yang membeli hampir satu miliar dolar senjata dari Rusia pada tahun lalu.

"Semakin banyak bukti, termasuk di media, bahwa lawan Suriah secara besar-besaran dipasok senjata buatan Barat melalui negara ketiga," kata Gatilov di Twitter-nya. Ia tidak merinci.

Amerika Serikat dan Inggris menyatakan mememberi bantuan tak mematikan kepada memberontak, seperti, sarana perhubungan, tapi bukan senjata. Arab Saudi dan Qatar, dua lawan kuat Arab terhadap Assad, diyakini mendanai aliran senjata untuk pemberontak.

Dalam mengumumkan undur dirinya sebagai utusan perdamaian pada akhir bulan lalu, Annan menyatakan menunjuk dan menyebut nama membuat kebuntuan atas kemelut itu, yang meluncur lebih dalam ke perang saudara setelah 17 bulan kekerasan.

Rusia sangat menentang campur tangan asing di Suriah dan terus mendukung rencana perdamaian enam pasal usul Annan. Moskow berulangkali minta Barat dan Arab menekan pemberontak untuk menghentikan pertempuran.

Tanggapan Komentar Gatilov itu muncul beberapa hari setelah laporan PBB, yang menilai bahwa pasukan Assad dan pemberontak, yang secara luas mendapat dukungan Barat dan sebagian besar negara teluk Arab, melakukan kejahatan perang.

Pada pekan lalu, Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov menuduh Barat mengingkari kesepakatan dengan membantu membuat pemerintah peralihan di Suriah dan memperpanjang pertumpahan darah dengan mendorong pemberontak terus melawan.

Pengamat tentara PBB meninggalkan Damaskus pada Senin setelah bertugas empat bulan, saat mereka menjadi penonton tak berdaya atas pusaran kemelut itu, bukan memantau gencatan senjata antara pasukan Assad dengan pemberontak.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton pada awal bulan ini menyatakan Amerika Serikat dan Turki mengaji semua langkah untuk membantu pemberontak Suriah, termasuk daerah larangan terbang di sana saat kemelut mendalam.

Lavrov dalam wawancara dengan Sky News Arabia terbitan Sabtu menyatakan setiap upaya menggunakan pertimbangan kemanusiaan sebagai dalih membangun daerah larangan terbang atau wilayah keamanan di tanah di Suriah "untuk tujuan tentara" tidak dapat diterima.

Beberapa hari setelah Hillary berbicara, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta menyatakan daerah larangan terbang bukan masalah utama dan koran Turki mengutip duta besar Amerika Serikat untuk Ankara mengatakan ada hambatan hukum dan kenyataan pada soal itu, demikian Reuters.
(B002/Z002)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga