Senin, 15 September 2014

Pakar: pemilih Indonesia sering kena "motherhood syndrome"

Selasa, 21 Agustus 2012 23:29 WIB | 4.822 Views
Jakarta (ANTARA News) - Pakar komunikasi politik Henry Subiakto mengatakan pemilih Indonesia seringkali memilih karena efek "motherhood syndrome" dalam pemilihan umum maupun pemilihan kepala daerah.

"`Motherhood syndrome` atau sindrom keibuan adalah sikap memilih yang berdasarkan simpati kepada salah satu calon yang diperlakukan sewenang-wenang atau dikeroyok," kata Henry Subiakto di Jakarta, Selasa.

Hal itu, kata Henry, bisa saja terjadi pada putaran kedua Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012 yang akan diikuti pasangan calon Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dan Joko Widodo-Basuki Cahaya Purnama.

Jokowi -panggilan akrab Joko Widodo- diusung oleh dua partai, yaitu PDI Perjuangan dan Gerindra. Sedangkan partai-partai lain mendukung Foke -panggilan akrab Fauzi Bowo- yang merupakan calon petahana.

"Jokowi yang dikeroyok banyak partai bisa saja justru memenangkan pemilihan gubernur bila terdapat `motherhood syndrome` pada pemilih," katanya.

Apalagi, selama ini Jokowi seringkali diperlakukan "sewenang-wenang" dengan isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) karena dia bukan orang Betawi dan pasangannya, Ahok -panggilan Basuki Cahaya Purnama-, yang bukan seorang Muslim.

"Sebenarnya isu SARA perlu diperjelas. Kalau mengungkap latar belakang kesukuan dan agama salah satu calon, sebenarnya sah-sah saja karena Indonesia merupakan bangsa yang beragam," kata Henry.

Yang bisa dikategorikan isu SARA, kata dia, apabila ada salah satu calon yang dalam kampanyenya menyebarkan permusuhan dan kebencian kepada kelompok tertentu. Mengungkap latar belakang suku atau agama salah satu calon justru bisa semakin mendewasakan pemilih.

"Pemilih harus bisa bersikap dewasa dengan memilih bukan berdasarkan kesukuan atau agama calon, tetapi lebih kepada kemampuannya," katanya.

Dengan diserang dengan berbagai isu negatif itu, dia mengatakan justru Jokowi bisa mendapat simpati dari pemilih Jakarta yang beragam dan bisa memenangkan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012.
(SDP-49/A011)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga