Selasa, 2 September 2014

Harga pisang jadi mahal jelang Galungan

Rabu, 22 Agustus 2012 16:41 WIB | 4.424 Views
Harga pisang jadi mahal jelang Galungan
Seorang umat Hindu akan bersembahyang saat Hari Raya Galungan di Pura Jagatnata, Plumbon, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, tahun lalu. Upacara keagamaan serupa juga terjadi di Bali, yang melambangkan perayaan kemenangan "Dharma" (kebenaran) melawan "Adharma" (kejahatan). (FOTO ANTARA/Noveradika)
Denpasar (ANTARA News) - Harga berbagai jenis pisang di Denpasar, Bali, melambung akibat peningkatan permintaan menjelang Hari Galungan, yang akan dirayakan umat Hindu pada 29 Agustus 2012. Pisang jadi komponen penting dalam caru atau sesajen dalam upacara keagamaan itu.

"Satu tandan pisang susu, pisang raja maupun pisang ijo semula Rp25.000 sekarang naik menjadi kisaran Rp40.000-Rp50.000," kata Gusti Purnami, salah satu pembeli di Pasar Anyar Sari, Denpasar, Rabu.

Setiap hari dia membeli pisang di Pasar Anyar Sari sebanyak satu mobil bak terbuka untuk dijual lagi di Pasar Sukawati, Gianyar, dan Pasar Jimbaran, Badung.

"Sekarang mendekati Galungan ini keperluan meningkat sehingga saya beli dua mobil tiap hari. Bukan berarti keuntungan berlipat karena harga pokok pisang juga naik drastis," katanya, yang sudah 25 tahun berjualan pisang.

Karena harga modal sudah tinggi, dia menjual kembali juga lebih mahal, sampai Rp2.500, padahal semula Rp1.000. Para pembeli sering protes karena kenaikan harga ini. 

Sementara itu Kusnaedi, salah satu penjual pisang di Pasar Anyar Sar,i mengatakan, berbagai jenis pisang didatangkan dari Situbondo, Lumajang, dan Banyuwangi Jawa Timur. Suplai sedikit karena petani pisang masih berlebaran di kampung masing-masing. 

Rata-rata per hari ia mendatangkan hingga dua truk pisang ke Bali. Pisang susu, pisang raja, maupun pisang ijo dengan kualitas standar dijual pertandan seharga Rp40.000-50.000 untuk pembelian grosir dari yang sebelumnya hanya Rp20.000.

Kalau eceran lebih maut lagi, Rp70.000-Rp80.000 setandan. Jika sudah begini, pembeli pisang bisa-bisa berucap kaget, "Hah? mahaaall..."

(KR-LHS/B012) 

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga