Jumat, 31 Oktober 2014

Jepang: saatnya bahas hubungan dengan China

| 3.890 Views
id hubungan jepang-china, china, jepang, sengketa pulau, insiden mobil duta besar jepang, pulau diaoyu, pulau senkaku
Jepang: saatnya bahas hubungan dengan China
Menteri Luar Negeri Jepang Koichiro Gemba (FOTO ANTARA/Kemlu/Suwandy)
Saya berharap bahwa (China) akan menghindari langkah-langkah yang akan memperburuk hubungan
Tokyo (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri Jepang Koichiro Gemba hari ini mengatakan kini adalah saatnya bagi Jepang membahas hubungan dengan China, yang menurun karena sengketa wilayah --ditambah dengan insiden yang diarahkan kepada duta besar Jepang di Beijing.

Insiden perobekan bendera Jepang di mobil yang sedang membawa duta besar Jepang di Beijing, Senin, terjadi di tengah meluasnya unjuk rasa anti-Jepang menyangkut sengketa kepulauan Laut China Timur.

Kepulauan itu oleh China disebut Diaoyu sementara Jepang menyebutnya dengan Senkaku.

Menteri Luar Negeri Jepang Koichiro Gemba menggambarkan insiden tersebut sebagai kejadian yang "sangat disayangkan".

Ia mengatakan dirinya akan mengirim utusan untuk menyampaikan surat kepada Presiden China Hu Jintao.

Gemba menolak memberikan keterangan rinci mengenai isi surat namun ia mengatakan saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk membahas hubungan yang memburuk karena sengketa pulau.

"Saya percaya bahwa kita sekarang harus bertukar pandangan tentang hubungan Jepang-China, baik menyangkut kawasan secara keseluruhan, termasuk semenanjung Korea, juga situasi global," kata Gemba.

Sementara itu Kepala Sekretaris Kabinet, Osamu Fujimura, yang juga juru bicara utama pemerintah, mengatakan bahwa surat kepada Hu itu berisi tentang upaya "membangun hubungan Jepang-China yang stabil berdasarkan pandangan yang luas".

Kendati Tokyo dan Beijing memiliki hubungan perdagangan luas, hubungan keduanya seringkali meledak karena permusuhan historis, terutama masalah penyiksaan pada masa perang yang dilakukan oleh tentara Jepang.

Menteri Keuangan Jepang, Jun Azumi, yang pada pekan lalu mengisyaratkan bahwa Jepang mungkin membekukan rencananya untuk membeli obligasi pemerintah Korea Selatan di tengah pergumulan diplomatik terpisah dengan Seoul, menambahkan, "Saya berharap bahwa (China) akan menghindari langkah-langkah yang akan memperburuk hubungan."

Sementara itu Duta Besar Jepang untuk China, Uichiro Niwa, tidak mengalami luka-luka dalam insiden di Beijing dan kendaraan diplomatik itu sendiri tidak mengalami kerusakan lain selain bendera negara yang dirobek, demikian kata pihak kedutaan Jepang.

Wakil Senior Menteri Luar Negeri Tsuyoshi Yamaguchi diperkirakan akan berangkat ke Beijing pada hari Selasa untuk menyampaikan surat dari Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda kepada Hu.

Amerika Serikat, sekutu dekat Jepang, pada Senin bereaksi terhadap insiden bendera dengan mengatakan pihaknya lebih "menghawatirkan" hubungan antara Jepang dan China, yaitu dua kekuatan ekonomi Asia.

Ketegangan antara kedua negara tetangga itu muncul awal bulan ini setelah sejumlah aktivis pro-Beijing mendarat di salah satu kepulauan yang disengketakan, yang saat ini di bawah kendali Jepang.

Mereka kemudian ditangkap oleh pihak berwenang Jepang dan dideportasi.

Sekitar selusinan warga nasionalis mengibarkan bendera-bendara Jepang di pulau tersebut beberapa hari kemudian.

Ribuan warga China dalam dua pekan terakhir ini melakukan unjuk rasa di lebih dari 20 kota.

Kegiatan usaha, restoran, dan mobil-mobil Jepang di beberapa kota pun menjadi target unjuk rasa.

Pada saat yang bersamaan, Jepang juga sedang terlibat dalam sengketa wilayah dengan Korea Selatan di tengah hubungan yang menegang menyangkut masalah pendudukan semenanjung Korea oleh Jepang pada tahun 1910-1945.

(T008)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga