Sabtu, 25 Oktober 2014

"Karya peneliti Indonesia mulai diperhitungkan"

| 2.900 Views
id profesor sarwono prawirohardjo, peneliti indonesia, pendidikan dan perkembangan ilmu, LIPI
Ilustrasi (ANTARANEWS/Ardika)
suara penulis bangsa Indonesia yang menerbitkan majalah ilmiahnya di berbagai majalah internasional bermutu sudah `terdengar`
Jakarta (ANTARA News) - Penerima Penghargaan Sarwono Prawirohardjo XI, Prof. Soekarja Somadikarta mengatakan saat ini karya peneliti dan ilmuwan Indonesia sudah mulai diperhitungkan di dunia ilmu pengetahuan, riset, dan teknologi internasional.

"Berkat pendidikan yang baik, suara penulis bangsa Indonesia yang menerbitkan majalah ilmiahnya di berbagai majalah internasional bermutu sudah `terdengar`," kata Soekarja Somadikarta saat menyampaikan orasi ilmiahnya di Auditorium Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Selasa.

Prof Soma--panggilan akrab Soekarja Soemadikarta--menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Pendidikan dan Perkembangan Ilmu di Indonesia" sebagai pembicara pada Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture XII dalam rangka ulang tahun LIPI.

Pengakuan dunia ilmu pengetahuan internasional terhadap peneliti Indonesia, kata dia, berbeda dengan pada 1960-an ketika dia baru saja aktif sebagai peneliti.

Saat itu, dia sering ditanya oleh koleganya sesama peneliti dari luar negeri, mengapa para ilmuwan Indonesia tidak "terdengar" suaranya di percaturan dunia ilmu pengetahuan, kecuali dalam ilmu kedokteran.

Padahal, peneliti Indonesia berasal dari negara yang begitu kaya menyimpan bahan-bahan untuk diteliti dan dipublikasikan.

"Saya selalu menjawab, karena pendidikan di zaman kolonial tidak memberikan kesempatan luas kepada kita untuk melakukan hal itu. Pemerintah Hindia Belanda hanya mengutamakan pendidikan tinggi profesional yang diperlukan pemerintah," katanya.

Ia juga mengatakan, saat itu pemerintah Hindia Belanda hanya mengutamakan pendidikan untuk dokter, ahli hukum, dan teknik dengan dibukanya sekolah-sekolah tinggi di bidang tersebut. Sampai 1942, di Hindia Belanda belum ada lembaga pendidikan yang dinamakan `universiteit`.

"Hingga ketika Indonesia merdeka, pemerintah yang disibukkan dengan persoalan negara, politik dan pembangunan tetap waspada bahwa pendidikan rakyat harus ditempatkan pada prioritas tinggi," katanya.

Soma mengatakan hingga akhir 1950, pemerintah mulai mengirimkan mahasiswa ke luar negeri untuk mempelajari ilmu-ilmu dasar sehingga hasilnya bisa dinikmati saat ini.
(SDP-49)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga