Selasa, 26 September 2017

Bunga 'Amorphophallus Titanum' ditemukan di Solok Selatan

| 8.236 Views
Bunga 'Amorphophallus Titanum' ditemukan di Solok Selatan
Bunga Amorphopallus Titanum. (istimewa)
Sekilas bentuknya saat mekar terlihat seperti bunga terompet dengan tumbuh menjulang tinggi
Padang Aro, Sumbar (ANTARA News) - Bunga bangkai jenis Amorphophallus Titanum yang masih kuncup kembali ditemukan di Jorong Timbulun, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan, tepatnya di areal perkebunan karet milik masyarakat setempat.

Kepala Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah IV M Zainudin melalui Polisi Hutan Pelaksana Rika Putra Abas di Padang Aro, Rabu, mengatakan, bunga itu baru berusia sekitar seminggu dan merupakan jenis paling tinggi.

"Bunga itu hanya bisa tumbuh sampai umur 30 hari dan setelah mekar atau setelah mengembang sisa umurnya hanya 10 hari lagi. Melihat kondisinya diperkirakan dalam tiga hari bunga itu akan mekar," katanya.

"Bunga bangkai jenis Amorphopallus Titanum ini merupakan jenis langka dan jarang ditemukan," ujarnya.

Ia mengatakan, bunga bangkai yang ditemukan itu tumbuh sekitar 555 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan 60-65 derajat dan berjarak sekitar 15 kilometer dari TNKS. Bunga itu mempunyai tinggi sekitar tiga meter dan tumbuh di dekat hutan penyangga TNKS yang juga dekat dengan jalan raya. Jenis ini hanya endemik tumbuh di kawasan hutan Sumatera, katanya.

Ia menjelaskan, bunga bangkai jenis Amorphopallus Titanum itu setelah mekar akan berwarna krem pada bagian luar dan pada bagian yang menjulang, mahkotanya berwarna merah keunguan. Ketinggian bunga bangkai jenis Amorphopallus Titanum bisa mencapai sekitar empat meter dengan diameter sekitar 1,5 meter.

"Sekilas bentuknya saat mekar terlihat seperti bunga terompet dengan tumbuh menjulang tinggi," katanya.

Berbeda dengan Rafflesia yang tidak dapat tumbuh di daerah lain, bunga bangkai dapat dibudidayakan. Bila Rafflesia parasit pada tumbuhan rambat, maka bunga bangkai tumbuh di atas umbi sendiri.

"Bau busuk yang dikeluarkan oleh bunga ini seperti pada Rafflesia berfungsi untuk menarik kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Masa mekarnya bunga ini sekitar tujuh hari, setelah lewat tujuh hari maka bunga bangkai akan layu," kataya.

Sementara warga setempat Afriadi Nursal mengatakan, ia melihat bunga itu secara tidak sengaja ketika sedang minum kopi di warung di pinggir jalan Timbulun.

"Ketika sedang istirahat di warung tanpa saya sengaja melihat bunga tersebut di seberang sungai. Bunga tersebut tumbuh tidak jauh dari jalan raya Padang-Kerinci," katanya.

(KR-HMR/R014) 

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca