Jumat, 31 Oktober 2014

Pemerintah antisipasi kebakaran hutan dengan TMC

| 3.912 Views
id kebakaran hutan, teknologi TMC, bppt, hujan buatan, elnino
Pemerintah antisipasi kebakaran hutan dengan TMC
Cahaya api membentang dari pembakaran lahan di Pegunungan Bukit Barisan (FOTO ANTARA/Ampelsa)
Indonesia sudah berada dalam fase El Nino lemah yang diprediksi akan meningkat sampai moderat hingga akhir tahun...
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dalam operasi pemadaman kebakaran lahan dan hutan dari udara di wilayah Kalimantan Tengah sebagai antisipasi dari ancaman kebakaran karena cuaca kemarau.

TMC merupakan modifikasi hujan buatan melalui proses tumbukan dan penggabungan butir awan di dalam awan sehingga proses tumbukan dan penggabungan dapat dipercepat dengan menambahkan CCN (Cloud Condensation Nuclei) dalam bentuk garam halus ke dalam awan Cumulus, demikian siaran pers Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang diterima di Jakarta, Rabu.

Hujan buatan diharapkan dapat membantu mengurangi sejumlah titik panas (hotspot) dan menipiskan kabut asap kebakaran. Sehingga meningkatkan jarak pandang yang kerap mengganggu kesehatan dan aktivitas penerbangan udara.

Bahan semai yang digunakan adalah garam (NaCl) berbentuk bubuk berukuran butir yang sangat halus--dalam ukuran orde mikron.

Operasi itu dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan (UPTHB) BPPT dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selama 40 hari dari 28 Agustus-5 Oktober 2012.

Pelaksanaan operasi penerapan TMC didukung satu unit pesawat jenis CASA 212-200 milik TNI-AU dari skuadron 4, Lanuma Abdurrahman Saleh - Malang.

Posko operasi yang diselenggarakan pemerintah itu terletak di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya.

Kebakaran hutan merupakan masalah yang biasa terjadi pada musim kemarau (Elnino).

Badan Meteorologi Dunia (WMO) pada Juni 2012 lalu merilis sebuah peringatan ancaman Elnino yang kemungkinan terjadi selama periode bulan Juli sampai September 2012.

Terkait dengan hal itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri sudah menyatakan bahwa pada Juli 2012 Indonesia sudah berada dalam fase El Nino lemah yang diprediksi akan meningkat sampai moderat hingga akhir tahun.

Dampak El Nino di Indonesia sudah mulai dirasakan di wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan sejak bulan Juli 2012 ditandai dengan munculnya titik panas dengan jumlah yang cukup tinggi.

Berdasarkan pantauan "Singapore Weather Information Portal", jumlah hotspot di Pulau Sumatera dan Kalimantan mulai meningkat sejak pertengahan bulan Juni 2012.

Bahkan untuk wilayah Sumatera, pada akhir Juli 2012 lalu jumlah hotspot sempat mendekati angka 700 titik.

Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan menemukan 15.392 titik panas dengan sebaran terpusat di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi (91%) terhitung sejak 1 Januari 2012 sampai dengan 9 Agustus 2012.

Hotspot yang terpantau satelit NOOA 18 itu terbanyak berada di Provinsi Riau (3.486 titik), kemudian Sumatera Selatan (2.359), Kalimantan Barat (2.105), Jambi (1.341) dan Kalimantan Tengah (978).
(SDP-43)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga