Jakarta (ANTARA News) - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri kekurangan tenaga kerja meskipun persaingan semakin ketat dan permintaan menurun akibat krisis ekonomi melanda Amerika Serikat serta Eropa, kata Direktur Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian Ramon Bangun.

"Meningkatnya permintaan tenaga kerja di sektor TPT membuat pemerintah yakin pada 2013 kondisi industri dalam negeri akan kembali bangkit. Untuk tahun ini, target pertumbuhan industri di atas tujuh persen rasanya sulit tercapai," katanya di Jakarta, Kamis.

Permintaan produk TPT di seluruh dunia, kata Ramon, telah menurun akibat krisis keuangan Eropa dan perlambatan ekonomi China.

Namun, katanya, beberapa perusahaan garmen nasional justru kebanjiran order dan kesulitan memenuhi permintaan ekspor sehingga harus menambah jam kerja di pabrik.

"Pangsa pasar ekspor TPT masih didominasi Amerika Serikat, Eropa, Jepang yang permintaannya meningkat, seperti pakaian dan kemeja," ujarnya.

Sejumlah industri pakaian jadi di sentra produksi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, kata Ramon, terus menambah ribuan tenaga kerja.

"Pabrik garmen di Sukabumi butuh 11.000 tenaga kerja, sementara di Semarang dan Jawa Tengah kebutuhannya sekitar 20.000 orang. Belum lagi Jawa Timur yang memiliki penyerapan tenaga kerja yang besar," katanya.

Ramon mengatakan, pemerintah telah menganggarkan pelatihan tenaga kerja sebanyak 7.200 orang, belum termasuk 600-700 orang yang sudah dilatih, tetapi belum mendapat penempatan.

"Total 8.000 orang tenaga kerja yang kami latih, 3.000 tenaga kerja akan dipasok ke Jawa Tengah, 2.000 ke Jawa Barat, dan 2.000 ke Jawa Timur," katanya.
(KR-SSB/M029)