Jumat, 1 Agustus 2014

Konsumsi pangan beragam dukung swasembada beras

Jumat, 31 Agustus 2012 14:34 WIB | 4.246 Views
Jakarta (ANTARA News) - Diversifikasi konsumsi pangan pokok tidak dimaksudkan  untuk mengganti beras secara total tetapi  mengubah pola konsumsi pangan masyarakat sehingga akan mengkonsumsi lebih banyak jenis pangan dan lebih baik gizinya. Pangan yang dikonsumsi akan beragam, bergizi dan berimbang.

Di Indonesia terdapat pedoman untuk mengukur diversifikasi konsumsi pangan termasuk pangan pokok  yang dikenal dengan Pola Pangan Harapan (PPH).

PPH ideal diharapkan mencapai angka 100, namun PPH penduduk Indonesia pada tahun 2008 baru sebesar 81,9. Pemerintah menetapkan pada tahun 2015, PPH mencapai 95, yang berarti  setiap tahun harus meningkat sekitar 2,5.

Dalam konsep PPH,  setiap orang per hari dianjurkan mengkonsumsi pangan seperti berikut: padi-padian = 275 gr, umbi-umbian = 100 gr, pangan hewani = 150 gr,  minyak+lemak = 20 gr,  buah/biji berminyak = 10 gr, kacang-kacangan = 35 gr,  gula = 30,0 gr dan sayur+buah = 250 gr.

Artinya, dalam setahun kebutuhan padi-padian yang terdiri dari beras, jagung dan terigu untuk konsumsi langsung penduduk sebesar 99 kg/kapita.

Sedangkan konsumsi beras, jagung dan terigu untuk tahun 2008 mencapai 119 kg/kapita, yang berarti lebih besar dari seharusnya. Belum lagi bila dilihat  proporsi dari ketiga jenis pangan tersebut yang sangat bertumpu pada beras.

Upaya diversifikasi konsumsi pangan dari padi-padian dapat dilakukan dengan mengurangi konsumsi beras dan meningkatkan konsumsi pangan dari komoditas jagung. Untuk terigu, karena bahan baku gandum harus diimpor maka sebaiknya konsumsi terigu dan turunannya dikurangi.

Sementara konsumsi dari umbi-umbian seharusnya sebesar 36 kg/kapita/tahun yang berasal dari ubikayu, ubijalar, sagu dan umbi-umbi lainnya. Namun kenyataannya baru 16,2 kg/kapita/tahun yang berarti masih kurang dari setengahnya.

Upaya pencapaian diversifikasi pangan sudah dirintis sejak awal dasawarsa 60-an, dimana pemerintah telah menyadari pentingnya dilakukan diversifikasi tersebut.

Saat itu pemerintah mulai menganjurkan konsumsi bahan-bahan pangan pokok selain beras. Yang menonjol adalah anjuran untuk mengkombinasikan beras dengan jagung, sehingga pernah populer istilah ”beras-jagung”.

Ada dua arti dari istilah itu, yaitu  campuran beras dengan jagung, dan  penggantian konsumsi beras pada waktu-waktu tertentu dengan jagung.

Terakhir kali, pemerintah menetapkan kebijakan percepatan diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal dengan dua strategi yaitu Internalisasi penganekeragaman konsumi pangan dan Pengembangan Bisnis dan Industri Pangan Lokal dan Pendidikan konsumsi pangan melalui pendidikan formal dan non formal.

Apabila mengkaji diversifikasi konsumsi pangan pokok maka perlu kembali ke masalah desentralisasi pangan sendiri yaitu bahan pangan lokal.

Meskipun konsumsi beras cenderung menurun namun kontribusinya terhadap total energi masih diatas 60 persen sedangkan umbi-umbian baru menyumbang energi sekitar 3 persen.

Aneka umbi-umbian mempunyai prospek yang cukup luas untuk dikembangkan  sebagai substitusi beras dan untuk diolah menjadi makanan bergengsi. Kegiatan ini memerlukan dukungan pengembangan teknologi proses dan pengolahan serta strategi pemasaran yang baik.   

Dlam memenuhi permintaan konsumen, salah satu faktor yang sangat penting dalam mensukseskan program diversifikasi pangan adalah melaksanakan product development.

Hal ini sebagai upaya menciptakan suatu produk baru yang memiliki  sifat sangat praktis, tersedia dalam segala ukuran, dan kalau digunakan tidak ada sisanya serta mudah diperoleh di mana saja.

(advertorial/ma/kemtan)

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Top Stories
Baca Juga