Senin, 20 Oktober 2014

Ketahanan pangan pada musim kemarau di Bali aman

| 5.253 Views
id ketahanan pangan, musim kemarau, pertanian Bali, irigasi sistem subak
Ketahanan pangan pada musim kemarau di Bali aman
Ilustrasi - Subak, sistem manajemen pengairan tradisional di Bali. (istimewa)
Sektor pertanian menjadi titik berat pembangunan Bali berkelanjutan
Denpasar (ANTARA News) - Air irigasi pertanian tradisional (subak) itu tampak mengalir jernih di saluran tersier, sebelum menyebar menggenangi sawah dan kolam ikan yang terbentang di sebagian besar lahan pertanian di pedesaan kabupaten Tabanan dan daerah lainnya di Bali.

Hamparan lahan sawah yang menghijau, dengan lokasi yang berundag-undang (terasering) di Jatiluwih, Kecamatan Penebel, daerah "gudang beras" di Kabupaten Tabanan memiliki pemandangan dan keindahan panorama alam. Perpaduan lembah dan perbukitan di bagian hulu Gunung Batukaru itu dikitari lingkungan dan kawasan hutan yang lestari, menjadi satu kesatuan hamparan lahan sawah yang cukup luas.

Tabanan, salah satu dari delapan kabupaten dan kota di Bali merupakan daerah gudang beras dengan hamparan sawah seluas 22.000 hektar dengan pengairan yang teratur, sehingga ketahanan pangan masih tetap dapat dipertahankan, tutur Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnuardana, di Tabanan, Rabu.

Meskipun demikian akibat musim kemarau dewasa itu, hasil pendataan yang telah dilakukan menunjukkan 300 hektar tanaman padi sawah pada empat kabupaten di Bali mengalami kekeringan.

Lahan sawah yang mengalami kekeringan itu hanya 0,39 persen dari total tanaman padi seluas 79.000 hektar. Sawah yang kekurangan air akibat musim kemarau itu meliputi Kabupaten Jembrana 155 hektar, Tabanan 92 hektar, Klungkung 47 hektar dan Buleleng enam hektar.

Kekeringan yang termasuk katagori ringan seluas 169 hektar, untuk kategori sedang seluas 101 hektar, sedangkan kategori berat seluas 15 hektar dan puso seluas 15 hektar.

Kekeringan yang melanda tanaman padi pada katagori ringan dan sedang masih memungkinkan untuk menghasilkan sekitar 50 persen dari total produksi rata-rata 5,8 ton per hektar. Sedangkan kekeringan katagori berat dan puso sudah jelas tidak menghasilkan dan segera akan diusulkan kepada Kementerian Pertanian untuk mendapat bantuan pengganti padi puso (BPPP).

Kementerian Pertanian lewat program tersebut memberikan bantuan sebesar Rp3,7 juta per hektar. Bali pada tahun 2011 mengusulkan tanaman padi yang mengalami puso akibat kekeringan maupun serangan hama seluas 1.300 hektar, mendapat bantuan BPPP sebesar Rp3,5 miliar.

Sektor pertanian menjadi titik berat pembangunan Bali berkelanjutan, disamping pengembangan pariwisata serta industri kecil dan kerajinan rumah tangga, meskipun kenyataannya pertanian tidak berkembang pesat seperti pariwisata dan usaha industri kecil.

Bidang pertanian di Bali mempunyai peran strategi dalam mewujudkan ketahanan pangan dan prestasi yang dicapai sejak tahun 1980 hingga sekarang masih tetap dapat dipertahankan, tutur Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana Prof Dr Ir Dewa Ngurah Suprapta MSc.

Bali dalam mempertahankan ketahanan pangan itu tidak terlepas dari kebijakan yang terintegrasi pemerintah setempat serta kesungguhan dari instansi terkait dan peranserta masyarakat, khususnya petani dalam menyediakan kebutuhan pangan.

Pangan merupakan kebutuhan yang paling hakiki dari setiap masyarakat yang harus dapat dipenuhi dengan baik. Untuk itu pangan kebutuhan masyarakat setempat termasuk wisatawan harus dapat dipenuhi daerah setempat, bukan ketergantungan dari daerah lain, apalagi impor.

Jika kebutuhan pangan masyarakat Bali tidak terpenuhi dengan baik dikhawatirkan menimbulkan guncangan-guncangan terhadap berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, politik dan stabilitas daerah, ujar Dewa Suprapta, yang juga dosen terbang tiga universitas di Jepang.


Tantangan berat

Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Bali I Ketut Teneng mengakui, upaya mewujudkan ketahanan pangan bukanlah suatu hal yang mudah, namun menghadapi tantangan berat yang harus dihadapi dalam penanganannya, meskipun ketahanan pangan di daerah tujuan wisata dalam kondisi cukup baik.

Ketersediaan pangan yang memadai, pendistribusiannya lancar, harga cukup stabil dan terjangkau masyarakat menjadi hal yang sangat penting untuk mendapat perhatian.

Bali memiliki sawah baku seluas 84.118 hektar dengan pola dengan pola pertanian dua kali padi dan sekali palawija setiap tahunnya mampu menghasilkan 471.601 ton setara beras. Sedangkan kebutuhan Bali yang berpendduduk 4,1 juta jiwa, termasuk mengantisipasi kedatangan wisatawan dan buruh musiman dari berbagai daerah di Indonesia mencapai 455.130 ton.

Dengan demikian masih memiliki kelebihan beras meskipun sangat kecil. Namun dengan adanya transportasi yang lancar antara Bali-Jawa dan sebaliknya akan mempermudah dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari sesuai harga pasar, ujar Suprapta.

Konsumsi beras masyarakat Bali rata-rata 116 kilogram per kapita per tahun, lebih rendah dari konsumsi tingkat nasional yang mencapai 139 kilogram per orang.

Masyarakat Bali sejak dulu sudah terbiasa mengkonsumsi makanan dari nonberas, termasuk ketela pohon dan ketela rambat disampur dengan beras sebagai makanan pokok.

Konsumsi beras masyarakat Bali yang lebih sedikit dibandingkan rata-rata nasional itu, masih bisa ditekan lagi dengan mengkonsumsi umbi-umbian seperti ketela pohon, ketela rambat dan suweg.

Ketiga jenis umbi-umbian itu mengandung karbohidrat lebih tinggi dari kentang serta sangat bagus bagi pencernaan dan kesehatan tubuh manusia.

Keunggulannya itu telah teruji dalam penelitian laboratorium dan hasilnya telah disosialisasikan kepada masyarakat, ujar Prof Supraptra yang juga Kepala Laboratorium Biopestisida Fakultas Pertanian Universitas Udayana.

(ANT)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga