Sabtu, 20 Desember 2014

Gula sama beracun dengan alkohol dan tembakau

| 3.587 Views
id bahaya gula, bahaya konsumsi gula, efek racun gula, gula dan obesitas, gula dan diabetes, penyakit gula
Gula sama beracun dengan alkohol dan tembakau
Menurut para peneliti gula juga punya efek racun yang mengancam kesehatan manusia.(Istimewa/www.ptpn10.com)
Jakarta (ANTARA News) - Gula dan pemanis lainnya punya efek racun pada tubuh manusia karena itu pemerintah di seluruh dunia harus mengatur penggunaannya secara ketat seperti alkohol dan tembakau, kata peneliti dari University of California, San Francisco (UCSF) dalam ulasan yang dipublikasikan jurnal Nature.

Seperti dikutip dari laman LiveScience, para peneliti mengusulkan pengaturan seperti pengenaan pajak pada semua makanan dan minuman yang ditambah gula, pelarangan penjualan makanan semacam itu di dekat sekolah atau penerapan batas umur pembelinya.

Para peneliti mengutip sejumlah hasil studi dan statistik yang menunjukkan bahwa penambahan gula, khususnya sukrosa--campuran glukosa dana fruktosa yang ditemukan pada sirup jagung serta gula dari tebu dan bit-- punya pengaruh merusak yang sama dengan alkohol dan tembakau.

Latar belakangnya sudah banyak diketahui, yakni bahwa lebih dari dua per tiga penduduk Amerika Serikat kelebihan berat badan, dan separuhnya kegemukan.

Sekitar 80 persen orang yang mengalami obesitas akan menderita diabetes atau gangguan metabolisme dan umurnya akan pendek, kata ulasan peneliti UCSF yang dipimpin oleh Robert Lustig.

Sementara secara global, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) saat ini angka obesitas sudah melebihi angka kekurangan gizi.

Obesitas sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak negara dan penyakit yang berhubungan dengan pola makan seperti diabetes dan beberapa jenis kanker untuk pertama kali dalam sejarah membunuh lebih banyak orang dibanding penyakit menular.

Peran gula dalam obesitas dan pandemi penyakit kronik sampai sekarang belum banyak diketahui dan masih dalam perdebatan.

Dari sudut pandang evolusi perseptif, gula dalam bentuk buah hanya tersedia beberapa bulan dalam setahun saat panen. Madu juga dijaga oleh lebah dan sebelumnya hanya digunakan untuk pengobatan, bukan untuk makanan pokok.

Saat ini penambahan gula sepertinya berlawanan dengan kodrat alam. Gula yang sebelumnya hanya didapat dari konsumsi buah sekarang sering ditambahkan pada aneka jenis makanan dari sup sampai soda.

Orang Amerika rata-rata mengonsumsi lebih dari 600 kalori per hari dari tambahan gula, atau sama dengan 40 sendok teh.

"Alam membuat gula sulit didapat, manusia membuatnya jadi mudah," kata para peneliti dalam ulasannya.

Banyak ilmuwan tidak menganggap gula sebagai "kalori kosong," namun lebih menyerupai bahan kimia yang punya efek racun.

Pada kenyataannya, sel-sel tubuh mampu mencerna glukosa dari karbohidrat kompleks seperti biji-bijian secara aman tapi metabolisme elemen fruktosa dalam gula utamanya hanya dilakukan oleh hati, dan dari sinilah masalah berawal.

Beban pada hati selanjutnya bisa mengarah pada sejumlah penyakit hati dan resistensi insulin, penyebab utama diabetes.

Penambahan gula, lebih dari fruktosa pada buah kaya serat, langsung memukul hati dan menyebabkan kerusakan lebih banyak, setidaknya pada tikus percobaan.

Namun beberapa penelitia belum yakin dengan bukti-bukti tentang efek racun gula pada tubuh manusia pada tingkat konsumsi sekarang ini, setinggi apapun itu.

Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa lemak jenuh, bukan gula, yang menjadi akar masalah obesitas dan penyakit kronis sedang yang lain menyatakan penyebabnya adalah aktivitas fisik yang kurang.

(M048)

Editor: Maryati

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga