Sabtu, 1 November 2014

Berlimpah potensi minim sentuhan investasi

| 1.769 Views
id Siau, Tagulandang, Biaro, Sitaro, Sangihe, Talaud,
Manado  (ANTARA News) - Tiga kabupaten kepulauan yaitu Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro (Sitaro), Kepulauan Sangihe dan Talaud, yang terpisah dari 12 kabupaten/kota lainnya di satu daratan, masih bergulat dengan persoalan transportasi sebagai pemecah keterisolasian.

Untuk menjangkaunya, butuh beberapa jam menggunakan kapal perintis atau kapal cepat yang diberangkatkan dari Pelabuhan Manado atau Pelabuhan Bitung.

Kalaupun menggunakan transportasi udara masih menggunakan pesawat dengan jumlah "seat" terbatas dan belum seriuh penerbangan di Bandara Sam Ratulangi.

Kabupaten dengan akses yang paling dekat, adalah Sitaro yang bisa dijangkau sekitar tiga atau empat jam.

Semakin ke utara seperti Sangihe dan Talaud yang memiliki Pulau Miangas dan Marore yang berbatasan dengan Filipina, butuh belasan jam untuk menjangkaunya.

Pemerintah kabupaten menginventarisasi bahwa selain transportasi, belum memadainya infrastruktur dasar di wilayahnya menjadi penyebab laju investasi di daerah kepulauan melaju pelan dibanding kabupaten kota lainnya seperti Kota Manado, Bitung atau Kabupaten Minahasa Selatan.

"Untuk infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan di ruas jalan provinsi dan kabupaten masih kurang. Selain itu jaringan telekomunikasi dan informasi, kelistrikan dan depo bahan bakar yang diharapkan dibangun di setiap pulaunya," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud, Djemi Gagola di Manado, Jumat.

Bicara potensi, tiga daerah kepulauan ini tidak kalah dibanding dengan kabupaten atau kota lainnya baik potensi sumberdaya terbaru terbarukan, mineral logam dan bukan logam serta batuan.

Dinas Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) Provinsi Sulawesi Utara mendata untuk potensi sumberdaya terbaru dan terbarukan seperti air, Kabupaten Sangihe mampu menyediakan sumber listrik sebesar tiga megawatt, dan 1,8 megawatt diantaranya sudah beroperasi. Sedangkan sisanya sementara pada tahapan "side survey identification" (SSI).

Begitupun dengan cadangan kandungan mineral logam melimpah yang belum disentuh investasi. Kandungan emas misalnya, yang terindikasi berada di Kecamatan Tabukan Selatan dan Manganitu Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Kandungan mineral logam lainnya seperti Nikel/Krom juga terindikasi di Kecamatan Rainis dan Damau, Kabupaten Kepulauan Talaud, sementara mineral logam Tin tersimpan di Kecamatan Kendahe.

Potensi mineral logam lainnya adalah pasir besi yang tersimpan di tiga kabupaten kepulauan.

Di Kabupaten Kepulauan Talaud berada di Pulau Karakelang, Salibabu dan Melonguane. Di Pulau Karakelang potensinya diperkirakan mencapai 715.250 ton.

Sedangkan di Kabupaten Kepulauan Sitaro berada di Pulau Tagulandang, dan di Kabupaten Sangihe berada di Kecamatan Tabukan Utara dan Naha, diperkirakan memiliki cadangan lebih besar dibanding yang berada di Pulau Karakelang yaitu 1.598.783 ton.

Belum lagi potensi batuan berbagai jenis seperti batu setengah mulia, zeolite, pasir vulkanis, batuan lempung sekira 2,2 juta meter kubik, batu apung sekira 240.000 meter kubik, batuan andesit sekira 24,311 juta meter kubik serta batuan basalt sekira 10,251 meter kubik.

"Potensi mineral logam, mineral bukan logam, batuan serta sumberdaya baru terbarukan apabila dikelola bertanggung jawab, dapat mengangkat perekonomian daerah penghasil seperti di kabupaten kepulauan dan Sulawesi Utara pada umumnya," kata Kepala Bidang Geologi, Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Provinsi Sulawesi Utara, Katrin Walukow.

Sejahterakan Warga

Potensi-potensi wilayah yang sangat butuh sentuhan investasi ini menurut Walukow, perlu dikembangkan lebih besar lagi sehingga mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak dan mensejahterakan warga yang berada di lingkar tambang.

Sepi investasi, pemerintah daerah bukan tidak berupaya menghadirkannya. Berbagai kemudahan diberikan dalam pengurusan perizinan serta berupaya membangun sarana dan prasarana pendukung untuk menarik investasi.

"Kemudahan-kemudahan seperti ini akan merangsang tumbuhnya investasi di daerah ini. Dan tak kalah pentingnya adalah menciptakan kondusifitas investasi yang ditunjang dengan terpeliharanya keamanan," kata Gagola.

Meski demikian, kemudahan-kemudahan yang disiapkan, toh belum sepenuhnya memberikan daya tarik bagi investasi.

"Investasi yang masuk ke Talaud baru sebatas jaringan telekomunikasi," kata Gagola, di Manado, Kamis.

Potensi sumberdaya alam yang dikandung di darat semakin disempurnakan dengan potensi wilayah perikanan laut yang tersedia melimpah. Saking melimpahnya, nelayan asing sesekali turut menikmatinya secara tidak sah.

Sebagaimana data Badan Pusat Statistik (BPS) 2010, potensi perikanan laut Kabupaten Kepulauan Sangihe mampu menghasilkan 7.126,1 ton ikan, 22,7 ton binatang berkulit keras, 13,3 ton binatang berkulit lunak, 2,3 binatang air, dan total produksi sebanyak 7.165 ton atau senilai Rp35,266 miliar.

Produksi perikanan Kabupaten Kepulauan Talaud juga hampir sama dengan Sangihe, dimana mampu menghasilkan 7.295 ton ikan, 176,7 ton binatang berkulit keras, 7,2 ton binatang berkulit lunak, 7,2 ton binatang lainnya, 1,7 ton rumput laut, dan bila ditotal produksinya menapai 7.488,5 ton aau setara dengan Rp26,809 miliar lebih.

Begitupun dengan Kabupaten Kepulauan Sitaro, sektor lautnya mampu memproduksi ikan sebanyak 3.824,7 ton, binatang berkulit keras sebanyak 7,6 ton, binatang berkulit lunak sebanyak 2,4 ton, binatang air sebanyak 0,3 ton, dan bila ditotal produksinya mencapai 3.835 ton atau setara dengan Rp18,974 miliar nilai produksinya.

Pemerintah daerah bahkan memperkirakan baru sekitar 10 persen potensi perikanan yang dimanfaatkan. Selebihnya masih membutuhkan sentuhan investor.

"Secara resmi kerja sama sektor perikanan baru dengan pemerintah Filipina. Itupun belum selesai karena masih sementara berproses. Itupun masih sebatas pada skop lintas batas antara Filipina dengan Pulau Miangas," kata Gagola.

(ANT-305)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga