Sabtu, 25 Oktober 2014

Penengah internasional temui Bashar al-Assad

| 2.197 Views
id krisis suriah, presiden suriah, bashar al-assad, lakhdar brahimi
Penengah internasional temui Bashar al-Assad
Lakhdar Brahimi. (Reuters)
Beirut (ANTARA News) - Setelah berbicara dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad, Sabtu (15/9), penengah internasional Lakhdar Brahimi mengatakan konflik yang meningkat di negeri itu menjadi ancaman global.

Para pegiat menyatakan 27.000 orang ttewas dalam kerusuhan 18 bulan menentang Bashar al Assad. Sabtu larut malam, 20 mayat --termasuk satu mayat perempuan-- ditemukan warga satu kabupaten di Damaskus, ibukota Suriah, yang telah dikuasai tentara pemerintah, kata satu lembaga pengawas.

"Krisis ini memburuk dan menimbulkan bahaya bagi rakyat Suriah, bagi wilayah ini, dan bagi seluruh dunia," kata Brahimi kepada wartawan di Damaskus setelah pembicaraan dengan Bashar selama satu jam di istana presiden.

Itu adalah pertemuan pertama diplomat kawakan Aljazair ini dengan Presiden Suriah sejak ia menggantikan Kofi Annan sebagai penengah dua pekan sebelumnya. Ia mengemban misi yang ia gambarkan sebagai "nyaris tak mungkin".

Demonstrasi meletus sebagai aksi damai di jalan yang bertambah parah jadi percekcokan sektarian di Timur Tengah. Para pegiat mengatakan 160 orang, kebanyakan warga sipil, tewas Jumat lalu (14/9).

Pasukan Bashar dan demonstran yang kini berubah menjadi pemberontak yang berusaha menggulingkan Presiden Suriah itu telah mengabaikan seruan pengakhiran konflik yang terus mempengaruhi sebagian kota besar di Suriah, termasuk Damaskus, Aleppo, Homs dan Deir az-Zor.

"Sepuluh lelaki dan seorang perempuan ditemukan di satu rumah di Tadamon," kata Rami Abdulrahman, pemimpin Observatorium Suriah bagi Hak Asasi Manusia, sebagaimana dikutip Reuters. 

"Sembilan mayat lagi ditemukan di satu gedung terpisah dan semuanya memiliki luka tembak di tubuh mereka," kata Rami Abdullah mengutip keterangan warga setempat.

Selama dua hari belakangan, militer telah melancarkan serangan dari jalan ke jalan di Tadamon, setelah berhari-hari serangan artileri pemerintah dan helikopter untuk membunuh pejuang pemberontak.

(C003) 

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga