Jakarta (ANTARA News) - Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, mengatakan bahwa pernyataan calon Wakil Gubernur DKI, Nachrowi Ramli, mengenai keharusan memilih warga Betawi, tidaklah pantas dikatakan dalam konteks Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta (Pilkada DKI).

"Tidak layak, ini bahasa demokrasi bukan bahasa adat," kata Ridwan saat ditemui di kantor Panwaslu, Jakarta, Selasa.

Menurutnya, pernyataan pengusiran warga Betawi yang tidak memilih calon asli Betawi di Pilkada ini, tidak sesuai diterapkan pada ranah politik. Pengusiran warga tersebut bisa dilakukan jika ada warga yang tidak memenuhi aturan adat.

"Kalau adat menyangkut perbuatan-perbuatan yang tidak baik misalnya membuat onar," katanya. Pengusiran itu pun dilakukan setelah dilakukan dialog dan penyelesaian masalah secara kekeluargaan. "Kalau tidak bisa dinasehati, ya diusir," kata Ridwan.

Sedangkan dalam ranah politik terutama pemilihan umum, Ridwan mengatakan, tidak ada undang-undang yang mewajibkan warga untuk memberikan hak pilihnya. "Nah ini orang nyolok urusannya apa, milih enggak milih enggak ada hukumannya," katanya.

Ridwan Saidi memenuhi panggilan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Jakarta sebagai saksi ahli terkait pernyataan Nachrowi Ramli saat menghadiri Lebaran Betawi di Lapangan Bermes, Kelapa Gading, Senin (10/9) lalu.

Dalam acaranya tersebut, Nara mengatakan "Silahkan keluar dari Betawi kalau tidak memilih calon asli Betawi". Perkataan tersebut berujung pada pelaporan Ketua Bamus Betawi tersebut oleh kubu Jakarta Baru. Nara sendiri baru memenuhi panggilan Panwaslu pada Jumat (16/9).

(Dny)