Kamis, 21 Agustus 2014

"Sangkuriang" bangun lebih pagi untuk PON 2016

Rabu, 19 September 2012 10:52 WIB | 4.197 Views
Pekanbaru (ANTARA News) - 'Sangkuriang' dipastikan harus bangun lebih pagi dan bergerak lebih awal dalam mempersiapkan infrastruktur PON XIX/2016 untuk menghindari filosofi "kejar tayang" seperti legenda Tangkuban Parahu dari daerah Jawa Barat (Jabar).

"Kita berkaca dari kesiapan penyelenggara PON di daerah sebelumnya, dari Sumsel, Jatim, Kaltim dan juga terakhir Riau. Benang merahnya `Sangkuriang` akan bangun lebih pagi agar tidak kesiangan," kata Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan.

Sangkuriang adalah lekat dengan legenda daerah Pasundan, di mana ia marah besar ketika gagal menyelesaikan "proyek" bendungan dalam satu malam. Padahal bendungan itu syarat untuk menikahi Dayang Sumbi, yang tiada lain adalah ibu kandungnya sendiri.

Sangkuriang marah besar dan menendang perahu di hadapannya yang jatuh dan menjadi Gunung Tangkuban Parahu yang berlokasi di kawasan Bandung bagian utara. Satria itupun gagal menikahi wanita itu karena gagal menyelesaikan proyek bendungan itu.

"Jabar akan membangun infrastuktur dan fasilitas lainnya jauh-jauh hari, kami ingin hadir sebagai tuan rumah PON yang lebih baik," kata Gubernur Heryawan.

Kehadiran PON 2016 merupakan sukses "tertunda" provinsi itu menghadirkan PON 2012 yang akhirnya menjadi milik Riau. Dan PON 2016 merupakan "pembuktian" bagi Jabar yang juga sempat "sakit hati" setelah gagal menjadi tuan rumah SEA Games 2011.

Namun PON 2016, sudah masuk cetak biru pembangunan di Jabar dan program jangka menengah untuk pembangunan olahraga di provinsi itu.

Jabar sudah mengagendakan PON 2016 sebagai agenda besar empat tahun ke depan, sekaligus meraih ambisi menjadi "Jabar Kahiji" (juara umum, red) di kandang sendiri.

"Proses pembangunan infrastruktur sudah dilakukan sejak sekarang, dengan pembangunan Stadion Gedebage yang dilakukan secara share dengan Kota Bandung. Stadion itu akan menjadi tempat pembukaan PON XVIII/2016," kata Heryawan.

Sehingga, ke depan Jabar tinggal membangun infrastruktur lainnya, salah satunya gelanggang renang bertarap internasional, GOR Basket, bulutangkis, bola voli serta fasilitas pertandingan lainnya. Salah satu fasilitas yang akan dibangun adalah Sarana Olahraga Arcamanik.

Meski difokuskan untuk pembinaan atlet Jabar, fasilitas itu bisa digunakan untuk pertandingan.

"Pembangunan dan penganggaran infrastruktur itu akan dilakukan sejak dini, dan kami sudah memulainya. Kabupaten dan Kota juga akan dilibatkan dalam menggelar dan menyiapkan infrastruktur untuk PON 2016," katanya.


Infrastruktur berakses tol

Sementara itu, pembangunan infrastruktur PON XIX yang menjadi agenda Jabar sudah disiapkan. Salah satunya pembangunan infrastruktur olahraga itu di lokasi yang mengakses ke jalan tol Purbaleunyi.

Stadion Utama Gedebage atau yang kemudian akan dinamai dengan nama baru itu, terletak di pinggir Jalan Tol Purbaleunyi tepatnya di Km143 atau sekitar tujuh kilometer dari kilometer nol Kota Bandung.

Infrastruktur tempat pertandingan lainnya juga akan dibangun dengan konsep mengakses ke jalan tol untuk menjamin kelancaran transportasi peserta atau anggota kontingen.

Pembangunanya akan dibuat sejalur mulai dari fasilitas dayung di Danau Cipule, Kabupaten Karawang, stadion sepak bola di Purwakarta serta sejumlah fasilitas cabang olahraga lainnya di Bandung Barat, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang.

Sinergitas dengan pemerintah daerah (kabupaten/kota), perguruan tinggi serta swasta akan dioptimalkan di Jawa Barat.

Di sisi lain, kompleks olahraga Padjadjaran Sport Center tampaknya masih akan dipergunakan, selain untuk latihan atlet juga kemungkinan untuk pertandingan.

Kota Bandung sendiri tampaknya akan menjadi destinasi bagi para atlet, hotel dan Posko Utama PB PON XIX/2012 Jabar. Sedangkan pertandingan akan digelar di fasilitas baru di luar Bandung.

Jabar dipastikan bermasalah dengan mahalnya harga tanah untuk perluasa dan pembangunan infrastruktur. Namun jurus sinergitas dan kemitraan dengan pihak ketiga telah disiapkan.

"Pengadaan tanah bermasalah, pembangunan infrastruktur juga tidak mungkin dilakukan sendiri dengan anggaran pemerintah. Jabar menyiapkan pola kemitraan dengan swasta. Ada 4.000 industri dan perusahaan besar di Jabar, mereka akan dilibatkan," kata Wakil Gubernur Jabar H Dede Yusuf.


Momentum prestasi

Terlepas dari kesiapan infrastruktur, PON XIX/2012 Jabar agaknya perlu didukung semua pihak untuk mengembalikan momentum prestasi yang diraih dengan kondisi yang siap dan sempurna.

"Dari sisi semangat untuk PON 2016 di Jabar, tuan rumah jelas sangat antusias. Ini sebuah modal dan perlu didukung seluruh stakeholder. Bukan hanya menjelang pertandingan namun jauh hari sebelum pertandingan, salah satunya menyiapkan perangkat pendukung," kata Dekan FPOK UPI Bandung Prof Dr Yudha M Saputra.

Menurut Yudha, dibandingkan daerah lain, Jabar lebih beruntung karena memiliki selain fasilitas olahraga juga perangkat pertandingan seperti wasit, juri, pengawas pertandingan dan lainnya yang jauh lebih banyak dan memiliki kualitas karena banyak terlibat dalam berbagai kejuaraan tingkat nasional maupun internasional.

"Jabar sudah punya modal yakni perangkat pertandingan yang komplit dan berpengalaman, dan mereka sudah terbiasa menggelar dan memimpin ajang pertandingan, pendukung lainnya juga bisa melibatkan perguruan tinggi," kata Yudha.

Namun demikian, kondisi itu seyogyanya tidak menjadi Jabar terlalu percaya diri. Upaya memperbanyak pertandingan berlevel lokal, nasional maupun berkaliber internasional harus dilakukan Jabar untuk memastikan kesiapan menjadi tuan rumah.

"Sukses prestasi tergantung kesiapan penyelenggaraan, dan saya yakin Jabar bisa dan harus bisa," kata Yudha.

Dari sisi prestasi atlet, menurut dia sebagai Tuan Rumah jelas harus lebih siap dibanding keikutsertaan Jabar pada PON XVIII/2012 di Pekanbaru kali ini. Namun dengan skema pembinaan jangka panjang yang dilakukan KONI Jawa Barat saat ini potensi untuk sukses prestasi saat jadi tuan rumah bisa terealisasikan.

"Empat tahun memang tidak lama untuk persiapan PON 2016, namun tahapan sudah dilakukan Jabar sejak saat ini, tinggal percepatan saja. Dari sisi SDM Jabar mumpuni," katanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Umum KONI Jawa Barat H Azis Syarif yang menyatakan KONI Jawa Barat sebagai lembaga yang bertanggung jawab pada pembinaan atlet sangat siap untuk PON XIX. Menurut Azis peraihan prestasi di PON XVIII/2012 sudah maksimal meski sejumlah cabang olahraga gagal memenuhi target.

"Dinamika prestasi dan perolehan medali di PON XVIII/2012 bergerak positif, meski ada cabang yang gagal target itu sangat, bisa diterima dalam olahraga terukur ini. Itu menjadi bahan evaluasi kami, yang jelas fokus Jabar selepas ini membidik prestasi di PON XIX/2016," kata Azis Syarif.

KONI Jawa Barat dan Dinas Olahraga Jawa Barat, dalam empat tahun ke depan akan menjadi motor persiapan Jabar menjadi tuan rumah PON 2012. Keberpihakan pemerintah, legislatif dan juga dukungan pendampingan dalam penerapan regulasi untuk proses pembangunan infrastruktur sangat dibutuhkan agar `Sangkuriang` tidak lagi kesiangan dalam menyelesaikan pekerjaan besarnya.

Terima Kasih Pekanbaru, Tuan Rumah PON XVIII/ Riau. Sampai jumpa pada PON XIX/2016 di "Bumi Padjadjaran" Jawa Barat.

(S033/A035)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga