Minggu, 26 Oktober 2014

446 WNI Indonesia masih ditahan di Australia

| 1.756 Views
id imigran, nelayan indonesia
Kupang (ANTARA News) - Sebanyak 446 anak buah kapal atau ABK Indonesia hingga September 2012 masih ditahan di sejumlah penjara di Australia, karena menyelundupkan pencari suaka ke negara tersebut.

"Dari jumlah tersebut, 26 orang di antaranya masih anak-anak dan ditahan di detensi imigrasi dan berbagai penjara di seluruh negara bagian di Australia seperti Victoria, Queensland, dan Tasmania," kata Duta Besar Indonesia untuk Australia Primo Alui Joelianto.

Hal itu dikemukakan saat berbicara pada acara "Indonesia-Australia Joint Awareness Campaign On Anti-People Smuggling" di Kupang, Rabu.

Dia mengatakan, ABK yang dipulangkan ke Tanah Air sejak 2008 sampai September 2012 berjumlah 471 orang, terdiri atas 230 ABK dewasa yang selesai menjalani proses hukum, dan 141 ABK anak yang 61 orang di antaranya dipulangkan tanpa proses hukum.

"Faktor pendorong atau motif keterlibatan ABK ialah iming-iming bayaran yang tinggi antara Rp500 ribu hingga Rp1 miliar untuk pekerjaan yang hanya memakan waktu 3-5 hari," katanya.

Selain itu adanya janji dari juragan kapal bahwa kapal yang dibawa dapat dimiliki jika pekerjaan membawa pencari suaka selesai dikerjakan, ditipu dengan dalih membawa turis maupun muatan barang.

Motif lainnya lanjut dia, dipaksa atau disandera oleh penumpang untuk mengalihkan arah kapal ke perbatasan perairan Australia ketika sedang berada di laut.

"Mereka juga ditipu oleh penumpang untuk diantar ke suatu tempat. Begitu tiba di tengah laut, penumpang menaikkan sejumlah penumpang asing untuk diantar ke perbatasan perairan Australia," kata Primo.

Menurut Primo, ABK juga bersedia mengantar pencari suaka ke Australia karena tidak memiliki informasi akurat mengenai hukuman bagi penyelundup manusia, yang hukumannya sama dengan hukuman bagi penangkapan ikan ilegal yaitu antara 1-2 bulan.

Padahal sesuai Undang-Undang Imigrasi Australia Pasal 233 A menyebutkan membawa orang yang bukan warga negara Australia secara tidak sah diancam hukuman 10 tahun.

Sekretaris Daerah NTT Fransiskus Salem mengatakan masalah People Suggling bukan hal baru, dan telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir yang mengemuka di kawasan Asia dengan negara tujuan Australia.

"Seiring meningkatnya jumlah imigran illegal yang mencari suaka politik di Australia, yang paling memprihatinkan Indonesia khususnya Nusa Tenggara Timur disebut-sebut menjadi daerah transit paling nyaman karena dekat dengan negara tujuan para imigran," katanya.

Kendati Indonesia hanya menjadi tempat transit sementara dalam proses mencari suaka, namun pemerintah kedua negara tidak bisa menutup mata terhadap kejahatan transnasional tersebut karena secara terang-terangan melanggar kedaulatan wilayah perairan Indonesia maupun Australia.

Upaya preventif yang harus dilakukan adalah mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi kawasan negara asal para imigran sehingga tercipta stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

Selain itu, kata dia, juga untuk menciptakan rasa aman bagi warga negaranya, menciptakan lapangan kerja sehingga secara bertahap mengurangi eksodus warga negaranya ke luar negeri secara illegal.

(KR-YHS)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga