Sabtu, 20 September 2014

4.900 guru di Aceh tidak lulus uji sertifikasi

Senin, 24 September 2012 21:12 WIB | 2.650 Views
4.900 guru di Aceh tidak lulus uji sertifikasi
Ilustrasi Sejumlah guru mengikuti ujian kompetensi. (FOTO ANTARA/Budi Afandi)
Banda Aceh (ANTARA News) - Sebanyak 4.900 dari 6.700 guru yang mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di Provinsi Aceh tidak lulus uji sertifikasi.

"Dari data yang kami terima, ada 4.900 guru yang mengikuti PLPG tidak yang tidak lulus. PLPG ini merupakan salah satu syarat sertifikasi," kata Ketua Presidium Koalisi Gerakan Guru Bersatu (Kobar-GB) Aceh Sayuthi Aulia di Banda Aceh, Senin.

Sebelumnya, kata Sayuthi, Aceh mendapat jatah 9.000 guru mengikuti uji kompetensi awal. Dari jumlah tersebut, 6.700 guru dinyatakan lulus dan mengikuti PLPG.

"Lalu, 6.700 guru tersebut menjalani PLPG di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh selama sembilan hari. Hasil PLPG, mereka wajib mengikuti uji sertifikasi dan hanya yang lulus 1.800 guru," katanya.

Menurut Sayuthi, tingginya ketidaklulusan uji sertifikasi tersebut patut dipertanyakan sejauh mana keberhasilan program PLPG yang dilaksanakan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

"Yang mengherankan, uji sertifikasi standar nasional dan tata cara mengajar mereka lulus. Tapi, mereka gagal di uji sertifikasi standar lokal. Ini patut dipertanyakan," katanya Sayuthi Aulia.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Aceh Ramli Rasyid mengatakan mereka yang tidak lulus tersebut gagal mendapatkan sertifikasi.

"Kalau mereka tidak mendapatkan sertifikasi, maka mereka tidak berhak mendapat tunjangan satu bulan gaji. Hal ini tentu mempengaruhi semangat mereka," katanya.

Menurut dia, tidak lulusan tersebut bukan karena rendahnya kemampuan mereka. Akan tetapi, pelaksanaan PLPG yang membuat mereka gagal mendapatkan sertifikasi.

"Mereka gagal di uji sertifikasi karena sistem. Karena itu, kami mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengevaluasi kembali sistem PLPG serta oknum pelaksananya," sebut Ramli Rasyid.

Sebab, kata dia, banyaknya guru yang tidak lulus uji sertifikasi membuktikan kegagalan pelaksana dalam melaksanakan pelatihan profesi guru tersebut.

Selain itu, sebut dia, bagi guru yang tidak lulus tersebut juga diminta mengikuti ujian ulang. Namun, biaya akomodasi dan transportasi ujian ulang tersebut ditanggung masing-masing guru.

"Ini yang memberatkan mereka. Bayangkan berapa besar uang yang harus dikeluarkan bagi mereka yang mengajar di daerah terpencil, harus mengeluarkan uang sendiri mengikuti ujian di Banda Aceh," katanya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan anggaran untuk ujian ulang tersebut.

(KR-HSA/E001)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga