Jumat, 1 Agustus 2014

Rektor: prestasi sivitas IPB membanggakan

Selasa, 25 September 2012 19:16 WIB | 3.174 Views
Rektor: prestasi sivitas IPB membanggakan
Wapres Boediono (kiri) menyampaikan orasi ilmiah pada Sidang Terbuka Dies Natalis IPB ke-49 di Kampus IPB Darmaga, Bogor, Jawa Barat, Selasa (25/9). (FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf)
Bogor (ANTARA News) - Rektor Institut Pertanian Bogor Prof Herry Suhardiyanto berbangga hati dengan prestasi yang telah diraih oleh sivitas kampus yang dinilai telah membawa harum nama perguruan tinggi tersebut.

Rasa bangganya ditorehkan dalam pemberian penghargaan anugran prestasi kepada sejumlah sivitas yang telah meraih prestasi terbaik ditingkat nasional.

Penghargaan diberikan dalam acara Sidang Terbuka Dies Natalis Institut Pertanian Bogor ke-49 yang berlangsung di Kampus Dramaga Bogor, Selasa.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Rekto IPB Prof Herry Suhardiyanto, M.Sc usai membuka secara resmi Sidang Terbuka Dies Natalis ke-49 IPB.

Empat sivitas yang berprestasi tersebut yakni Dr Ir Dyah Iswantini dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang terpilih sebagai dosen berprestasi peringat 1 nasional.

Penghargaan selanjutnya untuk Prof Dr Ir Nastiti Siswi Indrasti, Ketua Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian terpilih menjadi ketua program studi berprestasi peringkat 1 nasional dan Rio Aditya mahasiswa program studi Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran hewan yang telah terpiliha menjadi mahasiswa berprestasi peringkat 2 nasional pada tahun 2012.

"Alhamdulillah, prestasi mahasiswa dalam ajang perlombaan berprestasi tingkat nasional selalu membanggakan. Pada 2011 misalnya, Leo Wibisono, mahasiswa Program studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian terpilih menjadi mahasiswa berprestasi peringkat 1 nasional," kata rektor.

Rektor menyebutkan, prestasi-prestasi lain juga dicapai oleh para mahasiswa IPB yaitu antara lain Tim Mangnut dari mahasiswa Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, berhasil menjadi juara 2 dalam kompetisi ilmu dan teknologi pangan internasional (Developing solutions for developing countries, Institute of Food Technology (IFT) pada tanggal 25--28 Juni 2012 di Las Vegas, Amerikat Serikat.

Kompetisi ini lanjut Rektor, merupakan wahana untuk mempromosikan penerapan ilmu dan teknologi pangan serta pengembangan produk dan proses baru yang ditargekan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di negara-negara berkembang.

Selain itu juga, kata Rektor, IPB juga telah mengirim sebanyak 31 kelompok Program kreatif mahasiswa (PKM) untuk mengikuti Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) XXV di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

"Alhamdulillah, dalam ajang tersebut, IPB berhasil menjadi juara umum ke dua dari 95 perguruan tinggi peserta PIMNAS XXV. IPB memperoleh lima penghargaan setara emas, tiga setara perak dan dua setara perunggu pada kategori prestasi," kata Rektor.

Rektor menyatakan, dalam empat tahun ini, IPB terus membangun menuju universitas riset berkelas dunia dengan kompetisi utama pertanian tropika dan biosains serta berkarakter kewirausahaan sesuai visinya.

Membangun IPB dalam lingkungan strategis yang sangat dinamis. Lingkungan yang memberikan peluang, sekaligus tantangan.

"Pada tahun 2013 IPB akan memasuki usia 50 tahun. Sesuatu yang akan sangat berarti dalam sejarah perjalanan kampus rakyat ini," katanya.

Dalam rentang 49 tahun ini, lanjut Rektor, IPB telah menorehkan sejarah baik dalam bidang pendidikan maupun pembangunan pertanian dalam arti luas.

IPB pernah berperan penting dalam program nasional peningkatan produksi pertanian pada dekade 1960-an dan 1970-an.

"Program serupa juga berlangsung dan berhasil di banyak negara sehingga pimpinan atau tokoh USAID menyebutnya sebagai revolusi hijau," ujar rektor.

Tidak hanya itu, lanjut Rektor, IPB berperan khususnya dalam menginisiasi konsep Bimas sampai implementasinya yang melibatkan para mahasiswa untuk turun ke lapangan.

Pada tahun 1971, konsep koperasi unit desa (KUD) lahir berbarengan dengan konsep usaha perbaikan gizi (UPGK) sebagai implikasi dari penerapan konsep Bimas.

"Pada tahun 1973, IPB kembali membuat sejarah dengan lahirnya indikator pengukuran kemiskinan dari almarhum Prof Sajogyo yang masih digunakan hingga sekarang," kata Rektor.

Rektor menambahkan, peringatan Dies Natalis IPB tahunini juga bertepatan dengan dimulainya babak baru pendidikan tinggi di Indonesia dengan telah diundangkannya UU nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi.

"Kami memandang landasan hukum ini memberikan harapan baru, terutama tentang jaminan aksesabilitas masyarakat kurang mampu dalam mengeyam pendidikan di perguruan tinggi yang selama ini menjadi concern IPB," katanya.

Sidang Terbuka Dies Natalis IPB ke-49 juga dihadiri Wakil Presiden Boediono yang menyampaikan orasi ilmiahnya tentang "Transformasi struktural sektor pertanian untuk memperkokoh ketahanan pangan nasional".***3***T.KR-LR

(T.KR-LR/B/S006/S006) 25-09-2012 19:08:32

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga