Jakarta (ANTARA News) - Pengamat pasar modal Willy Sanjaya menengarai adanya tujuan-tujuan terselubung dibalik upaya menurunkan saham PT Bumi Resources (BUMI) dengan menghembuskan isu penyimpangan dana-dana.

"Setiap perusahan Tbk itu kalau mau menggunakan dananya harus lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Karenanya kalau melihat dari kasus Bumi Plc yang `dihancurkan harganya dengan alasan tuduhan penyelewengan dana, itu tidak masuk akal," ujarnya kepada pers di Jakarta, Selasa.

Willy melihat adanya upaya menurunkan saham BUMI dengan menghembuskan isu itu demi mendapatkan harga murah. Masalah seperti ini juga sudah sering terjadi di lantai bursa.

Dia kemudian mencontohkan saham PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) yang harganya turun tapi kemudian naik karena isu yang dihembuskan tidak terbukti akhirnya PGAS pun rebound balik.

Begitu juga dengan BUMI, menurut Willy, isu penyimpangan dana yang sengaja dihembuskan itu tidak akan mempengaruhi kinerja maupun produktivitas perusahaan. "masalah yang di-`blow up` sekarang ini adalah masalah tahun berapa? Apakah kinerja PT Energi Mega Persada (ENRG), PT Bakrieland Development (ELTY), PT Bumi Resouces Mineral (BRMS), PT Borneo Lumbung Energi (BORN) dan PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) juga harus ikut terpengaruh," ujarnya.

Sebelumnya pada sesi pertama perdagangan Selasa (25/9), saham BUMI ditransaksikan melemah 10 poin (1,47 persen) ke angka Rp670 dengan intraday tertinggi Rp680 dan terendah Rp590.

Lebih lanjut Willy Sanjaya menuturkan bahwa apabila perusahaan Tbk adalah terbuka, maka siapa pun bisa melakukan audit. "Jadi melihat dari kasus Bumi Plc mau mengaudit atau investigasi ke dalam silahkan saja selama perusahaan Tbk tersebut tidak masalah, katanya.

Willy juga mempertanyakan andaikata memang ada kecurigaan penyimpangan mengapa para pemegang saham tidak meminta diadakan RUPS Luar Biasa (RUPSLB) dengan tujuan meminta pertanggungjawaban dan bukan berbicara di media massa.

Tentang auditor, lanjut dia, tentunya mereka telah menelaah dengan kemampuan regulasi-nya. Vallar Plc, banker dan pengacara tentu telah melakukan "due dilligence" menyeluruh saat mau melakukan aksi korporasi "reverse take over" PT Bumi Resources Tbk.

Sebelumnya, Direktur Bumi Plc Ari Hudaya mengundurkan diri dari jabatannya menyusul adanya tuduhan penyimpangan dana di PT Bumi Resources (BUMI). Ari sebelumnya pernah menjabat sebagai CEO Bumi Plc sampai Maret 2012 silam.

"Ari Hudaya sudah mengundurkan diri dari jabatan direktur non eksekutifnya di Bumi Plc, efektif 24 September 2012," kata Direktur dan Sekretaris Korporasi BUMI, Dileep Srivastava.

Menurut Dileep, Ari sengaja melepas jabatan tersebut agar lebih fokus dalam membangun bisnis di BUMI, perusahaan tambang grup Bakrie. Saat ini, Ari masih menjabat sebagai Presiden Direktur BUMI, perusahaan yang 29 persen sahamnya dikuasi Bumi Plc.
(ANT)