Selasa, 23 September 2014

Quraish Shihab: pemikiran Gus Dur masih relevan

Jumat, 28 September 2012 06:43 WIB | 9.661 Views
Quraish Shihab: pemikiran Gus Dur masih relevan
KH. Quraish Shihab (FOTO ANTARA/Ujang Zaelani)
Jakarta (ANTARA News) - Pemikiran KH Abdurahman Wahid (Gus Dur), khususnya tentang pluralisme, masih sangat relevan sampai saat ini, dimana prasangka terhadap sesama umat beragama dan juga antarumat beragama masih terus berkembang.

Pengasan tersebut dikemukakan ulama besar KH Quraish Shihab ketika memberikan tausyiah pada malam Tahlil Akbar dan peringatan 1000 hari wafatnya Gus Dur yang dihadiri ribuan warga nahdliyin dan kaum Gus Durian, di kompleks pesantren Ciganjur yang didirikan Gus Dur, di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (27/9) malam.

Dalam acara yang diselenggarakan Yayasan Bani Abdurachman Wahid dan PB GP Ansor dan dihadiri ribuan umat dari berbagai daerah itu, dilantunkan pujian dan sholawat Nabi dalam berbahasa Arab, Jawa, dan Indonesia.

"Sholawat ini saya persembahkan pada Ibu Shinta Nuriyah, agar ingat terus pada perjuangan sang suami, Gus Dur," kata Syech Abdul Qadir Assegaf, dari Solo yang memimpin sholawat.

Quraish Shihab mengungkapkan, pemikiran pluralisme Gus Dur yang sangat menghargai perbedaan, membela kaum minoritas, dan kedekatannya dengan beragam tokoh agama lain, sering disalah artikan oleh sebagian umat Islam.

"Padahal setelah Gus Dur tiada, banyak orang akhirnya mengakui kebenaran dan kehebatan toleransi yang ditunjukkan Gus Dur," ujarnya.

Bahkan, masih menurut Quraish, pluralisme yang diperjuangkan Gus Dur lahir dari pemikiran jernih, kepedulian, dan juga dasar kitab suci Alquran dan juga hadist. "Perintah membantu umat lain seperti membantu pembangunan gereja, juga ada dalam perintah Nabi Muhammad sebagai bukti sikap Nabi dalam menghormati dan toleransi," kata Ketua Ikatan Alumi AlAzhar Mesir itu.

Dengan demikian kata Quraish, pemikiran Gus Dur, tokoh yang pernah menjadi Presiden RI keempat ini harus terus disosialisasi dan dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Semantara itu Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid sependapat dengan Quraish. Menurut dia, pemikiran Gus Dur bukan saja relevan dengan saat ini tapi juga nanti. "Pemikiran dan langkah Gus Dur melampaui jamannya," kata Nusron.

Politisi muda yang juga anggota Komisi XI DPR ini mengatakan, Ansor akan menerapkan prinsip, nilai dan ajaran Gus Dur, bahkan akan menjaga dari berbagai ancaman yang mengganggu pluralisme yang menjadi ikon Gus Dur. "Haul 1000 hari dan sholawat ini untuk membuktikan komitmen dan perjuangan Ansor bagi implementasi pemikiran Gus Dur," tegas mantan Ketua Pansus Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DPR RI itu.

Dalam kesempatan sama KH Mustafa Bisri, teman dan sahabat yang selalu dekat dengan Gus Dur menceritakan sosok sahabat, guru, dan orang langka bernama Gus Dur ini. "Gus Dur itu sangat berani, termasuk menentang arus kekuasaan dansiapa pun akan dilawan, tapi keberanian itu didasarkan atas kebenaran dan kecintaan pada sesama," kata Mustafa.

Dalam memperingati 1000 hati wafatnya Gus Dur mengajak dan memgimbau seluruh umat untuk hidup sederhana, dan tidak melakukan tindakan korupsi. "Ini bentul implementasi sikap hidup sederhana Gus Dur," katanya. Mustafa juga menceritakan banyak hal tentang sisi lain Gus Dur .

Hadir dalam acara yang penuh hikmat ini antara lain Menteri Agama Suryadharma Ali, Wamenag Nasarudin Umar, Mendikbud M Nuh, Ketua MK Mahfud MD, Ketua GP Ansor Nusron Wahid, pendiri PKB KH Mustofa Bisri, mantan Menang Basyuni, anggota BPK Ali Masykur Musa, mantan Menteri Peranan Wanita, Khofifah Indar Parawansa.

Selain itu hadir juga bekas Ketua DPR RI Akbar Tandjung, Pimpinan Ponpes Assidiqqiah Nur Iskandar SQ, pengamat Islam dari Jepang, Mitsuo Nakamura dan sejumlah pengamat dari beberapa negara.

(ANT)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga