Jumat, 19 Desember 2014

Pemkab Lahat koleksi 3.000 temuan megalit terbesar

| 2.950 Views
id megalit, lahat, sumatera selatan, temuan terbesar
Pemkab Lahat koleksi 3.000 temuan megalit terbesar
Megalith Lesung di Cagar Budaya Desa Vatunonju, Kec. Sigi Biromaru, Kab. Sigi, Sulteng. Cagar budaya yang khusus batu megalith peninggalan zaman batu itu ramai dikunjungi pada setiap harii libur, terutama bagi siswa untuk keperluan pengetahuan sejarah dan arkeologi. (FOTO ANTARA/Basri Marzuki)
Nantinya kami siap mendampingi tim Muri untuk mendatangi berbagai lokasi penemuan megalit, sekaligus mempromosikan wisata sejarah di Kabupaten Lahat."
Lahat, Sumsel (ANTARA News) - Pemerintah Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, hingga 2012 sudah mengoleksi sekitar 3.000 temukan megalit tersebar di 12 kecamatan dengan berbagai macam bentuk, seperti batu tulis, arca, tempat persembahan dan peralatan.

"Kalau jumlah keseluruhan megalit ditemukan diperkirakan mencapai 3.000, sedangkan terdaftar resmi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Arkeologi dan BP3 Jambi mencapai 1.000 megalit, inilah yang menjadikan Lahat mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri), dalam kategori daerah yang paling banyak penemuan situs megalit," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lahat, Rechnawati, Kamis.

Menurut dia, daerah sebaran penemuan berbagai benda bersejarah meliputi Kecamatan Jarai, Pajarbulan, Kota Agung, Tajungtebad, Gumay dan ada beberapa tempat lainnya.

Keberadaan megalit di Kabupaten Lahat, sudah terkenal sejak zaman Belanda dan bahkan pernah dilakukan penelitian sejumlah ilmuwan dari berbagai negara seperti Belanda, Jerman dan Amerika Serikat.

Rechnawati mengatakan, peninggalan sejarah di wilayah Lahat bukan saja cukup banyak, dan bahkan kaya akan variasi dan bentuknya.

Dia mencontohkan, ada jenis arca, kubur batu, lesung batu, lumpang batu, dolmen, menhir dan batu datar.

"Benda bersejarah itu, bisa juga dijadikan sebagai simbul dan peralatan bagi nenek moyang zaman dahulu seperti alat mengolah makanan lesung dan lumpang batu, kemudian adanya titralith sebagai tempat persidangan dan bermusyawarah," ungkap dia.

Peninggalan bersejarah yang diperkirakan berumur lebih dari 3.000 hingga 4.000 tahun tersebut jumlahnya mencapai ribuan, tersebar di 12 kecamatan dan bentuknya cukup unik," kata dia lagi.

Nantinya penyerahan penghargaan Muri penemuan megalit itu, kata Rechnawati, akan langsung diterima Bupati Lahat Saifudin Aswari Rivai, pada malam pembukaan Festival Sriwijaya XX Sumsel tanggal 15 Oktober 2012.

"Kami sudah menyerahkan semua dokumen yang diperlukan kepada pihak pemberi penilaian penghargaan Muri di Semarang Jawa Tengah," ungkap dia.

Tim Muri hanya tinggal memeriksa situs megalit yang sudah didaftarkan dengan mendatangi satu per satu, untuk dilakukan penghitungan ulang.

"Nantinya kami siap mendampingi tim Muri untuk mendatangi berbagai lokasi penemuan megalit, sekaligus mempromosikan wisata sejarah di Kabupaten Lahat," katanya.

Sementara itu Balai Arkeologi Palembang, Kristantina Indriastuti mengatakan, pada penelitian tahun 2010 Balai arkelogi dan BP3 Jambi bahkan sudah menemukan 191 batu megalit di Desa Talang Pagaragung dan Kecamatan Pajarbulan, belum lagi pada penelitian sebelumnya dan lokasi lain.

"Kalau didata secara keseluruhan yang sudah ditemukan bisa mencapai ribuan dengan penyebaran di beberapa kecamatan, dan bahkan di satu lokasi saja terdapat ratusan jumlahnya dalam berbagai jenis," kata dia.

Penelitian dan pendataan dilakukan Balai dan BP3 Jambi dengan menemukan batu megalit dalam berbagai jenis, seperti tetralith, batu datar, dolmen, lumpang batu, lesung batu, batu gelang dan bilik batu.

Peninggalan sejarah yang sudah berumur ribuan tahun ini ditemukan ada di sekitar perkampungan penduduk, kebun kopi dan persawahan termasuk hutan belantara.

"Memang selama ini daerah Lahat, Pagaralam dan Empatlawang cukup banyak terdapat penemuan sejumlah peninggalan bersejarah dan benda cagar budaya, karena dahulunya daerah tersebut merupakan perkampungan manusia purba," ujarnya. (AS*M033/Z002)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga