Denpasar (ANTARA News) - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia mengingatkan pentingnya misi kemanusiaan dan penghargaaan terhadap pluralisme dalam menjaga iklim investasi di Tanah Air.

"Semangat toleransi atas keberagaman sesungguhnya masih kental dipraktikkan di Indonesia. Hanya saja tak bisa dipungkiri masih ada wacana di luar negeri yang seakan-akan mengindikasikan negara kita diwarnai berbagai konflik," kata Ketua Umum HIPMI Raja Sapta Oktohari saat menjadi pembicara dalam konferensi internasional terkait pemimpin dan kepemudaan, di Kampus Universitas Hindu Indonesia, di Denpasar, Jumat.

Oleh karena itu, keterlibatan pengusaha muda untuk meluruskan dan menjadi duta informasi memegang peranan strategis karena turut menjadi penggerak perekonomian.

"Saudara-saudara bisa melihat buktinya sekarang, khususnya di Bali tidak ada kekuatan-kekuatan kelompok ekstrem maupun bentrok. Iklim investasi masih aman, tidak hanya bisa dilihat kasat mata, tetapi juga dari hasil berbagai lembaga rating," katanya di depan para peserta perwakilan 12 negara itu.

Di sisi lain, kata Raja Sapta, HIPMI walaupun menjadi sebuah perkumpulan para pengusaha, tak lantas selalu berorientasi bisnis dan mengesampingkan misi sosial.

"Kami mempunyai program HIPMI Peduli yang sudah berjalan sejak lima tahun lalu. Melalui program ini, kami turut aktif membantu menjadi relawan dalam penanganan kebencanaan, bukan saja membantu dalam sumbangan berbentuk material, namun terjun langsung hingga membantu proses evakuasi korban," ujarnya.

Menurut dia, yang bisa dipetik dari HIPMI Peduli, bahwa pihaknya yang merupakan perkumpulan pengusaha sekaligus pemilik perusahaan, imbas dari rasa kemanusiaan juga bisa ditularkan pada para pekerja bahwa siapapun yang membutuhkan selayaknya dibantu tanpa memandang perbedaan yang ada.

"Dengan jaringan pengusaha yang luas akan memudahkan terkumpulnya bantuan," ucapnya.

Sementara itu Ketua Bidang II HIPMI Alex Yahya Datuk mengatakan, pihaknya telah terjun langsung membantu korban bencana seperti usai gempa di Aceh, Padang, Sulawesi Tengah dan Yogyakarta dan beberapa daerah lainnya.

"Pada prinsipnya program ataupun gerakan ini tumbuh dari bawah berupa kesadaran anggota yang merasa terpanggil menjadi bagian dari masyarakat. Untuk memberikan bantuan kepada korban bencana itu biasanya kami urunan secara sukarela dari sekitar 45 ribu pengusaha yang tergabung dalam HIPMI," ujar Ketua HIPMI Peduli itu.

Program HIPMI Peduli juga tercermin melalui kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dalam hal pelatihan tanggap darurat bencana, kegiatan donor darah hingga bantuan bedah rumah bagi warga miskin.

"Harapannya agar para pengurus HIPMI tak hanya mampu memimpin perusahaan, sekaligus menjadi pemimpin dalam penanganan kebencanaan," kata Alex Yahya.

(KR-LHS/M026)