Jumat, 24 Oktober 2014

Seratusan orang rusak pos jaga pengelola hutan

| 1.814 Views
id pengrusakan, hutan konversi, sungaijerat, hutan konversi jambi
Jambi, (ANTARA News) - Sedikitnya 100 orang diduga perambah, bertindak anarkis menteror staf patroli perlindungan hutan PT Restorasi Ekosistem Konservasi Indonesia (REKI) dan merusak pos jaga milik pengelola di kawasan Sungaijerat, Jambi.

Hutan konservasi yang hak pengelolaannya dimiliki PT REKI itu pernah didatangi Pangeran Charles dari Kerajaan Inggris yang melihat langsung kawasan hutan pada 2009 lalu.

"Pos jaga kami dirusak massa dengan cara menumbangkan pohon besar, sehingga menimpa atap pos berbentuk rumah adat Melayu tersebut," kata Kepala Departemen Perlindungan Hutan REKI atau lebih didikenal dengan sebutan Hutan Harapan, Urip Wiharjo, kepada wartawan di Jambi, Minggu.

Menurut dia, aksi perusakan itu terjadi dalam waktu singkat, yakni hanya sekitar satu setengah jam, dari pukul 10.00 - 11.30 WIB, Sabtu (6/10) kemarin.

Massa yang bersenjatakan parang panjang dan berbagai jenis senjata tajam lainnya, tidak hanya merusak pos jaga, namun juga merusak papan merk milik Hutan Harapan, perangakat "solar cell", dan portal besi yang ada di sekitar lokasi tersebut.

"Aksi teror dan perusakan ini tercatat yang keempat kalinya, karena sebelumnya pernah terjadi pemukulan dan penahanan anggota staf pengamanan hutan kami. Selain itu juga, massa pernah melakukan aksi pembakaran pos, diduga dilakukan oleh orang yang sama," jelasnya.

Menurut Urip, para pelaku bertindak demikian, karena tidak terima dengan adanya upaya oleh pengelolah hutan yang melarang warga yang umumnya berasal dari luar Provinsi Jambi untuk menjadikan kawasan hutan itu sebagai lokasi perkebunan sawit.

Akibat aksi massa itu, kata dia, PT REKI mengalami kerugian Rp100 juta lebih.

Head of Public Affairs Hutan Harapan, Surya Kusuma, mengatakan, pihaknya akan terus mempertahankan keberadaan hutan ini, karena Hutan Harapan sebagai salah satu pusat penelitian internasional dan juga merupakan hutan dataran rendah yang masih tersisa di Sumatera.

"Tanpa sanksi hukum yang tegas, seluruh hutan di kawasan Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini akan hancur serta dikuasai para spekulan dan mafia lahan. Kami menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kriminal ini kepada pihak berwajib," ujarnya.

Petugas Polisi Hutan (Polhut) dari Dinas Kehutanan Kabupaten Batanghari, Rahman, mengatakan akan memproses secara hukum tindak perusakan tersebut.

Terpisah, Kepala Polisi Sektor Bajubang Ajun Komisaris Polisi, Suhadi Sutan, mengatakan, jika pihaknya bersama Polres batanghari, telah menurunkan 20 orang personil upaya pengamanan dan penghentian perusakan oleh massa.

"Namun saya belum tahu persis perkembangannya, karena sekarang saya sedang berada di jambi," kata Suhadi ketika dikonfirmasi lewat telepon genggamnya.

Hutan Harapan yang dikelola oleh PT REKI ini membentang seluas 101 ribu hektare lebih dan berada di dua provinsi, yakni Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan.

Hutan Harapan adalah eks kawasan pengusahaan Hutan Produksi (HP) yang kini sudah dialihkan kepada PT REKI untuk dikelola dan dipulihkan kembali ekosistemnya (restorasi).

Izin pengelolaan Hutan Harapan ini didasarkan pada SK Menhut No 293/Menhut-II/2007:28, Agustus 2007 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 52.170 ha di Provinsi Sumatera Selatan. SK Menhut No 327/Menhut-II/2010 25 Mei 2010 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 46.385 ha di Provinsi Jambi.

Hutan Harapan dikelola secara non-profit, kegiatannya dibantu oleh lembaga donor dan dikelola sepenuhnya oleh warga Indonesia.

Program restorasi Hutan Harapan ditujukan agar hutan yang terletak di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini bisa dikembalikan menjadi hutan alam seperti semula.

Kawasan hutan ini diharapkan juga akan menjadi tempat dimana komunitas suku terasing di Jambi atau disebut Suku Anak Dalam (SAD) dapat menggantungkan hidup di dalamnya dan memanfaatkan hasil hutan non-kayu.

(KR-BS)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga