Madiun (ANTARA News) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun, Jawa Timur, terus mengembangkan pembudidayaan tanaman kakao di wilayahnya guna mendukung peningkatan perekonomian petani di lereng Gunung Wilis.

Bupati Madiun Muhtarom mengatakan, pembudidayaan tersebut dilakukan melalui kegiatan "Integrasi Kasepo", yakni integrasi penanaman komoditas kakao, sengon, dan porang yang rata-rata berada di hutan lereng Gunung Wilis.

"Melalui pembudidayaan kakao, petani di daerah lereng Gunung Wilis yang tidak dapat menanam padi bisa beralih, sehingga pendapatan ekonomi tetap ada," ujar Bupati di Madiun, Rabu.

Pembudidayaan kakao melalui Integrasi Kasepo ini selain melibatkan para petani juga melibatkan beberapa dinas terkait, seperti Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun), Dinas Pertanian, dan juga Dinas Koperasi dan UMKM untuk memberikan pendampingan dan bantuan.

Di antaranya, Dinas Hutbun memberikan bantuan benih kakao dan pendampingan pemeliharaan tanaman kakao. Dinas Pertanian memberikan bantuan pupuk dan obat pembasmi hama. Kemudian, Dinas Koperasi dan UMKM memberikan bantuan kredit modal lunak untuk pengembangan industri pengolahan biji kakao.

"Pembudidayaan ini juga didukung dengan adanya infrastruktur pabrik mini coklat di Desa Segulung, Kecamatan Dagangan. Biji kakao yang dihasilkan petani bisa diolah di pabrik tersebut menjadi bubuk coklat, minuman coklat, dan permen coklat," papar Muhtarom.

Biji kakao juga dapat dijual langsung ke para pedagang pengepul untuk kemudian disetorkan ke pabrik-pabrik tertentu yang ada di kota besar.

Bupati menambahkan, pembudidayaan kakao di Kabupaten Madiun sebetulnya sudah cukup lama dilakukan oleh para petani. Hanya saja, waktu itu belum maksimal. Pihaknya berkeinginan untuk terus mengembangkan produksi tanaman tersebut.

Hingga kini luas lahan pembudidayaan kakao di Kabupaten Madiun mencapai 4.180 hektare yang terdapat di kecamatan lereng Wilis, yakni Dagangan dan Kare. Sementara hasil produksi kakao setiap tahunnya rata-rata mencapai 406 ton dengan nilai produksi mencapai Rp8 miliar dan melibatkan sekitar 12.525 kepala keluarga.

"Pembudidayaan tanaman kakao ini sangat penting di Kabupaten Madiun, karena selain ekonomis, kakao juga membantu rehabilitasi hutan di lereng Gunung Wilis," tutur Bupati.
(072/C004)