Jakarta (ANTARA News) - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan Indonesia dan Australia akan mengoptimalkan forum bilateral guna menyelesaikan isu perdagangan kedua negara.

Hal itu diungkapkan Gita usai bertemu dengan Menteri Perdagangan Australia Craig Emeron di acara "Trade Ministers Meeting Indonesia-Australia Ke-10", di Canberra, seperti dikutip siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Dalam pertemuan tingkat menteri itu, Indonesia menyampaikan beberapa isu perdagangan yang menjadi perhatian kedua negara, seperti masalah "illegal logging prohibition bill" dan "tobacco plain packaging bill" yang dapat berdampak negatif terhadap Indonesia.

"Pembahasan mengenai kedua rancangan undang-undang tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Australia," katanya.

Gita juga menyampaikan apresiasi terhadap Australia atas perkembangan akses buah manggis Indonesia ke pasar Australia.

"Kita juga mengarapkan hal yang sama dapat dilakukan terhadap produk buah tropis Indonesia lainnya, terutama mangga dan salak," kata Gita.

Sementara itu, delegasi Australia menyampaikan beberapa hal yang menjadi perhatian mereka. Salah satunya adalah isu produk sapi, karena 10.050 ekor sapi masih tertahan di wilayah karantina Lampung dan Tangerang.

Selain itu, Australia menyampaikan perhatiannya terhadap peraturan impor produk holtikultura di Indonesia, divestasi pelarangan ekspor bahan mentah produk tambang, serta iklim perdagangan dan investasi di Indonesia. Kedua menteri sepakat untuk menyelesaikan berbagai isu perdagangan tersebut melalui berbagai jalur komunikasi yang tersedia.

Kedua Mendag kemudian mendiskusikan peran Indonesia yang akan menjadi tuan rumah pertemuan APEC dan WTO Ministerial Meeting pada tahun 2013.

Australia menyampaikan kesiapannya untuk membantu Indonesia dalam pelaksanaan kedua kegiatan tersebut.

Ekspor Indonesia ke Australia dalam kurun waktu 2006-2010 tercatat meningkat 8.47 persen, dengan tiga produk ekspor yang mengalami kenaikan cukup tinggi di tahun 2010, yaitu emas (termasuk pelat emas dengan platinum) sebesar 27,40 persen, piranti penerima sinyal untuk televisi 52.21 persen, dan kayu 17 persen.

Australia saat ini merupakan negara tujuan ekspor ke-15 besar bagi Indonesia, sementara di bidang investasi, Australia berpartisipasi di sekitar 14 proyek di Indonesia dengan arus investasi sebesar sekitar USD 196,4 miliar pada semester pertama 2010.
(P012)