Senin, 23 Oktober 2017

Aria Bima: seruan LSM RAN ancam ekonomi indonesia

| 5.440 Views
Aria Bima: seruan LSM RAN ancam ekonomi indonesia
Aria Bima (FOTO ANTARA/Andika Wahyu)
Jakarta (ANTARA News) - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima mengatakan, seruan LSM internasional Rainforest Action Network (RAN) agar perusahaan luar negeri tidak membeli hasil hutan Indonesia merupakan ancaman terhadap perekonomian Indonesia dan harus dilawan.

"Seruan itu adalah ancaman dan terkait perang dagang dan tentunya mengancam ekonomi Indonesia. Ini harus dilawan. Pemerintah harus tegas mengatasi tudingan itu," kata Aria Bima di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu.

Aria menilai, kecaman LSM yang bermarkas di New York itu merupakan ancaman terhadap perekonomian nasional dan upaya mempermalukan pemerintah RI.

Kecaman RAN dilakukan beberapa hari setelah SBY menerima ''Leadership Environment Award'' dari tiga LSM internasional (WRI, WWF dan TNC) di New York sebagai penghargaan terhadap Indonesia yang telah berusaha meningkatkan peranannya guna mengatasi persoalan dunia.

"Pemerintah harus tegas. Kita nggak ada urusan dengan RAN. Kita negara berdaulat. Nggak usah digurui apalagi mendikte bagaimana cara melestarikan lingkungan. RAN jangan coba-coba menghujat.Apalagi ini menyangkut presiden. Bagaimana pun, SBY sebagai Kepala Negara harus dibela. Di dalam negeri kita boleh beda pendapat, tapi kalau sudah menghadapi asing, kita harus membela Kepala Negara," kata politisi PDIP itu.

Aria juga meminta pemerintah, termasuk Menteri Perdagangan Gita Wirjawan agar lebih tegas menghadapi kampanye hitam yang juga gencar dilakukan LSM asing di Indonesia.

"Ini ancaman. Ini perang dagang kok. Produk mereka bisa banjiri Indonesia kenapa kalau kita selalu dipersulit? Faktanya, produk kita selalu dicap macam-macam, seperti beras mengandung arsenik, produk hutan tidak ramah lingkungan, dan lainnya," tegas dia.

RAN menuduh kebijakan pemerintah Indonesia di bidang industri, kerap mengorbankan lingkungan dan satwa langka demi kepentingan bisnis serta mendesak perusahaan-perusahaan di luar negeri agar tidak membeli hasil hutan Indonesia.

(ANTARA)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca