Rabu, 3 September 2014

Bantaeng cocok jadi produsen kedelai

Senin, 22 Oktober 2012 21:31 WIB | 2.281 Views
Bantaeng cocok jadi produsen kedelai
Gita Wirjawan (berbatik di tengah) bersama Agus Arifin Nu'mang (berbaju dinas hijau) saat meninjau Pasar Lambocca Bantaeng, Sulsel, Senin (22/10). (ANTARA/Yusran Uccang)
Bantaeng (ANTARA News) - Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, menilai Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel) cocok menjadi salah satu produsen kedelai guna menopang kebutuhan konsumsi nasional yang mencapai 2,5 juta ton per tahun.

"Produksi nasional saat ini hanya 700.000 ton, akibatnya kita impor 1,8 juta ton kedelai per tahunnya, makanya saya ingin kedelai ini dipelajari untuk ditanam di wilayah yang iklimnya cocok, seperti Kabupaten Bantaeng ini," kata Gita usai acara peresmian Pasar Lambocca, Kabupaten Bantaeng, Sulsel, Senin.

Menurut Gita, konsumsi kedelai dan produk turunannya, seperti tempe, tahu, dan kecap hanya akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk, sehingga dikhawatirkan Indonesia akan terus menerus mengimpor kedelai dengan harga yang tidak menentu.

"Selama ini kita impor dari Amerika Serikat, Brazil, Argentina dengan harga yang tidak stabil. Bagaimana kalau tanah Bantaeng dan wilayah lain di Sulawesi Selatan juga ditanami kedelai?," kata Gita di hadapan Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arfin Nu`mang, dan Bupati Bantaeng, M. Nurdin Abdullah.

Sebagai langkah awal untuk menciptakan pasar yang nyaman bagi petani kedelai, Gita mengatakan, pemerintah dalam waktu dekat akan menerbitkan aturan tentang harga pokok pemerintah (HPP) untuk kedelai, sehingga petani mendapat jaminan akan mendapat keuntungan dari menanam kedelai.

Gita megemukakan, Kabupaten Bantaeng dan wilayah lainnya bisa belajar dari kesuksesan Kabupaten Jember, Jawa Timur, dalam hal peningkatan produktivitas kedelai maupun jenis edamame untuk diekspor.

"Tidak harus selalu alih teknologi dari luar negeri, coba saja ditiru bagaimana di Jember produktivitas 3,5 ton per hektare, yang lebih tinggi dibanding rata-rata nasional 1,1 ton per hektare," katanya.

Gita menyatakan, prihatin dengan ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia yang masih rendah, karena kedelai yang produk turunannya tahu dan tempe merupakan makanan konsumsi sehari-hari rakyat Indonesia.

Padahal, ia mengemukakan, rendahnya jumlah produksi kedelai nasional menyebabkan harga komoditas tersebut melambung tinggi, serta menyebabkan hilangnya tahu dan tempe dari sejumlah pasar tradisional pada Agustus-September 2012.

Kabupaten Bantaeng yang terletak 120 kilometer di selatan Makassar memiliki luas 395,83 kilometer, yang 80 persen wilayahnya merupakan lahan kering yang cocok untuk bercocok tanam.

Namun, petani setempat lebih memilih menanam jagung sebagai tanaman sela di sawah mereka daripada menanam kedelai yang harganya mereka anggap tidak jelas keuntungannya.
(T.P012)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga