Minggu, 26 Oktober 2014

Konser-juggling "Duo" dari Jerome Thomas

| 2.125 Views
id jerome thomas, sirkus kontemporer, sirkus prancis, juggling, juggler, jongleur
Konser-juggling
Seniman sirkus Perancis Jerome Thomas berduet dengan pemain Akordeon Jean Francois. Pertunjukan sirkus kontemporer ini mengkolaborasikan seni musik dan juggling menghadirkan dialog imajiner dalam harmoni dua seni yang berbeda. (ANTARA/Teresia May)
Jakarta (ANTARA News) - Penikmat seni di Jakarta disuguhi tontonan unik dari seniman sirkus Prancis Jerome Thomas, Rabu (24/10) malam.

Mereka mungkin tidak asing dengan atraksi juggling, lempar-tangkap dua benda atau lebih biasanya bola kecil dengan kedua tangan, yang biasanya ditampilkan dalam pertunjukan sulap. Tetapi, Thomas memberi sentuhan berbeda dalam atraksinya malam itu, ia ber-juggling diiringi langsung oleh permainan akordeon Jean-Francois Baez.

Pertunjukkan juggling diiringi musik live, bukan pemutaran musik ceria seperti yang umumnya disaksikan itu bertajuk "Duo".

Dengan memperhitungkan ketepatan, ketelitian, dan konsentrasi, Thomas mengikuti irama yang dimainkan Baez pada setiap geraknya.

Thomas membuka sirkus kontemporernya malam itu dengan memamerkan kepiawaiannya mengolah tubuh. Ia meliuk, berputar, dan meloncat ke sana ke mari di depan ratusan penonton yang datang ke Gedung Kesenian Jakarta malam itu.

Bagi yang tidak teliti, mereka akan mengira itu pertunjukan tari kontemporer. Nyatanya, Thomas memadukan musik live, gerak tubuh, dan keterampilannya sebagai jongleur pada pertunjukannya.

Thomas dengan apik meramu kecepatan, ketelitian, dan konsentrasinya sehingga tongkat yang didirikannya di telapak kaki kanannya, mampu ia pindahkan tanpa menggunakan bantuan tangan.

Dengan iringan akordeon yang melantunkan irama khas Prancis itu, Jerome bergerak dengan leluasa ketika ia juggling dengan tiga buah bola karet berukuran sekepalan tangan tanpa membuat bola terjatuh.

Sesekali, ia berputar ketika bola melayang di udara dan kembali menangkapnya. Ia juga mampu menaruh sebuah bola di dahinya dan tetap melakukan juggling sambil menggoyangkan badannya mengikuti irama.

Thomas menunjukkan kecepatan tangan dan kesesuaian irama dengan atraksinya dengan menirukan conveyor belt, ban berjalan. Ia menggelindingkan tiga bola tersebut dengan jarak yang telah ia pertimbangkan dalam waktu yang bersamaan.

Ketiga bola itu bergulir seperti benda yang ditaruh di atas ban berjalan. Ia secara terus-menerus mengambil bola terdepan dan kembali menggulingkannya di paling belakang. Aksi gulir bola itu beri variasi seperti memantulkan dan menangkap kembali sebuah bola tanpa kedodoran menagani dua bola lainnya.

Gerakannya itu pun selslu mengikuti alunan akordeon Baez. Ketika musik bertempo cepat, Thomas mengimbanginya dengan gerakan tangan yang cepat pula.

Atau lihat atraksinya ketika ia bermain-main dengan pin bowling. Ia ber-juggling sambil bergoyang dan berputar dengan kakiknya yang lincah tanpa satu pin pun yang terjatuh.

Thomas tak lupa memasukkan unsur komik dalam pertunjukan tanpa kata-katanya itu. Seperti ketika ia membuang pin bowling saau demi satu. Pin terakhir, ia memutar-mutar pin itu seperti hendak membuangnya ke arah penonton. Ketika penonton tertawa melihat aksinya, ia mengetuk-ngetukkan pin ke telapk tangannya dan bersikap seolah-olah menantang penonton.

Thomas tidak hanya memainkan tiga objek dalam setiap aksi juggling-nya. Ketika puas dengan tiga bola, ia menambahnya menjadi lima.

Sambil duduk di kursi, ia memantulkan kelima bola dan menangkapnya secara bergantian sehingga denuman dari bola-bola itu mengiringi permainan akordeon Baez. Musik pun mati, Thomas tidak kehilangan ritmenya dan menggantinya dengan hentakkan kakinya dan memproduksi gumam dan senandung dengan mulutnya.

Sambil berdiri, Thomas dengan cepat memutar badannya ketika kelima bola melayang di udara dan kembali ber-juggling tanpa satu bola yang tercecer. Sesekali, entah disengaja atau tidak, ia berlagak tidak mampu menagkap sebuah bola. Ia pun melakukanny dengan gaya teatrikal, berekspresi terkejut dan memekik kaget.

Tak hanya dengan bola dan pin, Thomas tidak berhenti memukau penontonnya dengan menggunakan benda yang tidak lazim dipakai untuk juggling, kantong plastik dan bulu.

Ia melempar helai demi helai bulu berwarna putih dan menagkapnya sebelum  menyentuh lantai. Ia juga menggoyangkan badannya sampai akhirnya ia beratraksi dengan lebih dari tiga bulu sekaligus.

Atraksinya yang melibatkan plastik, ia memgang plastik dengan posisi stabil, selurusan dengan tangannya. Ia sedikit menghentak dan melepas plastik sehingga plastik itu melayang di udara beberapa centi lebih tinggi dari posisi awalnya. Bergantian, ia memasukkan tangannya ke dalam plastik itu ketika si plastik kembali pada posisi yang sejajar dengan tangannya.

Ia juga ber-junggling dengan empat plastik yang dibawanya. Ia melempar-tangkap plastik itu mengikuti arah plastik terbang. Ia terlihat santai menggoyangkan badannya meski harus menebak ke mana arah plastik itu terbang.

Kerja sama Indonesia-Prancis

"Duo" merupakan bagian dari kerja sama Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) dengan Institut Francais-Indonesia (IFI) atau dulu yang dikenal dengan Centre Culturel Francais (CCF).

"Mendukung program kedua belah pihak yang berhubungan dengan seni dan budaya, sumber daya dalam bidang seni dan budaya," kata Bambang Subekti, Pelaksana Tugas Direktur GKJ.

GKJ dan IFI memperkuat kerja sama yang telah terjalin sejak 1988 itu dengan menandatangani nota kesepahaman sebagai mitra kerja untuk periode 2012-2013.

Bambang melihat program ini sebagai barometer perkembangan kesenian di negara lain.

"Perbandingan untuk memajukan budaya kita," jelasnya.

Ia berharap dapat melakukan kerja sama juga dengan sejumlah kedutaan besar asing lainnya.

(nta)



Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca