Sabtu, 20 Desember 2014

Rusuh di Rakhine Myamnar ciptakan 22 ribu pengungsi

| 1.918 Views
id rakhine, rusuh myanmar
Rusuh di Rakhine Myamnar ciptakan 22 ribu pengungsi
Foto dokumentasi Sejumlah warga etnis Rohingya yang mengungsi dari Myanmar duduk di sebuah perahu saat mereka mencoba mencapai Bangladesh di Teknaf, Juni 2012. (REUTERS/Andrew Biraj)
Minbya, Myanmar (ANTARA News)- Lebih dari 22.000 orang, sebagian besar masyarakat Muslim, terlantar di Myanmar barat, kata PBB pada Minggu. Pernyataan PBB itu diterbitkan  setelah gelombang kekerasan dan pembakaran terbaru menewaskan puluhan orang.

Seluruh permukiman dibakar dalam kerusuhan di negara bagian Rakhine pada pekan ini, yang merusak reformasi negara itu dan menghambat usaha pertolongan di daerah tersebut, tempat 75.000 orang mengungsi di kamp penuh sesak setelah bentrokan antara kelompok Buddha dan Muslim pada Juni.

Kepala perwakilan PBB di Yangon, Ashok Nigam mengatakan pemerintah memperkirakan Ahad pagi ada 22.587 orang terlantar dan 4.665 rumah dibakar dalam pertumpahan darah terbaru itu.

"Kami mengatakan ini adalah perkiraan terbaru dan kami memperkirakan kemungkinan jumlah itu akan bertambah," katanya kepada AFP, dan menambahkan 21.700 orang yang kehilangan tempat tinggal adalah warga warga Rohingya yang Muslim.

"Ini adalah orang-orang yang rumahnya dibakar, mereka masih berada di lokasi yang sama,"katanya kepada AFP, mengindikasikan bahwa ribuan orang lagi bergerak menuju ibu kota negara bagian itu Sittwe mungkin tidak termasuk dalam perkiraan itu.

Bentrokan terbaru itu menewaskan lebih dari 80 orang, kata seorang pejabat pemerintah, yang menambah jumlah yang tewas menjadi lebih dari 170 orang sejak krisis meletus Juni.

Di Mindya, salah satu dari delapan kotapraja-kotapraja yang terkena dampak bentrokan itu, seorang perwira senior polisi mengatakan kepada AFP bahwa lebih dari 4.000 orang, sebagian besar warga Rohingya kehilangan tempat tinggak setelah ratusan properti di enam desa dibakar.

"Sejumlah korban masih menumpang di rumah-rumah keluarga mereka, sejumlah lainnya di kamp-kamp sementara, mereka ada yang tinggal dekat daerah-daerah yang dibakar," katanya dan menambahkan kehadiran aparat keamanan yang banyak mencegah terjadi bentrokan lebih lanjut.

"Mereka tinggal antara para warga Muslim dan warga Rakhine," katanya.

Nigam, yang baru saja pulang dari kunjungan ke daerah itu, mengatakan PBB prihatin atas kemungkinan meluasnya kerusakan dan itu akan menjadi "tantangan lebih berat" untuk mencapai penduduk yang terlantar di beberapa daerah yang terkena dampak itu.

Ia mengatakan PBB telah mulai memobilisasi untuk mengangkut pangan dan membangun tempat penampungan bagi masyarakat yang mengungsi,"tetapi kami memerlukan segera sumber-sumber lagi".

Perahu-perahu motor yang membawa pengungsi tiba di Sittwe mencari tempat penampungan di kamp-kamp di pinggiran kota itu yang sudah dipadati warga Rohingya setelah kerusuhan Juni lalu.

Juru bicara pemerintah Rakhine Hla Thin Sabtu mengatakan sekitar 6.000 orang telah tiba di Sittwe, yang menimbulkan tantangan pada pihak berwenang lokal yang sedang mencari tempat penampungan bagi mereka ke daerah lain.

Warga Rohingya yang berjumlah 800.000 orang di Myanmar dianggap pemerintah sebagai imigran ilegal dari Bangladesh dan banyak warga Myanmar menyebut mereka "Benggali"-- dan menghadapi diskiriminasi yang para aktivis katakan menyebabkan mereka terasing dari warga Buddha.

Kelompok hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW) yang bermarkas di New York Sabtu menyiarkan gambar satelit yang menunjukkan "kehancuran rumah-rumah yang luas dan properti lainnya dan daerah yang banyak dihuni warga Rohingya-- di mana terdapat satu pipa penting untuk mengirim gas Myanmar ke China.

(H-RN/B002)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga