Mataram (ANTARA News) - Ketua Ikatan Setiakawan Wartawan Indonesia-Malaysia (Iswami) Indonesia Saiful Hadi mengatakan, pihaknya berupaya menjembatani pernyelesaian berbagai persoalan terutama terkait dengan pemberitaan yang mempengeruhi hubungan antara Indonesia dan Malaysia.

"Kami berupaya menjembatani penyelesaian berbagai persoalan terutama yang menyangkut pemberitaan soal tenaga kerja Indonesia (TKI) yang selama ini mempengaruhi hubungan kedua negara serumpun itu," katanya ketika bersilaturrahim dengan sejumlah pengurus Iswami Malaysia di Mataram, Sabtu malam.

Ia mengatakan, pemberitaan yang menyangkut kedua negara bertetangga selama sering bias, misalnya yang menyangkut soal TKI. Ini berpengaruh terhadap hubungan Indonesia Malaysia.

Menurut Saiful yang juga Direktur Utama Perum LKBN Antara, penggunaan kata Indon tersebut sering digunakan oleh para TKI yang bekerja di Malaysia ketika memperkenalkan diri.

Demikian juga pemberitaan yang menyangkut klaim terhadap produk batik yang sempat muncul. Kain yang dibuat di Malaysia itu sebenarnya bukan batik, tetapi produk kain yang bermotif batik, karena sebenarnya batik hanya ada di Pulau jawa.

"Batik adalah kain yang dibuat dengan `canting` (alat untuk menuliskan pola batik dan ini hanya ada di Pulau Jawa. Di Malaysia dan di daerah lainnya di Indonesia, sebenarnya bukan batik, tetapi kain yang bermotif batik," ujarnya.

Menurut dia, yang memproduksi kain bermotif batik tersebut sebenarnya warga negara Malaysia yang berasal dari Jawa yang tinggal di negeri jiran itu selama puluhan tahun. Warga negara Malaysia banyak yang berasal dari Indonesia, seperti Jawa, Suku Bugis dan Banjar.

Bahkan, kata Saiful, orang Indonesia yang tinggal di Malaysia banyak yang menempati jabatan penting, sepeti wakil menteri di Negeri Jiran itu.

Karena itu, katanya, Iswami yang dibentuk di Malaysia tiga tahun lalu akan berupaya menjembatani penyelesaian berbagai persoalan terutama yang menyangkut pemberitaan media massa yang mempengaruhi hubungan Indonesia dan Malaysia.

"Dalam upaya mencegah munculnya pemberitaan yang bias menyangkut kedua negara serumpun ini kami pernah mengadakan program pertukaran wartawan agar wartawan dari kedua negara ini bisa memahami persoalan yang sebenarnya," katanya.

Wakil Ketua Iswami Malaysia Datuk Chamil Wariya mengatakan, pihaknya memahami bahwa penggunaan kata Indon dalam pemberitaan media massa di Malaysia menyinggung perasaan masyarakat Indonesia.

"Karena itu kami akan memperhalus penggunaan istilah tersebut agar tidak menyinggung perasaan masyarakat Indonesia. Penggunaan istilah `Indon` itu memang sensitif. kami tidak akan menggunakan istilah itu lagi. TKI yang bekerja di Malaysia sering kenalkan diri sebagai Indon, padahal kata itu bermakna jelek," katanya.
(KR-WLD/M025)