Jakarta (ANTARA News) - Mata uang rupiah pada Kamis pagi bergerak melemah tipis sebesar lima poin seiring investor mencemaskan masalah fiskal AS sehingga mendorong permintaan mata uang AS sebagai safe haven, kata pengamat ekonomi di Jakarta.

"Euforia terpilihnya kembali Presiden Barack Obama terhadap aset berisiko hanya sementara. Investor mencemaskan masalah fiskal AS yang mendorong permintaan untuk mata uang AS sebagai safe haven," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Kamis.

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta bergerak melemah sebesar lima poin menjadi Rp9.610 dibanding posisi sebelumnya Rp9.605 per dolar AS.

Ariston menambahkan, sentimen negatif di pasar uang berisiko masih cukup kuat, kekhawatiran pelaku pasar terhadap voting parlemen Yunani atas paket penghematan terbaru masih membayangi.

Selain itu, lanjut dia, bank sentral Eropa (ECB) yang mengemukakan outlook pertumbuhan zona Euro yang negatif, menambah kekhawatiran investor untuk masuk dalam aset berisiko.

Analis Trust Securities Reza Priyambada menambahkan, pergerakan nilai tukar rupiah dipicu masih wait and see investor terhadap beberapa agenda penting, mulai dari langkah Yunani yang meminta kepada politisi untuk menyetujui penghematan hingga 17,3 miliar dolar AS yang diperoleh dari kebijakan kenaikan pajak dan pemotongan dana pensiun.

Lalu, dikatakan dia, pelaku pasar juga masih menunggu pengumuman suku bunga dari ECB, Bank Sentral Korsel, dan Bank Indonesia (BI). Sementara dari hasil pemilu AS, juga dinilai tidak ada perubahan outlook kebijakan fiskal maupun moneter.

(KR-ZMF)