Senin, 22 September 2014

Festival Lokananta hidupkan kembali industri musik Indonesia

Senin, 26 November 2012 20:07 WIB | 4.087 Views
Festival Lokananta hidupkan kembali industri musik Indonesia
Penyanyi asal Ambon, Glenn Fredly menghadiri peluncuran premier album DVD terbaru "Glenn Fredly And The Bakucakar live From Lokananta" di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Selasa (2/10). Album DVD itu merupakan album yang dibuat di Studio musik dan label rekaman bersejarah di Solo dalam upaya Glenn Fredly menjadikan studio Lokananta sebagai cagar budaya musik Indonesia. (FOTO ANTARA/Teresia May)
Solo (ANTARA News) - Festival Lokananta digelar sejumlah kelompok muda yang bergiat dalam gelaran subkultural, untuk menghidupkan kembali cikal bakal industri musik di Indonesia itu. Festival Lokananta digelar di Lokananta, Kota Solo, pada 30 November hingga 1 Desember 2012.

Lokananta sangat ternama pada masa lalu sebagai perusahaan perekam musik melalui berbagai piringan hitamnya. Musisi Sam Saimun, Titik Puspa, dan banyak artis besar nasional lain pada masa itu, sebagai misal, menanjak karirnya dari dapur rekaman ini.

Festival Lokananta yang mengedepankan aspek musik dalam bermacam kemasan dengan dua panggung akan menampilkan artis nasional dari beragam genre, "Antara lain Saringai (Solo), Homohenic (Bandung), Down for Life, Orkes keroncong, Swastika, dan Samaioona," kata Ketua Penyelenggara Festival Lokananta, Stefanus Aji, di Solo, Senin.

"Kami menggelar festival ini, bekerja sama dengan Perum Percetaan Negara Republik Indonesia Cabang Lokananta Surakarta, katanya.

Menurut dia, Festival Lokananta juga akan ditunjang dengan beberapa kegiatan lainnya di antaranya, workshop rekaman, pameran foro konser, dan pemutaran film dokumenter musik serta tidak ketinggalan sejumlah stan penjual merchandese dan alat musik.

Ia menjelaskan, Lokananta merupakan perusahaan rekaman pertama di Indonesia milik Pemerintah yang didirikan pada tanggal 29 Oktober 1956. Hal ini, Lokananta bisa dikatakan cikal bakal industri musik di Indonesia.

"Pada waktu itu, digagas R Maladi di Kota Solo, dan langsung menjadi promadona pada zamannya," katanya. Maladi kemudian menjadi menteri penerangan Indonesia dengan motto-nya "Dian Tak Kunjung Padam".

Lokananta yang artinya gamelan (alat musik Jawa) yang ada di khayangan dapat berbunyi sendiri tanpa penabuh. Hampir semua rilisan awal piringan hitam dan lagu-lagu yang beredar di Indonesia berasal dari Indsutri musik Lokananta.

Menurut dia, lagu kebangsaan Indonesia Raya dan banyak lagu legendaris lainnya seperti Bengawan Solo, direkam pertama kali dan digandakan di Lokananta.

Bahkan, artis-artis legendaris antara lain Bing Slamet, Lilis Suryani, Gesang, Wajinah, dalang Ki Narto Sabdo, pelawak Basyo dan lainnya juga pernah melakukan rekaman serta dirilis Lokananta.

Namun, kata diam masa keemasan tersebut sudah berlalu, dan kini Lokananta semakin terpuruk dihajar zaman.

Apalagi, kata dia, setelah dibubarkannya Departemen Penerangan yang sebelumnya menaungi dan kini berpindah tangan ke Perum PNRI hampir tidak dikenal lagi oleh masyarakat luas.

Namun, kata dia, dengan kepedulian para insan musik Indonesia mulai tergugah setelah melihat kondisi Lokananta saat ini.

Para artis yang peduli antara lain Glenn Fredly hingga White Shoes and The Couples Company juga musisi lainnya melakukan sesi rekaman di Lokananta sekaligus membuat komunitas bernama "Sahabat Lokananta".

"Hal itu, semua hanya untuk menghidupkan kembali Lokananta yang dulunya cikal bakal industri rekaman musik di Indonesia ini," katanya.

Kepala Perum PNRI Cabang Lokananta Surakarta Pendi Heryadi menjelaskan, pihaknya sanga mendukung setiap kegiatan yang menyangkut nama Lokananta agar perusahaan Industri rekaman musik ini kembali di tengah masyarakat.

"Kami sempat mengalami vakum tidak ada kegiatan selama 10 tahun. Namun, pemerintah telah melakukan renovasi ruangan studio kini menjadi cukup megah dan paling luas di Indonesia," katanya.

Namun, pihaknya kini hanya terbentur terbatasnya anggaran untuk melakukan sosialisasi tentang studio yang dimiliki Lokananta.

Hal ini, diharapkan bisa mengenalkan kembali Lokananta menjadi tempat industri rekaman musik bukan saja orkes keroncong dan alat musik Jawa saja, tetapi untuk musik pop maupun rock terutama generasi muda.

"Kami tidak kalah dengan industri musik yang modern atau serbal digital. Karena, kami juga didukung alat-alat rekaman model lama tetapi berkualitas buatan Inggris dan Jerman," katanya. (*)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga