Sampai sekarang kami tidak merasakan hasil yang nyata dari komersialisasi kawasan GBK. Buktinya banyak induk organisasi yang tidak mendapatkan manfaat nyata.
Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum PB Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (Forki) Hendardji Soepandji meminta pemerintah agar meninjau ulang sejumlah perjanjian bisnis dengan swasta yang memakai kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta.

"Harus ada negosiasi ulang peruntukan kawasan GBK menjadi kawasan pusat pembinaan terpadu bagi para atlet. Sehingga bukan malah menguntungkan pebisnis tapi olahraga dirugikan," kata Hendardji dalam diskusi panel "Revitalisasi Fungsi Gelora Bung Karno, Mungkinkah?" di Jakarta, Selasa.

Dia menginginkan gelanggang olahraga yang sekarang lebih akrab sebagai pusat perbelanjaan dan hotel dikembalikan fungsi awalnya sebagai pusat pembinaan dan pengembangan olahraga.

"Sampai sekarang kami tidak merasakan hasil yang nyata dari komersialisasi kawasan GBK. Buktinya banyak induk organisasi yang tidak mendapatkan manfaat nyata. Malah pendanaan untuk kami kurang, kami kesulitan membayar uang sewa kantor dan tempat latihan," kata mantan calon gubernur DKI Jakarta itu.

Pengelola GBK memberlakukan uang sewa tinggi kepada induk organisasi cabang olahraga dengan jumlah sewa yang memberatkan. Manajemen GBK tidak bisa disalahkan begitu saja karena mereka menjalankan amanat undang-undang Badan Layanan Umum (BLU).

Sistem BLU mengharuskan pengelola memungut uang kepada pemakai fasilitas GBK baik itu induk organisasi ataupun masyarakat umum. Selanjutnya dari dana yang terkumpul akan diserahkan kepada negara.

Sejatinya pengembangan GBK menjadi area bisnis dimaksudkan sebagai sumber penghasilan. Pemasukan itu akan dimanfaatkan untuk pengembangan olahraga secara keseluruhan.

Namun, Hendardji melihat tujuan awal pengembangan bisnis tersebut tidak memberikan dampak nyata terhadap perkembangan olahraga.

"Kami tahu apabila sebesar 15 persen keuntungan GBK dari pengembangan bisnis itu akan dialokasikan untuk olahraga. Tapi kenyataannya tidak terlihat, lihat saja fasilitas di gelora yang hampir sama dengan keadaan GBK empat puluh tahun yang lalu," katanya.

Kondisi yang ada di area GBK saat ini, fasilitas sederhana seperti toilet tidak berfungsi dengan baik dan sangat bertolak belakang dengan kamar kecil pusat pebelanjaan dan hotel yang memakai tanah GBK.

"GBK jangan hanya dilihat sebagai sarana olahraga, tapi sebagai awal mula pembangunan Indonesia secara menyeluruh," katanya.

Di masa sekarang, peran GBK semakin bergeser dari alat pembangun nasionalisme dan karakter menjadi gelanggang bisnis serta ekonomi.

Hendardji mencontohkan perkembangan ekonomi China yang melejit karena olahraga.

"Lihatlah China mengalami perkembangan ekonomi pesat setelah ditunjuk menggelar Olimpiade 2008. Penunjukkan dilakukan pada tahun 2000, dan dalam kurun waktu sekitar delapan tahun ternyata mereka mampu meroket karena menghelat Olimpiade," katanya.

Menurutnya, keberhasilan China memajukan ekonomi tidak terlepas dari pengembangan terpadu kualitas olahraganya.

(A061/a032)

Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2012