Kamis, 31 Juli 2014

Warisan Raden Saleh, sang pembaru

Kamis, 13 Desember 2012 13:22 WIB | 4.577 Views
Warisan Raden Saleh, sang pembaru
Lukisan potret Raden Saleh di Rijksmuseum, Belanda. (Rijksmuseum)
Jakarta (ANTARA News) - Peninggalan Raden Saleh bukan hanya sketsa, litografi, gambar, dan lukisan-lukisan indah bernilai tinggi. Pelukis yang terlahir dengan nama Raden Saleh Sjarif Bustaman itu juga mewariskan kebanggaan menjadi bagian dari bangsa yang melahirkan seorang maestro.

Direktur Centre for Southeast Asian Art di Passau, Jerman, Werner Kraus, mengatakan, buku-buku sejarah seni rupa Jerman mencatat nama Raden Saleh sebagai pelukis yang ikut mewarnai perkembangan seni di negara Eropa itu.

"Saat dia tinggal di Dresden dan mengerjakan karya-karyanya, dia sangat inventif. Dia mulai menggambar adegan oriental, lukisan oriental seperti perburuan singa dan harimau. Belum ada orang lain di Jerman yang melakukannya," kata Kraus, yang menghabiskan 15 tahun waktunya untuk melakukan penelitian tentang Raden Saleh.

Yang lebih penting lagi, menurut Kraus, pada masanya Raden Saleh membawa benih modernitas ke jagad seni rupa Indonesia. Tanpa dia, perjalanan sejarah seni rupa Indonesia akan berbeda.

"Apa yang terjadi sebelum Raden Saleh? Hampir tidak ada karena melukis tidak terlalu menjadi bagian dari budaya Indonesia," kata Kraus di GoetheHaus Jakarta, Selasa (11/12) petang lalu.

Pada masa itu, ia menjelaskan, seni lukis dan gambar belum menjadi bagian menonjol dalam budaya Indonesia yang didominasi oleh seni pertunjukan seperti tari, musik, dan teater.

Gambar dan lukisan yang ada hanya berupa ilustrasi, beberapa di antaranya pada lontar. Kebanyakan hanya memuat gambar-gambar semacam wayang, bukan lukisan bergaya naturalis.

Raden Saleh memulai sesuatu yang disebut Kraus sebagai a new way of art (seni baru).

Kraus lebih suka menyebut Raden Saleh sebagai pembawa kebaruan, dan bukan kemodernan karena makna modern berubah setiap waktu. Yang disebut modern pada masa itu, tahun 1863, sudah tidak modern lagi beberapa tahun setelahnya.

"Mungkin lebih masuk akal kalau kita menyebut apa yang dia lakukan sebagai gaya melukis Indonesia yang baru ketimbang modern," katanya.

"Saya yakin, sebagai seorang seniman dia memulai cara baru untuk melihat dunia dan mentransformasikannya. Tanpa Raden Saleh, sejarah seni rupa Indonesia akan berkembang dengan cara yang berbeda," katanya.

Akademisi yang banyak meneliti perkembangan awal seni rupa modern Indonesia itu menjelaskan, Raden Saleh tidak hanya memberikan contoh baik kepada seniman lain di Tanah Air dengan karya-karya hebatnya.

Tahun 1864, Raden Saleh membuat buku panduan melukis untuk anak-anak sekolah. Kraus memperlihatkan bagian dari buku panduan itu dalam bukunya yang berjudul "Raden Saleh, The Beginning of Modern Indonesian Painting".

Raden Saleh antara lain menunjukkan cara melukis batang pohon, dengan sketsa gambar dasar dari pensil dan sketsa yang sudah dibuat bervolume dengan menambahkan bayangan sehingga tampak seperti batang pohon yang sebenarnya.

"Jadi sekolah-sekolah di Jawa tahun 1864 sudah menggunakan buku panduan yang dibuat oleh seniman terbaik Asia Tenggara. Tak ada yang punya kesempatan seperti ini. Dan ini yang membuat seni rupa Indonesia sangat berkembang sampai sekarang," katanya.

Selain itu, pemerintah kolonial Belanda membayar Raden Saleh untuk mendidik beberapa murid di Indonesia, termasuk dua orang Jawa Barat, seorang China dan seorang sepupunya.

Raden Saleh, kata Kraus, membawa pengaruh besar terhadap seniman-seniman Indonesia pada masa itu, termasuk di antaranya RA Kartini dan adiknya, Rukmini.

"Kartini dan adiknya, khususnya Rukmini, banyak menggambar dan membuat lukisan cat minyak. Lukisan cat minyak Kartini masih ada yang dimiliki oleh anggota keluarga kerajaan di Belanda," katanya.

"Tanpa Raden Saleh, mungkin akan sangat sulit untuk mengetahui cara melukis dengan cat minyak di Jawa pada waktu itu," tambah dia.

Semua itu, menurut Kraus, membuat perkembangan seni rupa Indonesia jauh lebih maju dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara yang lain.

"Gambarannya, kalau ada pilihan karya seni rupa modern di Asia Tenggara, 75 persennya pasti berasal dari Indonesia dan sisanya dari negara lain, entah itu Thailand, Filipina atau Malaysia," katanya.

"Seniman Indonesia sangat maju dan saya yakin salah satu alasannya karena Raden Saleh memulainya sangat awal dan sangat sukses," katanya.


Pria Jawa Modern

Tahun 1829, Raden Saleh menjadi orang Jawa pertama yang melakukan perjalanan ke Eropa dan orang Indonesia pertama yang mempelajari gaya lukis Eropa, kata Kraus, pengajar sejarah Indonesia di beberapa universitas Eropa.

Pendiri Departement of Southeast Asian Studies di Passau University itu mengatakan, pencapaian Raden Saleh tidak lepas dari perjalanan dan masa-masa yang dia lalui selama 20 tahun lebih di Eropa.

Eropa menjadi universitas besar bagi pelukis yang menurut Kraus terlahir dari sebuah keluarga ningrat di Semarang, Jawa Tengah, tahun 1811 itu.

Selama berada di Eropa, dia belajar melukis dari seniman-seniman besar Belanda seperti Cornelis Kruseman dan Andreas Schelfhout, pelukis, dan litografer yang dikenal dengan lukisan-lukisan lanskap.

"Dia menghabiskan 10 tahun pertamanya belajar di Belanda, belajar dari dua pelukis terbaik. Kemudian dia pergi ke Dresden, dan menemukan guru yang hebat juga di sana," kata Kraus.

Raden Saleh juga melakukan perjalanan ke Prancis, tinggal selama beberapa tahun, dan mendapat pengaruh aliran romantisme di sana, termasuk dari tokoh penting dalam aliran romantisme Prancis, Ferdinand Victor Eugene Delacroix (1798-1863).

Namun, menurut Kraus, pelukis romantisme Prancis yang paling disukai Raden Saleh adalah Emile Jean Horace Vernet (1789-1863).

"Dia sangat menyukai Vernet dan kadang terpengaruh gayanya. Setidaknya ada satu lukisan Raden Saleh yang merupakan sebuah `quote by Horace Vernet.` Dia tidak menjiplak. Dia melukis dengan caranya sendiri, tapi kalau Anda melihat lukisannya Anda akan tahu bahwa dia pernah melihat lukisan Vernet dan terinspirasi," katanya.

"Dia melihat banyak lukisan dan dia tahu, bisa membedakan lukisan yang bagus dan tidak. Saat dia terinspirasi oleh seseorang, biasanya oleh pelukis besar, bukan pelukis kelas dua atau kelas tiga," katanya.

Pengembaraan Raden Saleh di Eropa, tak hanya membuat dia menguasai teknik melukis baru dan dipercaya menjadi pengajar bagi orang-orang Belanda.

Di Eropa, Raden Saleh menyerap ilmu yang lain pula. Menurut Kraus, Raden Saleh setidaknya menguasai empat bahasa Eropa, yakni Belanda, Jerman, Prancis, dan Inggris. Dia mungkin juga menguasai Bahasa Italia karena pernah tinggal selama setahun di sana.

Raden Saleh juga belajar ilmu alam. Kraus menuturkan, saat pergi ke Yogyakarta tahun 1865, Raden Saleh mengambil fosil, tulang tua, dan mendeskripsikannya secara ilmiah.

"Dia mengambil tulang tua, dan dia tahu apa yang harus dia lakukan. Saya saja tidak akan tahu apa yang harus dilakukan pada tulang semacam itu, dan saya yakin Anda juga tidak akan tahu. Dia menguasai arkeologi dan paleontologi," katanya.

Pelajaran dan pengalaman selama di Eropa membuat Raden Saleh kembali ke Tanah Air sebagai pria Jawa modern pada 1851, seorang yang bahkan lebih terdidik dibandingkan dengan kebanyakan pegawai pemerintah kolonial Belanda kala itu.

Intelektualitas Raden Saleh, antara lain terlihat dari surat-surat yang dia kirim kepada teman-temannya di Jerman. Surat-surat yang untuk pertama kalinya ditemukan oleh Kraus dalam usaha pencarian dokumen di pusat arsip Belanda dan Jerman.

Kraus menyebut Raden Saleh pada masa itu sebagai "seorang seniman Jawa muda brilian yang meninggalkan negaranya untuk bekerja dan pada suatu saat berakhir dengan sebuah makan malam dengan Ratu Victoria."

"Tapi pemerintah kolonial tidak memberikan penghargaan yang pantas karena warna kulitnya. Rasisme ada di dasar masyarakat kolonial," katanya sambil menggelengkan kepala.


Nasionalisme dan filosofi

Kraus mengatakan, selama ini banyak yang mempertanyakan nasionalisme Raden Saleh karena dia banyak menghabiskan waktu di Eropa dan melukis untuk para pejabat dan keluarga kerajaan Belanda.

Dan jawaban dia untuk pertanyaan itu, "Raden Saleh hidup pada abad ke-19, dia hidup 100 tahun lebih awal, bagaimana Anda bisa menjadi nasionalis pada abad itu, saat kata nasionalisme belum ada?"

Yang jelas Raden Saleh adalah penentang kolonialisme. Dia melawan dengan caranya sendiri, melalui surat-surat kepada teman-temannya di Eropa, dan tentu saja lukisan-lukisan dia.

"Lukisannya sangat sering menunjukkan filosofi sejatinya," kata Kraus.

Sikapnya terhadap kolonialisme antara lain tercermin dalam lukisan berjudul "Penangkapan Diponegoro," yang jelas memperlihatkan perlawanan Pangeran Diponegoro kepada pemerintah kolonial Belanda.

Menurut Kraus, surat-surat Raden Saleh kepada teman-temannya di Jerman juga menunjukkan bahwa dia menentang kolonialisme yang telah membuat teman-temannya di Jawa tertindas.

Pandangan Raden Saleh tentang agama pun jelas. Meski lama tinggal dan bergaul dengan orang-orang Eropa yang memiliki akar budaya dan agama yang berbeda, kata Kraus, Raden Saleh tak pernah melepaskan diri dari akar budaya dan agamanya.

"Keluarganya berasal dari Hadramaut di Arab, meski tidak lagi berbicara Bahasa Arab tapi dia ingat bahwa dia seorang Syarif, seorang Said, dan dia bangga dengan itu," katanya.

Raden Saleh yang terlahir sebagai Muslim, kata Kraus, bertekad meninggalkan dunia sebagai Muslim meski kawan-kawan di Eropa sering membujuk dia untuk pindah agama menjadi Kristen.

"Dia bilang, 'Saya terlahir sebagai seorang Muslim, dan saya sangat sangat mencintai kakek saya. Kakek saya sudah meninggal dan berada di surga. Saya ingin bertemu dia di sana, itu mengapa saya tidak ingin mengubah agama saya'," kata Kraus.

Pada kesempatan lain Raden Saleh secara lebih jelas mengatakan alasannya tidak mau pindah agama.

"Anda ingin saya menjadi Kristen, tapi lihat apa yang dilakukan kolonialisme Kristen di negara saya. Saya mungkin akan menjadi Kristen kalau Anda mengubah ras anda, tapi saat ini saya rasa saya tidak ingin menjadi Kristen," kata Kraus mengutip pernyataan Raden Saleh.


Tak pernah terlupakan

Raden Saleh membawa pengaruh besar pada dunia seni rupa di Indonesia. Namanya tak pernah benar-benar terlupakan.

Seratus tahun setelah kelahiran Raden Saleh, organisasi Budi Utomo mengirimkan surat kepada cabang-cabang organisasi di Jawa dan Sumatera agar menyelenggarakan kegiatan untuk memperingati kelahiran sang maestro.

"Waktu itu Raden Saleh sudah dikenal dan salah satu pendiri Budi Utomo adalah ayah pelukis Basuki Abdullah," kata Kraus.

Selanjutnya, tahun 1952, Presiden Soekarno meminta makam Raden Saleh di Bogor diperbaiki. Presiden Soekarno meminta arsitek Frederich Silaban, yang kemudian merancang Masjid Istiqlal di Jakarta, merenovasi makam Raden Saleh yang saat itu kondisinya sangat buruk.

Tanggal 9 September 1953, renovasi selesai dan Presiden Soekarno meresmikan pembukaan Makam Raden Saleh untuk publik dalam sebuah upacara besar.

Ketika itu, Kraus menuturkan, seniman dari Yogyakarta dan Jakarta diangkut menggunakan bus untuk menghadiri upacara peresmian di Bogor yang antara lain dihadiri oleh Muhammad Yamin, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa itu.

Menurut dia, Presiden Soekarno mengakhiri pidatonya dalam upacara itu dengan kalimat: "Bukan karena saya lebih mencintai seni dibandingkan semua hal lain, tapi saya berbicara atas nama rakyat Indonesia, bahwa saya bangga bisa memperingati seorang putra terbaik bangsa ini, Raden Saleh."

"Pada masa itu, Raden Saleh adalah hal besar, yang mungkin kurang diperhatikan pemerintah masa sekarang," kata Kraus tentang sang maestro, yang meninggal dunia di Bogor pada 23 April 1880.

Kraus mengatakan hal itu merujuk pada kurangnya perhatian pemerintah terhadap perawatan dokumen-dokumen dan karya-karya Raden Saleh yang masih tersimpan di Indonesia.

Saat mengunjungi Arsip Nasional, Kraus tidak bisa menemukan satu pun dokumen tentang Raden Saleh untuk melengkapi bahan-bahan yang sudah dia dapat dari arsip di Belanda dan Jerman.

"Mungkin ada bahan di sana tapi sangat sulit memanfaatkannya karena tak ada urutannya. Sepertinya untuk menemukannya kau akan membutuhkan 10 tahun mencarinya diantara debu-debu," katanya.

Lukisan-lukisan Raden Saleh yang seharusnya merupakan warisan sejarah nasional tidak dijaga dengan baik. Bahkan lukisan "Penangkapan Diponegoro" yang merupakan bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa sempat tinggal merana di tempat penyimpanan dan nyaris rusak.

"Ini salah satu lukisan terpenting dalam sejarah Indonesia, dan mereka sama sekali tak peduli," katanya dengan tangan terkepal di atas salah satu meja kayu panjang di GoetheHaus.

Pengabaian itu mungkin tak menghilangkan ingatan tentang kebesaran Raden Saleh, karena sejarah sudah mencatatnya, sejarawan masih mengumpulkan catatan-catatan yang tertinggal tentang dia, dan guru sejarah seni membagi pengetahuan tentang dia.

Sebagian pengelola Rumah Sakit Cikini di Jakarta mungkin mengingat Raden Saleh karena masih menempati bangunan yang menjadi tempat tinggal sang pelukis selama tahun 1875-1885.

Cintya Faliana, seorang siswa kelas tiga Sekolah Menengah Pertama dari Jember, Jawa Timur, mengingat lukisannya tentang badai. Siswa Sekolah Menengah Atas di Tangerang, Giasinta Livia, mengenang sosoknya sebagai seorang diplomat. Dan seorang warga Bogor, Dayan D Layuk Allo, berusaha memahami modernitas dan toleransinya.

Tapi pengabaian itu bisa menghilangkan kesempatan generasi selanjutnya untuk menyaksikan warisan karya-karya agung Sang Maestro.

(M035)



Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga