Selasa, 25 Juli 2017

Indonesia memerlukan strategi kebudayaan hadapi globalisasi

| 9.990 Views
Indonesia memerlukan strategi kebudayaan hadapi globalisasi
Mohammad Jumhur Hidayat (FOTO ANTARA/Ujang Zaelani)
Analog dengan hal ini, maka tidaklah dapat disalahkan apabila suatu otoritas yang lebih tinggi, dalam hal ini negara, menyusun suatu strategi bersama-sama penyedia informasi lainnya untuk memberikan porsi informasi yang tepat kepada masyarakatnya,"
Jakarta (ANTARA News) - Tokoh pergerakan Moh Jumhur Hidayat mengatakan bangsa Indonesia perlu mempersiapkan secara matang strategi kebudayaan menghadapi globalisasi.

"Mempersiapkan strategi kebudayaan bukanlah berarti menutup rapat-rapat dari pengaruh budaya luar, melainkan merencanakan suatu tahapan-tahapan agar jangan sampai yang diserap oleh bangsa kita justru yang menjadi ekses di negara-negara pengekspor budaya tersebut," kata Jumhur saat menyampaikan orasi kebudayaan bertajuk "Membangun Karakter Indonesia Berbasis Sosio-kultural" di Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Minggu.

Menurut Jumhur, globalisasi tidak saja berarti adanya kemudahan pertukaran barang, uang, dan lalu lintas manusia, tetapi juga pertukaran budaya dan gaya hidup.

Berkaitan dengan ini maka bangsa Indonesia harus bisa mempersiapkan diri untuk berinteraksi atau berdialog secara budaya, katanya.

Untuk melakukan ini, kata Jumhur, terlebih dahulu harus mengambil jarak dengan kebudayaan luar karena, apabila tidak, yang terjadi adalah pencaplokan dan penggantian secara bulat-bulat, terlebih lagi budaya luar tersebut telah membangun hegemoni atau dominasinya dalam membentuk kebudayaan dunia.

Dikatakannya, kebebasan memperoleh informasi merupakan hak setiap orang, namun jangan sampai menumbuhkan kegiatan kontraproduktif atau bahkan destruktif bagi masyarakat.

Karena itu, kata dia, bagaimanapun pahitnya, terutama ketika bangsa ini secara umum masih belum matang dan dewasa, maka penyaringan informasi perlu dilakukan.

Kegiatan ini memang terlihat bertentangan dengan kebebasan memperoleh informasi, namun kegiatan ini telah dilakukan oleh para orang tua modern di negara maju terhadap anak-anaknya dengan memberikan pengertian bahkan sampai melarang untuk tidak melihat acara-acara televisi atau membaca buku-buku tertentu, karena dianggap belum waktunya.

"Analog dengan hal ini, maka tidaklah dapat disalahkan apabila suatu otoritas yang lebih tinggi, dalam hal ini negara, menyusun suatu strategi bersama-sama penyedia informasi lainnya untuk memberikan porsi informasi yang tepat kepada masyarakatnya," kata Jumhur.

Sebaliknya, bangsa ini harus menyebarkan seluas-luasnya nilai-nilai sosial budaya luar yang berupa saripatinya seperti nilai-nilai etos kerja keras, pantang menyerah, kreatif, inovatif dan produktif, jujur dan terbuka serta selalu ingin maju.

Nilai-nilai itu haruslah dapat dikemas menjadi sebuah informasi yang menarik sehingga dapat dengan mudah diserap oleh masyarakat.

Apabila hal ini dapat dilakukan, maka identitas sosial budaya keindonesiaan makin sempurna.

"Di satu sisi kita menyerap nilai-nilai luhur budaya daerah dan di sisi lain menyerap nilai-nilai luhur budaya luar. Niscaya akan terus terjadi penyempurnaan identitas sosial budaya yang dapat mendorong Indonesia menjadi bangsa besar dan sejajar dengan bangsa-bangsa maju lain di dunia," katanya.

Dewan Kesenian Jakarta dan Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jakarta mengundang Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat untuk menyampaikan orasi kebudayaan selaku tokoh pergerakan.

Jumhur mengapresiasi penyelenggara dan hadirin acara itu untuk mendengarkan orasi budaya dari seorang bukan budayawan yang hadir tidak sebagai "terdakwa" akibat kasus-kasus TKI seperti selama ini.
(ANT)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga