Kamis, 18 September 2014

Bencana sepanjang 2012

Jumat, 28 Desember 2012 13:39 WIB | 7.571 Views
Bencana sepanjang 2012
Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif (ANTARA/Syafril Adriansyah)
Jakarta (ANTARA News)- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa kejadian bencana selama tahun 2012 lebih sedikit dibandingkan kejadian bencana pada tahun 2010 dan 2011.

Bahkan, berdasarkan catatan BNPB selama tahun 2012, bisa dikatakan tidak ada bencana besar yang melanda Indonesia.

Kepala BNPB Syamsul Maarif menyebutkan selama tahun 2012 ada 730 kejadian bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah di Tanah Air.

"Data sementara kejadian bencana tahun 2012 adalah 730 kejadian. Namun diperkirakan terdapat sekitar 1.200 kejadian jika semua data yang masih terdapat di kementerian-lembaga, BPBD, TNI, Polri dan pemda dapat dikumpulkan serta dilakukan verifikasi," katanya.

Ia juga mengatakan bahwa penurunan kejadian bencana sangat dipengaruhi oleh faktor alam, yaitu cuaca, iklim dan geologi.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh BNPB diketahui bahwa selama tahun 2012 bencana alam telah mengakibatkan sebanyak 487 orang meninggal, 675.798 orang mengungsi/menderita dan 33.847 rumah rusak dimana 7.891 rumah rusak berat, 4.587 rusak sedang, dan 21.369 rusak ringan.

Sekitar 85 persen adalah bencana hidrometeorologi yakni banjir, longsor, kekeringan, puting beliung.

"Dibandingkan dengan rata-rata bencana hidrometeorologi selama 2002 - 2011 yaitu sekitar 80 persen, maka bencana hidrometeorologi mengalami peningkatan," kata Syamsul.

Kejadian bencana terbanyak adalah puting beliung 259 kejadian atau 36 persen, banjir 193 kejadian atau 26 persen dan tanah longsor 138 kejadian atau 19 persen.

"Berdasarkan waktu kejadian, Januari adalah puncak dari kejadian bencana, yang kemudian menurun pada Februari, tetapi Maret hingga April terjadi kenaikan lagi," katanya.

Puting beliung

Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho menambahkan bahwa tren kejadian puting beliung cenderung mengalami peningkatan di setiap tahunnya. Selama 2002 - 2011 meningkat 28 kali lipat.

Ia juga mengatakan, terdapat 404 kabupaten-kota dengan jumlah penduduk 115 juta jiwa tinggal di daerah rawan, sedang hingga tinggi, dari bahaya puting beliung di Indonesia.

Sebaran rawan tinggi puting beliung di sepanjang barat Sumatera, Pantura Jawa, NTT, selatan Sulawesi Selatan.

"Bencana puting beliung menyebar di perkotaan dan pedesaan. Di masa mendatang ancamannya akan makin meningkat seiring meningkatnya pengaruh perubahan iklim global dan antropogenik," katanya.

Dia juga mengatakan, hingga saat ini sistem peringatan dini puting beliung belum tersedia sehingga penyampaikan informasi kepada masyarakat masih terbatas.

"Hal ini disebabkan kecilnya cakupan terjangan puting beliung hanya kurang dari dua kilometer, waktu kejadian kurang dari 10 menit dan tidak semua awan cumulonimbus selalu menimbulkan puting beliung sehingga saat ini BNPB, BMKG, dan BPPT telah melakukan diskusi untuk mencarikan solusi dari ancaman bencana ini," katanya.

Sementara itu , Sutopo juga mengatakan bahwa bencana geologi yaitu gempa bumi, tsunami dan erupsi gunungapi yang bersifat merusak selama tahun 2012 kejadiannya sedikit.

"Selama tahun 2012 terdapat 363 gempa bumi dengan kekuatan 3,6 SR. Sementara gempa besar dengan kekuatan 8,3 SR juga pernah terjadi selama tahun 2012 tetapi tidak merusak karena berada di bagian luar dari daerah pertemuan lempeng dan berada pada dalam yang besar," katanya.

Dia juga menambahkan, terdapat sekitar 11 kejadian gempa merusak yang umumnya di darat dengan korban 17 orang meninggal, 559 orang mengungsi dan 3.615 rumah rusak, dimana 641 rusak berat, 675 rusak sedang, dan 2.299 rusak ringan.

Penanggulangan Bencana

Sutopo mengatakan bahwa selama tahun 2012, upaya penanggulangan bencana sudah cukup banyak dilakukan antara lain pembentukam badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) dimana hingga sekarang sudah terbentuk 33 BPBD provinsi dan 366 BPBD kabupaten-kota.

Selain itu, dari total dana siap pakai (on call) Rp450 miliar sudah didistribusikan sebanyak Rp400 miliar ke lebih dari 75 provinsi dan kabupaten-kota dan Rp50 miliar menjadi dana cadangan hingga Januari 2012.

Selain itu, BNPB juga telah menyusun rencana kontinjensi bencana banjir, longsor, gunung api, gempa dan tsunami serta masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami tahun 2013-2017.

"Sebanyak 30.320 relawan juga telah tersertifikasi untuk membantu proses penanggulangan bencana dan melakukan pelatihan bagi BPBD! TNI, relawan, jurnalis dan lain sebagainya.

Selain itu, tekait dengan pengurangan risiko bencana telah disusun rencana penanggulangan bencana Dan penyusunan peta risiko dan wilayah-wilayah yang rawan bencana.

Kesiagaan masyarakat

Sementara itu, berdasarkan hasil kajian BNPB terhadap kesiapsiagaan masyarakat dan Pemda dalam menghadapi bencana di 33 kabupaten-kota di Indonesia menunjukkan hasil bahwa tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan Pemda di semua daerah masih rendah.

"Indikator pengetahuan bencana telah meningkat tetapi indeks kebijakan, rencana tanggap darurat, sistem peringatan dini dan mobilisasi sumber daya masih rendah," katanya.

Hal tersebut kata dia, menjadi tantangan besar bagi Bangsa Indonesia. Di satu sisi ancaman nirmiliter yaitu bencana yang sangat nyata mengancam kehidupan masyarakat. Bahkan ancamannya menunjukkan tren meningkat. Namun kesiapsiagaan masih rendah. Akibatnya jumlah korban dan kerugian akibat bencana juga berpotensi meningkat di masa mendatang jika tidak ada perubahan yang signifikan.

"Beberapa faktor penyebab adalah terbatasnya anggaran penanggulangan bencana. Secara nasional, Rata-rata setahun terdapat Rp12,5 triliun yang tersebar di 37 kementerian-lembaga untuk penanggulangan bencana," katanya.

Sementara di BNPB hanya terdapat Rp1,34 triliun per tahunnya, sisanya Rp11,16 triliun ada di 36 kementerian-lembaga.

"Kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di seluruh Indonesia memerlukan Rp30 triliun pertahun. Namun ketersediaan dana cadangan penanggulangan bencana Rp4 triliun sehingga pelaksanaan rehablitasi dan rekonstruksi menjadi lama," katanya.

Sementara itu, untuk melakukan antisipasi atau penanggulangan bencana tahun 2013, maka semua kegiatan dilakukan baik untuk kesiapsiagaan dan pencegahan, penanganan darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas BNPB/BPBD.

Selain itu, latihan, gladi, penyusunan peta risiko, penyusunan rencana kontinjensi penguatan Satuan Reaksi Penanggulangan Bencana di wilayah Barat dan Timur, sosialisasi, pendidikan kebencanaan, pengembangan teknologi informasi dan komunikasi dan lainnya.
(W004)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga