Rabu, 1 Oktober 2014

Tahun 2013, tahun politik

Kamis, 3 Januari 2013 16:46 WIB | 4.570 Views
Tahun 2013, tahun politik
(ANTARA/Andika Wahyu)
Jakarta (ANTARA News) - Memasuki 2013, suhu politik agaknya akan semakin panas karena tahun ini adalah tahun politik menjelang Pemilu 2014 di mana partai politik-partai politik akan saling bermanuver.

Mereka diperkirakan akan melakukan konsolidasi internal untuk menghadapi Pemilu 2014.  Politisi di berbagai tingkatan, akan melancarkan manuver untuk menghadapi konsolidasi ini.

"Partai-partai akan mulai melakukan penguatan struktur mulai dari tingkat pusat hingga daerah," kata pakar politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Firman Noor.

Firman menyebut  2013 sebagai tahun konsolidasi internal partai politik untuk menguatkan "mesin politik" partai di berbagai tingkatan sehinggan memiliki pemahaman sama dalam menghadapi Pemilu 2014.

Dia memperkirakan akan terjadi pembersihan pengurus partai yang dinilai tidak sejalan dengan pimpinan partai.

Bahkan itu sudah terjadi belum lama ini pada Partai Demokrat yang mencopot Ruhut Sitompul dari jabatan Ketua DPP, demi menguatkan "mesin perang" dan komando pada tangan ketua umum partai.

Firman meyakini penggantian dan pembersihan pengurus partai "bandel" yang dinilai tidak sejalan dengan pimpinan partai itu tidak hanya akan terjadi pada Partai Demokrat.

"Hal itu juga akan terjadi di partai lain dengan hal-hal endemik yang berbeda. Kemungkinan kader-kader yang tidak sejalan dengan pimpinan partai akan dimarjinalkan atau disingkirkan," katanya.

Oleh karena itu, pada tahun konsolidasi partai 2013 ini akan semakin banyak terjadi perbedaan pendapat dalam internal partai, salah satu yang cukup mencolok terjadi pada Partai Golkar.

Pandangan Akbar


Media massa Indonesia belakangan ramai memberitakan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tanjung yang menyurati DPP partai itu perihal pencalonan Ketua Umum Aburizal Bakrie sebagai bakal calon presiden untuk Pemilu 2014.

Akbar menyebut Juli 2013 sebagai momen tepat untuk mengkaji dan menganalisis elektabilitas Aburizal sebagai calon presiden yang akan diusung partai itu pada 2014.

Bulan itu, kata Akbar, adalah waktu yang tepat karena tepat satu tahun Aburizal dideklarasikan sebagai calon presiden.

Dia berpendapat, bila tren elektabilitas Ketua Umum Partai Golkar itu naik dan dukungan masyarakat meluas, maka tidak perlu ada keraguan lagi untuk mencalonkan Aburizal sebagai presiden. Namun, bila yang terjadi malah sebaliknya, partai perlu memikirkan opsi-opsi yang harus dilakukan demi menindaklanjutinya.

Firman menilai langkah Akbar ini semata sebagai upaya menyelamatkan citra partainya di masyarakat. "Saya melihat Akbar Tandjung berupaya bersikap realistis terhadap pencalonan Aburizal Bakrie pada Pemilihan Presiden 2014," katanya.

Dia menganggap Akbar politisi kawakan Goolkar yang memiliki naluri politik yang tajam.  Akbar menyadari figur Aburizal sulit "dijual" sehingga dia melempaerkan wacana pemikiran langkah-langkah yang perlu dilakukan partainya.

"Pengiriman surat itu dilakukan karena posisi Akbar yang hanya Ketua Dewan Pertimbangan cukup lemah. Dia tidak memiliki tongkat komando lagi di partai," tuturnya.

Namun, Firman memandang upaya Akbar itu tidak akan bisa mengubah keputusan Golkar untuk tetap mengusung Aburizal sebagai calon presiden karena tongkat komando Golkar tetap dipegang Aburizal yang berhasil menanamkan pengaruhnya hingga ke pengurus partai di daerah kendati elektabilitasnya belum terdongkrak.

Membocorkan perahu

Wakil Sekjen Bidang Hukum dan HAM DPP Partai Golkar Ricky Rachmadi berharap perbedaan pendapat antara Akbar dan Aburizal soal pencalonan presiden tidak merusak semangat kader Golkar.

"Perbedaan pendapat tentang pencapresan Aburizal Bakrie jangan sampai merusak sprit dan semangat juang kader Golkar untuk menjadi pemenang," katanya.

Dia mengatakan Partai Golkar hanya mungkin mengusung calon presiden jika menang pada Pemilu 2014 dan sasaran 20 persen suara bukan hal yang mudah karena memerlukan konsentrasi, persatuan tekad dan kerja keras bersama demi memenangkan Pemilu 2014.

Dia menyayangkan pandangan berbeda dari Akbar itu menjadi wacana media massa. "Ini ibarat membocorkan perahu dengan paku, lama-kelamaan air akan merembes masuk perahu, dan menenggelamkan semua penumpangnya," ujarnya.

Ricky  berharap perbedaan pandangan diselesaikan lewat mekanisme internal Golkar. "Ketua Umum Aburizal Bakrie pasti memberikan ruang bagi perbedaan pandangan, tapi tidak menoleransi semua upaya untuk membuat Golkar terpuruk," tuturnya.

Ricky sendiri yakin, Akbar yang pada 1999 menjadi tokoh penyelamat Golkar, tidak menginginkan Golkar kalah pada Pemilu 2014.

"Karena itu, sebaiknya mari kita fokus pada pemenangan Partai Golkar pada Pemilu 2014. Tanpa kemenangan 20 persen tak mungkin presiden dapat lahir dari partai Golkar," kata Ricky.

(D018/A011) 

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2013

Komentar Pembaca
Baca Juga