Gorontalo (ANTARA News) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo Utara, Gorontalo mengimbau masyarakat setempat untuk mewaspadai banjir dan tanah longsor.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gorontalo Utara Roni Bumulo di Gorontalo, Minggu, mengatakan intensitas hujan yang sangat tinggi sejak Sabtu (26/1) malam terjadi di daerah itu.

Pihaknya meningkatkan patroli petugas yang keliling mengantisipasi banjir dan tanah longsor.

Hingga saat ini, di daerah tersebut tercatat 14 lokasi rawan banjir dan 22 rawan tanah longsor di 11 kecamatan. Berbagai lokasi rawan bencana alam itu memerlukan perhatian serius petugas bersama masyarakat, terutama saat hujan cukup deras.

Berbagai lokasi rawan bencana itu cukup jauh dari ibu kota kabupaten setempat.

Ia mengatakan beberapa wilayah rawan banjir, seperti Kecamatan Tolinggula, Biawu, dan Sumalata Timur kesulitan akses komunikasi.

Ia mengaku BPBD harus tanggap memperbaharui informasi dari situasi di setiap desa dan dusun dengan memanfaatkan alat komunikasi radio kontrol di setiap kantor camat, agar petugas bisa sigap menangani bencana.

Ia mencontohkan di Kecamatan Kwandang, Anggrek, Sumalata, Atinggola, Tolinggula, dan Biawu yang rawan banjir dan tanah longsor, pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan dusun, sebab hujan deras terjadi bersama waktunya dengan air laut pasang bisa memicu meluapnya air sungai.

BPBD bersama tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Gorontalo Utara berkoordinasi dengan pemerintah desa, memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya yang bermukim di lokasi rawan bencana untuk mengantisipasi banjir secara tiba-tiba.

Selain itu, masyarakat yang bermukim di bantaran sungai dan perbukitan diminta segera mengungsi jika hujan tidak kunjung reda, khususnya pada malam hari.

Kesigapan pemerintah daerah menghadapi cuaca yang tak menentu, khususnya saat curah hujan sedang tinggi, kata Roni, menjadi prioritas BPBD untuk mengantisipasi bencana.

Pada akhir 2012, beberapa desa di Kecamatan Kwandang terendam banjir, sedangkan pada 1 Januari 2013, sekitar 220 rumah di Kecamatan Atinggola terendam luapan air sungai setempat.

"Padahal sebelumnya wilayah itu tidak pernah dilanda banjir," katanya.

Kondisi tersebut membuat BPBD dan Tagana setempat mengintensifkan pengawasan di daerah rawan bencana. (KR-SSK/M029)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2013