Gorontalo (ANTARA News) - PLN di Gorontalo mengerahkan "pasukan berani mati" untuk mempercepat pekerjaan kerusakan menara tegangan ekstra tinggi yang roboh pada beberapa waktu lalu dibutuhkan waktu dua bulan jika dikerjakan dalam keadaan normal. 

Aliran listrik tegangan ekstra tinggi tidak bisa diputus sementara demi perbaikan. Dengan kata lain, "pasukan berani mati" ini membetulkan jaringan fisik dalam keadaan tegangan listrik ratusan ribu Volt tetap mengalir di kabel-kabel besar itu.

General Manager PT PLN Wilayah Sulawasi Utara, Tengah, dan Gorontalo, Santoso Januwarsono, mengatakan, yang dimaksud "pasukan berani mati" itu adalah  para pekerja Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB).

Mengingat kondisi dalam keadaan darurat maka pihaknya menggenjot waktu kerja sepanjang 24 jam nonstop dengan sistem giliran kerja. "Jumlah mereka secara total 60 orang," kata dia.

"Pasukan berani mati" alias pekerja PDKB berjumlah 16 orang, yang bekerja pada instalasi listrik dengan tegangan sebesar 150.000 Volt. Mereka sudah dilatih mengatasi kerusakan pada instalasi listrik dengan menggunakan alat khusus untuk keamanan dan keselamatan mereka.

"Khusus untuk kerusakan tower ini kita tidak bisa melakukan pekerjaan dengan mematikan aliran tegangan listrik," kata dia. 

(ANTARA)