Rabu, 20 Agustus 2014

"Biochar" mengolah sampah menjadi berkah

Kamis, 21 Februari 2013 12:25 WIB | 3.317 Views
Ibu-ibu di desa Toro, kecamatan Kuliwa, Sulawesi Tengah, sedang membuat arang menjadi briket (4) (Foto Adi Lazuardi)
Jakarta (ANTARA News) - Gaus Rampu, 63 tahun, dan petani lainnya tampak begitu bersemangat mengupas kulit jagung untuk pakan ternak saat panen raya, karena hasil panen jagungnya meningkat empat kali lipat.

"Setelah gunakan arang pertanian (Biochar), hasil panen jagung bisa 9 karung dari tiap 5 are (500 m2) tanah. Sebelumnya, hanya dua karung jagung saja tanpa gunakan biochar," kata Gaus Rampu, salah seorang petani, Ngata Toro, kecamatan Kulawi, Sulawesi Tengah, saat panen raya jagung belum lama ini.

Masyarakat Ngata Toro (Desa Toro), sebuah desa di kawasan hutan lindung atau taman nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah, tengah diperkenalkan Biochar (arang pertanian) oleh UNDP (United Nations Development Programme) untuk meningkatkan budi daya pertanian dan energi alternatif untuk bahan bakar memasak.

Petanidiperkenalkan suatu jenis arang pertanian yang sangat baik untuk peningkatan hasil panen jagung. Arang pertanian yang dibuat dari sampah kulit kakao, tongkol jagung atau sekam (sampah padi).

"Arang pertanian bagus untuk peningkatan hasil panen jagung. Arang dalam tanah dapat mengikat pupuk urea, pupuk kompos dan air - yang sangat dibutuhkan oleh tanaman," kata Konsultan UNDP Heri Tabadepu, yang ikut panen raya jagung di Ngata Toro.

Tujuan UNDP memperkenalkan arang pertanian (biochar) ke masyarakat desa Toro di kawasan hutan lindung Lore Lindu adalah untuk peningkatan produksi panen jagung, memanfaatkan sampah pertanian seperti sampah kulit kakao, tongkol jagung, dan sekam padi untuk diolah menjadi arang pertanian atau briket.

Selain itu, lanjut Heri alumni IPB (institute pertanian Bogor), briket dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak pengganti kayu bakar. "Masyarakat di sini, jadikan kayu bakar dan ranting dari hutan lindung untuk masak. Dengan penggunaan briket sebagai bahan bakar diharapkan penebangan hutan oleh warga desa Toro untuk kayu bakar dapat berkurang," katanya.

Untuk program ini, UNDP membelikan tungku dari bekas drum sebagai sarana membakar sampah kulit kakao, tongkol jagung atau sekam padi untuk dijadikan arang.

"Sebenarnya, para petani tradisional sudah tahu bahwa tanah bekas hutan terbakar sangat subur untuk perkebunan karena tanah tersebut mengandung arang. Makanya banyak petani berpindah yang selalu bakar hutan untuk membuka lahan baru pertanian," jelas Heri.

Sampah Pertanian

Selain bertani padi, masyarakat Ngata Toro juga berkebun kakao. Sulawesi Tengah merupakan daerah produsen kakao terbesar di Indonesia. Dan Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia. Biji kakao adalah bahan untuk membuat cokelat.

Selama ini, sampah kulit kakao menumpuk berserakan di area perkebunan kakao. Akibatnya, sampah kulit kakao yang sudah membusuk menjadi tempat tumbuhnya hama penyakit perkebunan.

"Begitu juga dengan tongkol jagung untuk pakan ternak. Selalu menjadi sampah atau tidak berguna setelah biji jagungnya dikuliti. Ada juga petani selesaikan tumpukan sampah pertanian dengan cara dibakar. Tapi pembakaran itu melepaskan emisi Co2 ke udara yang merusak lapisan ozon kita," kata Heri.

Dari pada tidak berguna, lebih baik sampah kulit kakao, tongkol jagung dan sekam padi diolah untuk dijadikan arang. Arang itu bisa menjadi arang pertanian atau briket sebagai bahan energi untuk memasak.

Masih banyak masyarakat desa Toro yang tinggal di pinggiran taman nasional Lore Lindu menggunakan kayu dan ranting dari hutan untuk memasak. Jika masyarakat sudah bisa produksi briket maka diharapkan pengambilan kayu dari hutan berkurang.

Sekretaris Desa Agie Ruata sangat senang dan mendukung atas program UNDP. "Selain untuk meningkatkan hasil pertanian, arang itu juga dapat menjadi solusi penanganan sampah pertanian. Ada pendapatan tambahan petani jika memproduksi briket dan dijual ke pasar. Hutan pun terlindungi karena masyarakat sudah menggunakan briket untuk memasak, bukan lagi kayu bakar".

Artinya, projek ini membuka mata para petani - yang tadinya menjadi masalah dan sampah ternyata kini menjadi berkah. Sudah banyak rombongan petani desa lain yang belajar, bahkan sudah pesan briket dari petani Desa Toro, katanya.

UNDP pun tengah memikirkan bagaimana caranya agar masyarakat juga bisa memproduksi tungku masak berbahan bakar briket. "Kami akan mengundang produsen tungku briket dari Muntilan, Jawa Tengah, untuk mengajarkan masyarakat Desa Toro," tambah Heri.

Proyek pengenalan biochar oleh UNDP dapat bantuan dana Royal Norwegian Society for Development telah dilakukan di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur, dan akan diteruskan di Lampung dan Kalimantan.

(T.A029/B/Z003) 

Editor: Adi Lazuardi

COPYRIGHT © 2013

Komentar Pembaca