Selasa, 29 Juli 2014

Pengusaha telur asin kesulitan bahan baku

Rabu, 6 Maret 2013 21:18 WIB | 3.348 Views
Pengusaha telur asin kesulitan bahan baku
Ilustrasi. Telur asin. (ANTARA/Jafkhairi)
Garut (ANTARA News) - Pengusaha telur asin di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan baku telur bebek atau itik dari peternak lokal Garut.

"Sekarang telur bebek jarang di Garut karena banyak bebek yang katanya mati, sehingga hanya menghasilkan telur sedikit," kata Ihsan Nasir (30) pengusaha telur asin di Kampung Copong, Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut Kota, Rabu.

Ia mengatakan sebelum awal tahun 2013 mampu memproduksi telur asin antara tiga ribu hingga sepuluh ribu butir telur dalam satu kali produksi.

Ketika kesulitan bahan baku, Ihsan mengaku hanya mampu memproduksi seribu hingga tiga ribu butir telur setiap kali produksi atau dalam sebulan hanya mampu menghasilkan kurang dari sembilan ribu butir telur asin.

Kelangkaan telur bebek itu kata Ihsan, menyebabkan harga jual dari peternak naik, semula hanya Rp1500 per butir menjadi Rp1800 per butir telur.

"Saya juga terpaksa menaikan harga telur asin dari Rp2.300 menjadi Rp2.500 untuk mengimbangi harga beli bahan baku," katanya.

Ia mengatakan, biasanya mendapatkan telur bebek dari peternak asal daerah selatan Garut Pameungpeuk dan Wanaraja.

Namun pemasok lokal telur bebek itu, kata Ihsan tidak mampu memenuhi permintaan jumlah telur yang dibutuhkan, sehingga harus mendatangkan telur bebek dari luar Garut seperti dari Kabupaten Karawang.

"Kalau di Garut tidak ada, ya saya minta dikirim telur dari daerah lain seperti dari Karawang," kata Ihsan.

Sementara itu, Ihsan mengaku masih beruntung kenaikan dan kelangkaan telur bebek itu tidak dibarengi dengan kenaikan harga garam dan abu gosok untuk proses pembalutan telur menjadi asin.

Sedangkan minat masyarakat membeli telur asin, kata Ihsan masih stabil tidak mengalami penurunan meskipun harga jual per butirnya naik. "Permintaan stabil, tidak berkurang, meski harga dari saya naik jadi Rp2500," katanya.

(KR-FPM/Y003)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © 2013

Komentar Pembaca
Baca Juga