Jakarta (ANTARA News) - Jumat lalu (15/3) matahari meletupkan partikel-partikel radiasi korona ke arah Bumi. Imbas dari peningkatan aktivitas itu adalah gangguan pada kinerja perangkat dan sistem elektronika di Bumi dan satelit yang mengorbit.

Badan Antariksa dan Aeronautika Nasional (NASA) mengungkapkan, melalui laman resminya, www.nasa.gov,
"Matahari telah meletupkan partikel radiasi korona (CME) ke arah bumi dan dampaknya dapat dirasakan pada satu atau tiga hari setelah kejadian tersebut."

Pengamatan dari Badan Pengawas Urusan Terestrial Surya (STEREO) dan Badan Pengawas Heliosfer dan Surya dari NASA menjelaskan kecepatan letupan partikel-partikel itu mencapai sekitar 1.448 kilometer perdetik alias 5.212.800 kilometer perjam!.

"Merunut kepada sejarah, letupan radiasi matahari dengan kecepatan secepat itu telah menyebabkan dampak menengah hingga berat kepada Bumi," jelas laman NASA.

Selain itu NASA juga telah memberi peringatan kepada operator pesawat antariksa Spitzer dan Messenger, gelombang radiasi badai matahari akan melalui kedua fasilitas tersebut.

"Kejadian tersebut hanya berdampak minor kepada pesawat antariksa dan perlu diperhatikan oleh operator pesawat karena partikel surya bisa menganggu peralatan elektronik dalam komputer," jelas laman NASA.

Badai radiasi korona yang langsung mengarah ke bumi dapat menyebabkan fenomena cuaca antariksa seperti badai geomagnetis ketika hal itu bergesekan dengan selubung magnet bumi, magnetosfer, selama beberapa saat.

Badai radiasi korona adalah fenomena di bintang matahari yang dapat melepaskan partikel tenaga surya ke ruang angkasa.

(B019)