Sabtu, 1 November 2014

Kenaikan BBM sebaiknya satu harga

| 3.036 Views
id bbm, harga bbm, kenaikan bbm, bbm bersubsidi, solar, solar bersubsidi, pertamina. ekonom, Elfindri
Kenaikan BBM sebaiknya satu harga
ilustrasi Persiapan Kenaikan BBM, Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), BBM Subsidi Petugas memperkenalkan papan petunjuk saat ujicoba penerapan kebijakan subsidi dua harga di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Cikini, Jakarta, Jumat (26/4). (FOTO ANTARA/Dhoni Setiawan)
Yang praktis kenaikan harga BBM bersubsidi satu harga saja, sebab akan mudah dilaksanakan dan akan besar pula dampaknya terhadap pengurangan defisit anggaran,"
Pekanbaru (ANTARA News - Pakar ekonomi dari Universitas Andalas Riau  Prof, Dr, Elfindri menyarankan pemerintah untuk segera menetapkan kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi satu harga saja.

"Yang praktis kenaikan harga BBM bersubsidi satu harga saja, sebab akan mudah dilaksanakan dan akan besar pula dampaknya terhadap pengurangan defisit anggaran," katanya dihubungi dari Pekanbaru, Minggu.

Ia menanggapi itu terkait adanya pernyataan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya yang memastikan seluruh SPBU Pertamina sudah siap untuk melaksanakan dua harga bahan bakar minyak bersubsidi. Dan menurut Hanung semua persiapan tersebut telah rampung sejak Jumat, 26 April 2013.

Menurut guru besar Unand yang menelaah bidang studi ekonomi sumber daya manusia, ekonomi kesehatan serta ekonomi pendidikan itu, sebaliknya kebijakan dua harga justru akan masih mengakibatkan kelompok berkendaraan umum dan bermotor akan diuntungkan dalam pemilu.

Diuntungkan dalam Pemilu maskudnya, tak lain kebijakan itu hanya untuk menarik simpati masyarakat saja kalau mereka tetap menerima subsidi atas kebaikan pemerintah.

"Namun demikian, inflasinya juga akan tetap sama besar dan kompensasi yang diberikan juga demikian," katanya.

Ia memandang bahwa kenaikan harga BBM bisa menaikkan indeks harga umum dan dengan demikian pemerintah berupaya melakukan kompensasi untuk keluarga miskin.

Untuk program kompensasi bagi keluarga miskin tersebut, katanya, jauh lebih baik jika dibandingkan digunakan untuk program `food for work` atau `cash for work`.

"Kedua program trersebut adalah program yang mendorong orang bekerja, mislanya membersihkan bandar selokan, mengerjakan sawah, empang, mencat fasilitas publik kemudian diberi kompensasi upah kerja," katanya.(*)




Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar Pembaca
Baca Juga